Mahasiswa adalah pelaku utama dan agent of change dalam setiap gerakan yang membaharukan yang memiliki makna sekumpulan manusia yang berintelektual dan memandang sesuatu dengan pemikiran yang jernih, positif, kritis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Mahasiswa memiliki tanggung jawab moril untuk membuat karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

A.M Fatwa dalam Syam mempunyai pandangan dan menyatakan bahwa mahasiswa merupakan kelompok generasi muda yang mempunyai peran strategis dalam kancah pembangunan bangsa karena mahasiswa merupakan sumber kekuatan moral (moral force) bagi bangsa indonesia.

Mahasiswa adalah cendekiawan yang memiliki tanggung jawab untuk dilaksanakan. Menurut Julian Benda dalam La Trahison des Clercs, tanggung jawab kecendekiaan didasarkan pada tiga tolak ukur, yaitu keadilan, kebenaran, dan rasio. 

Terlihat jelas bahwa mahasiswa memang dituntut untuk selalu menegakkan kebenaran dan keadilan yang berlandaskan rasionalitas. Inilah tanggung jawab dasar mahasiswa dengan segala aktifitas dan gerakannya. Oleh sebab itu diperlukan sebuah wadah di perguruan tinggi untuk manaungi  berbagai macam aktivitas dan gerakan mahasiswa.

Organisasi dapat menjadi wadah dalam aktivitas dan gerakan mahasiawa dengan sebuah tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Dengan ini, organisasi adalah wadah dari sekelompok orang (group of people) yang bekerja sama untuk tujuan yang sama.

Pernyataan diatas adalah penjelasan bahwa organisasi mahasiswa adalah wadah untuk melatih mahasiswa agar siap terjun ke dalam masyarakat. Dalam organisasi mahasiswa, mahasiswa dilatih untuk berani mengemukakan pendapat, dapat mengambil keputusan dengan cepat, dan memiliki tanggung jawab. 

Selain itu organisasi mahasiswa berguna untuk membentuk idealisme dan menjadi tempat untuk mengembangkan potensi organisasi maupun akademis. Sebagai mahasiswa yang progresif, kreatif, dan kritis diharapkan mampu mengemban peran dalam masyarakat dengan baik.

Dari pembahasan diatas menggambarkan bahwa keberadaan organisasi kemahasiswaan merupakan suatu hal yang penting. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 77 tentang organisasi kemahasiswaan. 

Dengan diadakannya organisasi kemahasiswaan dapat dijadikan sebuah alat penunjang pendidikan di perguruan tinggi karena dapat mengembangkan kemampuan diri (soft skills). Mengingat bahwa kemampuan diri (soft skills) adalah hal yang penting bagi mahasisawa agar dapat berbaur dan terjun ke dalam masyarakat.

Jika kita melihat dari sudut pandang pendidikan kewarganegaraan, kemampuan diri (soft skills) dikenal dengan sebutan kemampuan kewarganegaraan (civic skills). Kemampuan ini mencangkup keterampilan intelektual (intelectual skills) dan keterampilan partisipasi (partisipation skills). Keterampilan kewarganegaraan (civic skills) harus dikembangkan agar pengetahuan menjadi sesuatu yang dapat digunakan untuk menghadapi masalah berbangsa dan bernegara.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi kemahasiswaan adalah wadah bagi mahasiswa yang dapat menyalurkan kreativitas dalam proses pengembangan diri terutama dalam proses pengembangan keterampilan kewarganegaraanm (civic skills). Di dalam organisasi kemahasiswaan, mahasiswa dilatih dan dibekali keterampilan supaya siap terjun ke dalam masyarakat.

Dengan dikembangkannya civic skills di dalam diri mahasiswa. Mahasiswa menjadi dapat berfikir kritis, memiliki jiwa kepemimpinan, dan dapat berinteraksi dengan individu-individu, sehingga mahasiswa tanggap dan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang menyangkut hal keorganisasian.

Penjelasan tersebut dapat diperkuat dengan adanya asumsi tentang mahasiswa yang memiliki segudang idealisme, tidak mengenal kata akhir untuk mencapai sebuah kemajuan. Oleh karena itu, sikap kritis dan tidak puas terhadap sistem harus selalu dimiliki dan melekat pada diri seorang mahasiswa. 

Dengan sikap kritis dan tidak puas mahasiswa menempatkan diri pada posisi oposisi nonstruktural yang dapat memberikan manfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbaikan bangsan dapat dilakukan dengan cepat jika sikap ini dilakukan secara bersama-sama.

Jika mahasiswa sudah mencapai semua tujuan organisasi mahasiswa akan memiliki kemampuan yang mumpuni. Dan jika mahasiswa sudah memiliki kemampuan yang mumpuni mahasiswa akan mudah diterima di dalam masyarakat. Bahkan mahasiswa itu akan banyak membawa manfaat terhadap masyarakat. 

Hal ini tidak lain karena mahasiswa itu telah terbiasa menghadapi berbagai macam masalah yang ada dalam organisasi. Begitupun dalam melakukan pendekatan terhadap individu-individu di dalam lingkungan masyarakat. Dengan begitu tidak mustahil jika kemajuan suatu masyarakat ada di depan mata.

Masyarakat akan lebih maju denga idealisme kritis mahasiswa yang sangat haus akan perubahan untuk menjadi lebih baik. Tidak dapat dipungkiri jika mahasiswa aktif di dalam organisasi. Maka mahasiswa itu akan menjadi agen perubahan di lingkungan masyarakat dan dengan itu masyarakat dan negara akan berubah menjadi leih baik. Semua iu tidak lain karena wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam membangun sebuah organisasi.

Mahasiswa akan memiliki kemampuan yang sangat berbuga bagi masyarakat jika mahasiswa tersebut benar-benar mengembangkan kemampuannya di dalam organisasi. Selain itu, masyarakat pun akan menerima mahasiswa tersebut dengan tangan terbuka karena masyarakat memang butuh bimbingan untuk menuju kemajuan.