Amburadul. Ya, kira-kira itulah kata yang tepat untuk menggambarkan penginformasian dini bencana di Indonesia.

Bukan tanpa alasan saya menyebut demikian. Kita bisa melihat buktinya di kejadian tsunami Selat Sunda yang menerjang kawasan pesisir Banten dan Lampung Selatan, Sabtu 22 Desember 2018 malam.

Di kejadian itu, baru belakangan kita mengetahuinya sebagai gelombang tsunami. Awalnya kita diinformasikan oleh pihak berwenang, kejadian itu hanya fenomena biasa berupa gelombang pasang.

Gelombang tsunami yang menerjang kawasan itu sejatinya terjadi sekitar pukul 21.30 WIB. Namun, jagat media sosial baru heboh sekitar pukul 22.30 WIB.

Tak sedikit warganet yang bertanya-tanya. Termasuk saya, yang saat itu langsung membuka akun media sosial Twitter. Tagar Pantai Anyer dan Carita pun langsung jadi trending topic. Apa yang sebenarnya terjadi?

Akun media sosial resmi Badan Meteorolgi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) @infoBMKG langsung saya cek. Maklum, dalam setiap rilisnya, BMKG selalu merekomendasikan akun media sosialnya untuk diikuti.

Saat melihat akun itu, saya sedikit bernafas lega, pasalnya disebut bahwa kejadian di pesisisr Banten dan Lampung Selatan hanya gelombang pasang.

"BMKG tidak mencatat adanya gempa yang menyebabkan tsunami malam ini. Yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan tsunami, melainkan gelombang air laut pasang. Terlebih malam ini ada fenomena bulan purnama yang menyebabkan air laut pasang tinggi. Tetap tenang," tulis @infoBMKG, Sabtu malam.

Cuitan itulah yang pertama kali dipublikasikan oleh BMKG. Tak ketinggalan, di akhir cuitan itu, disematkan pula emoji wajah manusia dengan kacamata. Entah apa maksudnya.

Sontak saja, cuitan itu langsung menjawab rasa penasaran warganet. Unggahan di Twitter itu langsung dibalas dan di-retweet oleh banyak orang. Jawaban itu pasti langsung menyebar.

Setelah mendapatkan informasi dari akun media sosial resmi BMKG, saya mendapati hal yang berbeda saat membuka portal berita online.

Portal berita online yang saat itu saya buka adalah Kumparan. Kumparan jadi yang paling cepat memberitakan. Sekitar pukul 22.21 WIB portal itu sudah memberitakan bahwa Anyer dan Lampung selatan diterjang tsunami.

Di dalam teks beritanya, disebutkan bahwa penulis berita Kumparan itu berada langsung melihat kejadian. Gelombang tsunami itu disebut memporakporandakan hotel dan mobil di Pantai Anyer.

Selang beberapa menit kemudian, akun Instagram Kumparan juga mengunggah soal breaking news tsunami Anyer & Lampung Selatan.

Sayangnya, lantaran warganet sudah percaya informasi dari media sosial resmi BMKG, unggahan Instagram Kumparan itu langsung dihujani hujatan warganet.

"Berita hoaks. Media hoaks. BMKG bilang itu gelombang pasang," tulis seorang warganet di kolom komentar Instagram Kumparan.

Mendapatkan dua informasi yang berbeda, saya langsung coba untuk memverifikasinya lagi. Kali ini saya memutuskan untuk memeriksa akun Twitter Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho @Sutopo_PN.

Senada dengan BMKG, Sutopo menyebut kejadian di Anyer hanya gelombang pasang.Bahkan, dia mengimbau agar masyarakat tak perlu mengungsi ke bukit yang lebih tinggi.

"Masyarakat diimbau tidak perlu evakuasi ke perbukitan. Tidak ada gempa yang membangkitkan tsunami. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak memicu tsunami. Hanya gelombang laut pasang masuk di daratan. Jangan melakukan aktivitas di pantai untuk sementara ini. Tetap tenang," tulis Sutopo Purwo Nugroho di akun Twitter-nya, Sabtu.

