Kontroversi seputar prostitusi online yang melibatkan artis dan model nampaknya akan terus berlanjut dengan upaya media “mengupas” siapa sosok sang “pelanggan” artis tersebut. Perkembangan ini tentuya bisa dimaknai positif, terkhusus jika mencermati sejumlah pihak termasuk kalangan aktivis dan akademisi yangmelontarkan kritik keras pada media dalam menyoroti kasus prostitusi online artis ini yang dinilai berat sebelah, dimana hanya menonjolkan siapa artis dan model yang terlibat sementara dari sisi “pengguna” tidak diungkap sama sekali siapa sosoknya.

Entah karena kritik yang dilancarkan sejumlah pihak tersebut atau karena alasan lain, terlihat upaya media untuk menggambil angle yang sebelumnya dikatakan banyak pihak terlupakan tersebut. Dalam waktu yang tidak cukup lama kita disuguhi oleh munculnya inisal R –bahkan dalam sejumlah media disebut nama terangnya yakni Rian atau Rianto (Tribunnews: 2019; JPNN: 2019). Sebagaimana dilansir media, dengan menukil keterangan dari pihak kepolisian sang “pelanggan" berinisial R tersebut adalah seorang pengusaha lokal, dan secara spesifik disebut-sebut merupakan pengusaha tambang di Lumajang (Tempo: 2019; CNNIndonesia: 2019).

Kontan saja pemberitaan media tersebut menimbulkan kontroversi lebih luas di tengah publik. Bupati Lumajang sampai angkat bicara dengan menyatakan tidak ada pengusaha tambang berinisial R atau Rianto di wilayahnya (Republika: 2019). 

Terlepas dari validitas pernyataan sang Bupati -yang notabene informasinya didapatkan setelah bertanya kepada par apengusaha pasir yang memiliki izin usaha di wilayah Lumajang-, reaksi penyangkalan tersebut bisa dipahami karena tentu sang bupati tidak ingin wilayah dan pemerintahannya “tercoreng” gara-gara dianggap memiliki keterkaitan dengan pengusaha semacam itu.

Tulisan ini tidak ingin masuk lebih mendalam soal siapa jati diri R karena informasi yang beredar tentangnya masih minim tetapi yang menarik untuk dibahas lebih lanjut adalah latar belakang R yang dikatakan berprofesi sebagai pengusaha tambang dan lebih spesifik lagi lokasinya di lumajang (Tempo: 2019).

Eksistensi Pertambangan hingga detik ini memang masih menyisakan berbagai “catatan hitam” berkaitan dengan masalah lingkungan dan relasi dengan warga sekitar. Khusus mengenai tambang lumajang, mungkin kita semua teringat nama Salim Kancil, sosok petani yang menjadi ikon penentangan terhadap aktivitas pertambangan di wilayah Lumajang. 

Salim Kancil sendiri mesti menghembuskan nafas terakhirnya di tangan para penganiaya akibat sikap vokalnya yang menolak tambang di kawasan tersebut. Kematian Kancil sendiri hingga hari ini justru menambah ketenaran dirinya sebagai ikon perlawanan. Sejumlah acara peringatan misalnya digelar warga untuk memperingati ketokohan sang SalimKancil (Tempo:2016).

Tidak hanya di Lumajang. Di berbagai wilayah lain pertambangan juga menimbulkan efek yang negatif bagi warga lokal maupun lingkungan. Kalangan muda Nahdlatul Ulama misalnya sampai mengorganisasi diri menjadi satu front perlawanan yang dikenal dengan nama FNKSDA (Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam) karena didorong oleh kegeraman mereka melihat aktivitas ekstraktif yang anti kemanusiaan (merugikan warga lokal) dan anti lingkungan.

Realitas tersebut meunjukkan “sisi gelap” tambangyang hingga hari ini masih sangat bercorak eksploitatif, baik kepada alam maupun pada manusia. Alam dan manusia hanya dipandang sebagai obyek semata dan bukan realitas yang harus dihormati atau dilestarikan. 

Bagi aktivitas pertambangan yang terpenting adalah profit, tidak peduli realitas disekelilingnya. Jika ada manusia yang mengalangi hasrat akumulasi kapital itu -semacam Salim Kancil misalnya- dengan mudah ia disingkirkan layaknya seorang menebang pohon yang dianggap menghalangi masuknya sinar matahari ke rumahnya tanpa adanya beban sama sekali.

Jika aktivitas tambang masih dibangun atas paradigma ekspoitatif dan anti dialog semacam ini tidak mengherankan ketika ditemukan adanya keterkaitan erat antara pengusaha tambang dengan ranahp rostitusi artis. Artis –dan wanita pada umumnya- diposisikan layaknya benda yang dapat diekspoitasi begitu saja untuk memuaskan “hasrat” sang aktor (dalam hal ini pengusaha tambang). 

Bedanya mungkin bahwa benda tambang diekspoitasi untuk  mengakumulasi kapital ekonomi sementara ekspoitasi tubuh artis untuk mengakumulasi kapital simbolik berupa pengakuan dan kepuasan (lihat selengkapnya logika ini pada artikel saya sebelumnya di Qureta).

Telebih menurut lansiran media sang pengusaha sendiri mengaku bahwa alasan ia rela membayar 80 juta untuk “berkencan” dengan sang artis adalah karena ia mengidolakan sang artis sejak lama (Tribunnews:2019). Dengan kata lain sebagaimana dalam lirik Projectpop, dimana digambarkan sosok artis F4 (Meteor Garden) yang menjadi pujaan bagi seorang personil Project pop dalam lagu tersebut (Ia digambarkan sebagai orang biasa bukan artis).

Tentu saja posisi F4 begitu “tinggi” sehingga “mustahil” diraih oleh “orang biasa” semacam anggota Project Pop dalam lagu tersebut. Solusi yang bisa dilakukan “orang biasa”  tersebut hanyalah “bermimpi” saja tentang sang artis.

Ketika sang pengusaha yang telah lama mengidolakan sang artis ternyata dapat “membuktikan diri” menerjang “kemustalihan” tersebut dengan cara "berkencan" dengannya, maka secara otomatis dirinya memperoleh kepuasan dan pengakuan tersendiri –misal di kalangan teman-temannya- bahwa dirinya bukan lagi “orang biasa” (terjadi akumulasi kapital simbolik).

Di sini jelas sang artis diposisikan sebagai “alat” untuk memuaskan hasratnya tersebut. Posisi sang artis menjadi “sama” dengan barang tambang yakni semata-mata sebagai sarana “pemuas” hasrat sang pengusaha. 

Sebagian kalangan eko-feminisme sebenarnya sudah lama menggarisbawahi logika eksploitatif yang relatif sama menimpa perempuan dan alam. Dimana dalam kerangka pikir kaum eko-feminis, alam dan perempuan diposisikan sama-sama “pasif” dan berhak untuk diekspoitasi. Pandangan ini mungkin ada benarnya walaupun dalam derajat tertentu sebenarnya kurang komprehensif karena sejatinya tidak hanya perempuan saja yang jadi korban tetapi juga laki-laki seperti Salim Kancil.

Namun ide besar yang dikemukakan kalangan eko-feminsime tentang ekspansi logika ekspoitasi terhadap the other (liyan/yang lain) tidak hanya di satu ranah saja (ekspoitasi pada alam) tetapi juga merambah ke ranah lain (ekspoitasi pada sesama manusia) nampaknya memiliki kebenaran tersendiri jika mengacu pada kasus prostitusi online artis tersebut.