Ustaz Abu Bakar Ba’asyir telah bebas dari penjara pada hari Jum’at (8/01/2021) kemarin dan telah kembali ke kediaman beliau. Hal ini tentu melegakan bagi keluarga dan citivas pondok pada umumnya. Pasalnya, dengan kembalinya Ustaz Abu, minimal dapat mengobati kekosongan figur seorang guru sepuh di hati para santri.

Pondok Ngruki sering dikaitkan dengan sarang teroris oleh media. Hal tersebut tidak lepas oleh citra  Ustaz Abu Bakar Baa'syir sebagai salah satu pengasuhnya. Lalu, bagaimana sebenarnya pondok Ngruki di mata saya, salah satu dari sekian ribu santrinya? Apa yang saya dapatkan selama nyantri?

Tulisan ini murni merupakan secuil pengalaman belajar saya selama di pondok. Sudah 9 tahun saya lulus. Saya nyantri mulai tahun 2007 akhir hingga 2013. Saya di sana selama 6 tahun, sejak kelas 7 Mts hingga kelas 12 Aliyah. Jadi bisa dikatakan tutug lah. Artinya belajar tidak setengah-setengah, alias sampai tuntas, sampai kelulusan.

Pondok Ngruki, adalah pondok modern seperti pada umumnya. Kami para santri, mengikuti kurikulum yang ada. Ada tiga kurikulum yang berlaku pada saat saya mondok, yakni kurikulum pondok, Depag dan Diknas. Mungkin kalau sekarang kurikulum sudah terintegrasi.

Praktis, hal ini membuat item mata pelajaran menjadi semakin banyak dan dampaknya, bila sekolah lain sudah selesai ujian, bagi kami baru seperempat perjalanan. Masih ada tiga perempat lagi untuk kami menyelesaikan ujian. Mantap bukan?

Pagi hingga siang hari kegiatan kami berpusat di madrasah, sedangkan sorenya di asrama. Kegiatan sore dipenuhi dengan kegiatan ekstra kurikuler. Karena kami putri, ada kegiatan memasak, menjahit, karate dan ketrampilan keputrian lainnya. Di sela-sela jadwal yang padat itu, masih ada pengelompokan kelas.

Saat periode saya Mts, kelas peminatan dibagi menjadi tiga. Ada kelas Olimpiade Fisika dan Matematika, kelas bahasa dan kelas Tahfidz. Hal ini rupanya disadari oleh kepala sekolah waktu itu, bahwa sejak dini bakat kami harus disalurkan dengan sebaik-baiknya.

Saya merasakan ada satu hal yang terus membekas di dalam hati dan pikiran saya. Rupanya satu hal itu telah ditanamkan kuat oleh pesantren, yakni aqidah. Aqidah dasar yang kami pelajari bersumber pada buku berjudul Kitabut Tauhid karya Dr. Shalih Bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan.

Beliau merupakan seorang ulama Arab Saudi yang merupakan anggota kehormatan pada komite tetap untuk penelitian dan fatwa Islam Arab Saudi. Kitab yang terdiri dari tiga jilid itu secara garis besar memuat tauhid uluhiyah, tauhid rububiyah dan tauhid asma' wa sifat.

Penanaman aqidah memang menjadi urusan penting yang diemban asatidz untuk santrinya. Berbagai macam cara dilakukan agar kami memahami apa yang menjadi tujuan manusia di dunia. Kami harus mengerti tujuan penciptaan manusia beserta turunan-turunanya. Aqidah merupakan elemen krusial yang harus ada pada diri setiap muslim.

Ustaz Abu adalah salah satu dari sekian banyak pengasuh di pesantren. Beliau memiliki karakter yang berkharisma dan langkahnya pasti dan tegap. Saya bertemu beliau hanya sekitar dua tahun sebelum beliau masuk penjara, saat saya duduk di kelas 1 dan 2 Mts.

Beliau dijadwalkan rutin mengisi tausiah sebulan sekali di masjid asrama putri dan wajib dihadiri oleh santriwati tingkat pertama hingga akhir. Jadwal beliau di hari Jum'at sore kalau tidak salah. Apa  yang dibahas? Al Wala' wal Baro' beserta pengertian thoghut.

 Al Wala' wal Baro' membahas mengenai bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim terhadap Allah, rasul dan umat manusia. Saya belum bisa menjelaskan mengenai bab Al Wala' wal Baro' secara terperinci pada tulisan yang terlampau singkat ini. Dua topik inilah yang menjadi grand topics dan sering dibahas beliau pada saat tausiah.

Ternyata, tema besar yang disampaikan oleh Ustaz Abu kemudian dijelaskan secara lebih rinci pada pelajaran aqidah oleh ustaz-ustazah kami. Semakin bertambah tingkat, kami dikenalkan mengenai satanisme, hedonisme, sekulerisme dan isme-isme yang merusak generasi muslim.

Sehingga, persepsi mengenai thoghut dan antek-antek kafir saya referensikan kepada paham yang merusak masa depan generasi muslim. Ya walaupun bahasa yang digunakan serem, antek-antek kafir.

Kami juga dikenalkan mengenai apa itu dajjal dan yakjuj makjuj meski masih sebatas tekstual. Tema-tema kuat inilah yang membekas di kepala saya untuk terus mencari makna dajjal dan yakjuj makjuj. Saya tergolong santri yang tidak mudah puas dengan jawaban ustazah saya waktu itu mengenai dajjal.

Sampai saat kuliah pun, bila ada kesempatan saya buka diskusi dengan bapak, rekan dan dosen. Saya juga membaca tulisan dari berbagai latar belakang. Mulailah saya mengerti bahwa persoalan-persoalan seperti ini memang tidak semata-mata sebuah persoalan. Artinya, saya harus banyak membaca dan mendengarkan. Wajar bukan, sebagai seseorang yang beragama, saya mempertanyakan hal yang bersifat ontologi hingga metafisik seperti itu?

Setamat dari pondok, lantas tidak pernah merasa bahwa saya lah orang yang paling benar sikap dan pendapatnya, sehingga serta-merta menyalahkan perilaku keagaamaan orang lain, apalagi mengkafirkan.

Saya juga bukan orang yang anti pemerintah, karena saya mengetahui bahwa pancasila merupakan landasan berdirinya sebuah negara yang telah disepakati bersama oleh para pendahulu bangsa, para pahlawan yang semoga Allah merahmati mereka.

Sebagai santri Ustaz Abu, terlepas dari sikap beliau terhadap pemerintah serta dampak yang ditimbulkan, saya mengasumsikan bahwa, yang sebetulnya menjadi ground kekhawatirkan beliau adalah masuknya paham sekuler, satanis, hedonis, materialis atau paham yang tidak satu jalan dengan Islam yang merusak generasi Muslim mendatang.

Namun pada hakikatnya, bukankah terhadap paham ini semua agama di Indonesia menolak? Saya memiliki tetangga penganut Nasrani dan Hindu. Hubungan kami harmonis. Bahkan tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk melenyapkan nyawa mereka yang berbeda keyakinan.

Di dalam agama Nasrani, pemeluknya dilarang menyembah setan, apalagi Hindu. Saya yakin bahkan dari kelima agama di Indonesia sepakat dengan itu. Kebetulan karena saya Muslim, semangat menentang paham yang merusak ini harus di dasarkan pada semangat ke-tauhidan.

Saya ingin mengatakan bahwa selama di Ngruki, saya diajarkan supaya memiliki aqidah yang kuat, sikap muslim yang rahmatan lil ‘alamin, sikap toleran yang proporsional, cinta tanah air dan belajar berbagai skill untuk bekal hidup.