Sudah pantaskah kita menjadi seorang terdidik? Pertanyaan itu sekilas menjadi cambuk kepada orang terpelajar di muka bumi bahwa ternyata banyak yang melakukan ketidakadilan adalah orang-orang yang mengenyam pendidikan cukup, bahkan lebih. Seperti halnya pejabat korupsi, guru mencabuli muridnya, pemimpin daerah pesta narkoba, dan sejenis lainnya. Mereka semua sudah tidak diragukan lagi menyandang gelar sarjana –orang terdidik.

Sesuatu yang lebih menjadi masalah bersama adalah pandangan terhadap hal seperti itu menjadi kesalahan yang lumrah. Tidak ada ekspresi terkejut menjatuhkan gelas atau teriakan yang berarti dalam masyarakat saat mendengar kejadian yang serupa terjadi.

Kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang terdidik, oleh masyarakat kita dijadikan sebagai acuan melakukan kesalahan bahwa, ‘orang pintar saja melakukan ketidakadlian, bagaimana dengan kita yang setiap hari hanya mengayuh becak dan bergelut dengan terik matahari memarkirkan motor ke sana kemari mengais rejeki demi sesuap nasi?’ ungkap tukang parkir di pasar.

Hal itu lantas menjadi kaburnya batasan nilai tentang baik dan buruk. Bagaimana nasib moral yang notabenenya sebagai modal dalam pendidikan berkarakter saat ini?

Pembahasan ini lantas menjadi renungan bersama, antara kesalahan-–atau mungkin kebodohan---yang dilakukan oleh orang terdidik dengan reaksi masyarakat yang menganggap hal itu sebagai ‘kelumrahan’.

Manusia dibedakan dengan makhluk yang karena manusia berpikir. Namun, berpikir juga bukan hanya terbatas pada berpikir saja. Daniel Goleman membagi jenis pikiran kita menjadi dua. Pikiran rasional dan pikiran emosional.

Kedua pikiran tersebut berkolaborasi dan pada akhirnya membentuk tindakan. Tindakan itu menjadi ciri yang dinilai oleh masyarakat dan membuahkan label, seperti pencuri, koruptor, pemalas, ustadz, dermawan, penjudi, pemabuk, pemarah, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Berita tentang korupsi yang dilakukan oleh elite politik, pencabulan yang dilakukan oleh guru dan para pemimpin yang terjerat narkoba adalah adanya ketidakpaduan antara pikiran rasional dan pikiran emosional.

Orang terdidik yang sudah mengenyam jenjang pendidikan selama bertahun-tahun, dengan ilmu pengetahuan yang banyak diperolehnya nyatanya tidak dapat membendung tindakan yang secara rasional itu menyimpang dengan ilmu yang sudah diperolehnya. Seperti halnya seorang guru yang mencabuli muridnya, itu jelas tindakan yang sangat menyimpang dengan ajaran apapun, dan saya yakin guru tersebut tidak mengajarkannya kepada murid-muridnya di kelas.

Pada ranah pejabat publik, contohnya pemimpin daerah yang terlibat dalam pesta narkoba. Jelas-jelas dia sebagai pemimpin daerah, juga tidak mungkin menyosialisasikan kepada rakyatnya untuk bersama-sama menggunakan narkoba bukan? Semua hal itu adalah wujud tindakan yang dipengaruhi oleh pikiran rasional dan pikiran emosional.

Secara biologis, pikiran itu dapat dijelaskan lebih jelas. Daniel Goleman menjelaskan bahwa dua jenis pikiran itu mempunyai pusat-pusat sendiri di dalam struktur otak. Neokorteks adalah pusat yang memegang kendali pikiran rasional, sedangkan emosional dikendalikan oleh amigdala.

Pernahkah Anda melihat seorang Ibu yang tidak bisa berenang, lalu berani melompat ke sungai lantaran anaknya tenggelam? Atau mungkin hal yang serupa dengan itu, pernah? Lantas mengapa Ibu itu berani berbuat demikian? Apa yang mendorongnya? Jawabannya adalah amigdala yang menyerobot membuat keputusan sebelum neokorteks memahaminya secara jernih.

Dalam proses menerima informasi, pertama-tama sinyal visual dikirim dari retina ke bagian talamus. Nah, talamus ini yang bertugas menerjemahkan sinyal itu ke dalam bahasa otak. Sebagian besar pesan itu kemudian dikirim ke neokorteks yang menganalisis dan menentukan makna dan respons yang cocok; jika respon bersifat emosional, suatu sinyal dikirim ke amigdala untuk mengaktifkan pusat emosi.

Tetapi, sebagian kecil sinyal asli langsung menuju amigdala dari talamus dengan transmisi yang lebih cepat, sehingga memungkinkan adanya respon yang lebih cepat (meski kurang akurat).

Jadi, amigdala dapat memicu suatu respons emosional sebelum neokorteks memahami betul apa yang terjadi. Dalam bahasa jawa kita kenal dengan istilah grusa-grusu dalam bertindak. Tindakan Ibu tersebut bisa benar jika dia menyelamatkan anaknya, namun bisa menjadi salah jika malah kedua-duanya tidak tertolong dengan selamat.

Tindakan kejahatan yang dilakukan oleh orang terdidik tersebut, juga merupakan proses berpikir yang kurang jernih, terlalu grusa-grusu dalam memutuskan sebuah tindakan.

Jenjang pendidikan memang tinggi, tapi kecerdasan emosional belum tentu mencukupi, apalagi melebihi.

Seperti yang diungkapkan oleh Aristoteles bahwa kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Bukan hanya masalah tahu dan tidak tahu, tetapi juga cerdas dalam mengendalikan dorongan hati, mengatur suasana hati, berempati serta berdoa.

Hal itu merupakan alasan kuat mengapa pemerintah kita sekarang menggembar-gemborkan revolusi mental dan pendidikan karakter. Pada dasarnya gerakan tersebut memang sudah seharusnya dimulai dari orang terdidik, bukannya malah orang terdidik sok-sokan mengajarkan pengendalian diri itu ke masyarakat, karena yang perlu pengendalian diri lebih adalah orang yang merasa sudah terdidik, karena mereka mempunyai wawasan yang luas sehingga perlu dikendalikan.

Bukannya pedagang asongan, anak-anak jalanan, pencuri ayam, atau pengangguran-pengangguran dan sejenis lainnya yang hidup hanya untuk hari ini, besok, dan lusa. Wawasannya hanya sebatas itu saja.