Dari informasi yang dibagikan BMKG dan Humas BNPB itu, saya hampir sepenuhnya percaya bahwa kejadian di Pantai Anyer dan Lampung Selatan adalah gelombang pasang biasa.

Selang beberapa jam, sekitar pukul 03.00 WIB keesokan harinya Minggu 23 Desember 2018, berita konferensi pers dari BMKG terbit di media-media online.

Saat saya membaca Tribunnews, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. Betapa kagetnya saat membaca pernyataan resmi BMKG: gelombang tinggi yang menerjang pesisir Banten dan Lampung Selatan diduga adalah tsunami.

BMKG menduga tsunami dipicu longsoran tebing atau lereng yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Setelah dianalisis lebih lanjut gelombang itu (diduga) merupakan gelombang tsunami. Besok kita akan upayakan lagi untuk mengecek," kata Dwikorita dikutip dari Tribunnews.

Pernyataan Dwikorita tentu saja bertolakbelakang dengan informasi yang sebelumnya dibagikan oleh @infoBMKG. Bahkan, informasi itu bertolak belakang dengan informasi yang dibagikan @Sutopo_PN.

Sekitar pukul 03.30 WIB Minggu, saya kembali membuka akun twitter resmi BMKG. Aneh bin ajaib, unggahan sebelumnya yang menyebut kejadian di Pantai Anyer dan Lampung Selatan sudah hilang, dihapus.

Saya hanya menemukan cuitan teranyar BMKG soal Pantai Anyer dan Lampung Selatan. Kini, BMKG menyebut gelombang tinggi itu sebagai tsunami.

"Gelombang pasang di Anyer dan sekitarnya memang bukan tsunami karena aktivitas gempa tektonik. Namun hal tersebut diduga tsunami akibat aktivitas gunung Anak Krakatau, setelah mendapat data dari Badan Geologi. #BMKG akan melakukan verifikasi lanjutan mengenai fenomena ini," tulisnya.

Berdasarkan pada fakta-fakta yang saya tulis di atas, maka saya menduga ada yang kurang tepat dalam cara kerja penginformasian dini bencana di Indonesia.

Entah itu kurang tepat dalam hal koordinasi antar lembaga terkait, ataupun dalam hal verifikasi, yang jelas hal tersebut harus dibenahi. Mengapa? Karena informasi akurat soal bencana yang disampaikan sedini mungkin adalah hal yang sangat penting bagi masyarakat, terutama untuk masyarakat yang berpotensi terdampak bencana.

Misalnya, saat peringatan dini diberikan secara cepat dan akurat, bukan tidak mungkin masyarakat punya waktu untuk pergi ke tempat yang lebih aman. Jika punya waktu, masyarakat yang masih bertahan bisa mengungsi ke tempat yang potensi terdampak bencana susulannya, setidaknya lebih kecil.

Dalam kasus tsunami yang dipicu oleh gempa tektonik misalnya, masyarakat punya selisih waktu sekitar 30 menit untuk penyelamatan ke dataran yang lebih tinggi. Waktu itu dihitung dari gempa yang berpotensi tsunami muncul.

Waktu singkat itu bisa sangat berguna, jika informasi atau peringatan dini mengenai bencana bisa tersampaikan dengan baik, dalam artian cepat dan akurat.

Tak dapat dipungkiri lagi, media sosial saat ini juga dijadikan rujukan oleh sejumlah orang. Saat kabar bencana datang, warganet pasti akan mencari tahu informasinya ke akun media sosial resmi lembaga terkait yang berwenang.

Saya tekankan, dalam kejadian tsunami Selat Sunda yang menerjang pesisir Banten dan Lampung Selatan, informasi awal dari lembaga berwenang seperti 'segera kembali ke rumah', 'fenomena gelombang pasang', bahkan diakhiri emoji, bisa berakibat fatal.

Saat membaca informasi itu, bukan tidak mungkin warga, terutama yang berpotensi terdampak bencana, tidak melakukan tindakan apapun saat menghadapi ancaman bahaya.

Penginformasian dini bencana di Indonesia, memang masih amburadul!