Partai politik peserta pemilu memang memiliki cara tersendiri dalam memainkan opini publik. Salah satunya adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mahir menciptakan isu juga mampu menggoreng isu dengan baik. Itulah gaya PSI yang hampir meninggalkan banyak parpol dalam pemanfaatan media.

Kali ini, Tsamara Amany melalui media daring mengatakan bahwa PSI memberikan penghargaan kebohongan atau Lie Award. Anugerah ini diberikan kepada tiga orang sekaligus, yaitu Prabowo Subianto, Sandi Uno, dan Andi Arief. 

Luar biasa. PSI berani mengambil dan menggoreng isu Lie Award atau Anugerah Kebohongan. Sebuah pilihan konten politik yang menarik. Tentu saja, pilihan ini akan dimakan publik. Sehingga pembicaraan atas isu anugerah kebohongan menjadi topik baru untuk diperdebatkan.

Permainan Kata

Jika kita membaca kata award kebohongan, mungkin kurang tepat, karena kata yang pas adalah penghargaan atau anugerah kebohongan. Jika menggunakan bahasa Inggris, mungkin lebih tepat Lie Award. Baiklah, kita anggap saja PSI sengaja bermain dengan kata-kata. Sebelum membahas kebijakan politik PSI, kita harus mengurai kata demi kata.

Pertama adalah kata penghargaan. Untuk mengetahui makna kata itu, kita bisa meminta bantuan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kali ini, kita melihat pengertian penghargaan dari kbbi daring.

Menurut kbbi, penghargaan adalah perbuatan menghargai, penghormatan, dengan contoh kalimat terimalah ini sebagai tanda penghargaan kami kepada tuan. Dengan kata lain, penghargaan adalah kata yang baik atau positif. Penghargaan adalah pilihan kata untuk menghormati suatu keberhasilan atau kesuksesan seseorang.

Sedangkan kebohongan menurut kbbi daring berarti perihal bohong, sesuatu yang bohong, misalnya dipahami dengan kalimat suatu ketika akan ketahuan juga. Jika kita menelisik inti kata kebohongan yakni bohong, maka, menurut kbbi, bohong adalah tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya atau dusta. 

Arti lain dari bohong adalah cakapan yang bukan sebenarnya atau palsu. Kebohongan atau bohong adalah kata negatif. Bernada kurang baik dan peruntukannya, memberikan kesan bersalah pada objek penerima kata bohong.

Lalu, apakah kata positif dan negatif bisa disatukan menjadi satu kata seperti pilihan kata penghargaan kebohongan? Atau jika kita menggunakan kata kerja, akan tercipta kata menghargai kebohongan atau menghormati sesuatu yang bohong/palsu. Tentu saja aneh. Pilihan kata penghargaan kebohongan dari niatan pemberi bukan menghormati/menghargai kebohongan yang disampaikan. Kata penghargaan kebohongan adalah pilihan kata untuk menyindir/cemooh atau kata satire.

Dengan demikian, kita bisa mengemukakan pandapat bahwa PSI bukan sengaja memberikan penghargaan kepada penerima anugerah. Akan tetapi, PSI terlihat sengaja mengejek atau menghina Prabowo, Sandi, dan Andi Arief. Sehingga bukan penghargaan atas prestasi, tapi ejekan lebih berkelas dengan menggunakan kata award. Apakah permainan kata ini diperbolehkan? Selama ada bukti yang membantah, itu sah-sah saja dalam politik.

Niccolo Machievelli melalui karyanya The Prince telah mengajarkan bahwa apa pun diperbolehkan dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Bahkan, muncul bisik-bisik politik bahwa karya fenomenal Machievelli menjadi dalih kediktatoran dalam kepemimpinan. 

Oleh sebab itu, serangan PSI terhadap aktor-aktor politik adalah wajar. Namanya saja politik, apalagi dinamika politik di Indonesia yang bersangkutpaut dengan media massa dan online. PSI selalu mahir menggunakan kata-kata dalam meningkatkan perhatian publik pada partai baru pimpinan Grace Natalie ini.

Baca Juga: Fenomena PSI

Memainkan Opini Publik

Dalam permainan mengganggu opini publik, penciptaan isu menjadi salah satu kepentingan parpol. Untuk hal ini, PSI sangat mampu dan mumpuni. Mulai dengan tagar parpol anak muda, rekrutmen politik terbuka dengan mekanisme seleksi, dan permainan memasang wajah menarik yang pandai mengolah kata di televisi. Pas dan mantap.

Akan tetapi, menggunakan kata award kebohongan bisa menjadi masalah. Potensi serangan balik tidak bisa terhindarkan. Misalnya, apa kriteria award kebohongan? Siapa jurinya? Bagaimana mekanisme pemberian award? Dan apa dasar PSI memeriahkan jagat media sosial dengan award kebohongannya? Semua harus bisa dijelaskan.

Akan tetapi, namanya strategi politik, PSI tentu tidak perlu menjelaskan secara detial dan rinci. Cukup menyampaikan gambaran umum, media dan publik menangkap umpan PSI. 

Kemudian, tidak perlu analisis mendalam. Isu ini kembali membawa nama PSI sebagai parpol paling sering dibicarakan. Bahkan mengalahkan parpol lain dalam pembuatan isu dan obrolan pengamat. Karena itulah target PSI, selalu dan berkelanjutan dalam pembicaraan media.

Anehnya, semua pihak seakan tersihir oleh permainan PSI. Beberapa waktu lalu, isu poligami telah membawa PSI ke pembicaraan publik. Sekarang, award kebohongan. Esok? Entah apa lagi permainan kata-kata dari PSI. Pastinya, akan selalu ada kata yang menjadi viral yang mengundang diskusi dan perdebatan. Jadi, peritiwa politik pasca isu award kebohongan, PSI selalu memetik untung maksimal.

Oleh sebab itu, politik tidak mengenal kata salah. Semuanya harus menguntungkan. Kalau tidak hati-hati dalam mengumbar isu, lawan politik akan melahap semua isu. Sehingga, nasihat orang tua patut dipertimbangkan sebelum melempar opini ke publik. Lidahmu adalah harimaumu. Atau lidahmu bagaikan pedang bermata dua. Sekali keluar, serangan balik bisa membunuh politisi. Jangan mau mati berkali-kali dalam politik.