Dalam setiap perjalanan hidup selalu beriringan dengan perbedaan, tetapi hal itulah yang mampu membuat hidup makin bermakna. Namun terkadang masih saja banyak pertengkaran sebelum perdamaian. Perdamaian itu akan tercipta adanya rasa saling menghormati. Tanpanya, mungkin tak akan ada kehidupan aman.

Tak terbayangkan sebelumnya, jika aku kembali ke tanah kelahiran. Saat mobil yang ditumpangi berhenti di depan rumah itu, terlihat seorang wanita yang begitu gembira menanti kedatangan kami sekeluarga. Saat aku berhadapan dengannya, gambaran wajahnya mulai membuat otak bekerja ke masa lalu untuk memperjelas siapa dirinya.

Nenek, benarkah dia, wajahnya kini sudah semakin berkerut, kaki yang dulu menemani berlari ke sekolah sudah terlihat renta bahkan sulit menopang tubuhnya. Senyuman itu kulihat lagi setelah bertahun-tahun hanya mampir dalam mimpi indah, ia menyambut dengan pelukan yang selalu membuat kerinduan. Setelah melepas rindu yang sudah menumpuk seperti tumpukan sampah kota, kami semua beristirahat untuk sedikit menghilangkan lelah selama perjalanan.

Waktu sudah menunjukan pukul lima, kedua kelopak mata yang masih enggan terbuka sedangkan suara gedoran pintu kamar nyaring sekali di telinga. Teriakan ibu begitu keras seakan suara gemuruh petir saat hujan, membuat rasa nyaman berbaring di tempat tidur hilang seketika. Dengan sedikit terpaksa, aku menuruti perkataan ibu untuk segera ikut makan bersama dan kemudian bersiap-siap untuk salat magrib berjamaah di rumah.

Ketika ayah masih memimpin doa setelah salat, pikiranku masih terbayang enak nya kasur kamar, otak sudah mulai merespons tubuh agar cepat bergegas ke kamar. Tetapi hal itu hanya akan menjadi bayangan, karena kenyataannya, ayah menyuruhku tetap duduk kembali mengikuti keinginan nenek untuk mengaji bersama. Akhirnya setelah beberapa jam menahan kantuk dan salat isya juga sudah selesai dilaksanakan, aku bergegas masuk ke kamar, tetapi mataku malah enggan tertutup.

”Din sudah tidur?” Terdengar suara dari balik pintu itu. “Belum nek, masuk saja!”. Nenek pun duduk disebelahku, tetapi kemudian ia menyuruhku berbaring di pangkuannya. Jemarinya juga mulai memijat kepala, terasa enak sih, tetapi tak membuatku tertidur. 

Beberapa menit kemudian nenek ingin aku bercerita hal yang paling berkesan saat di luar negeri. Kisah pun di mulai dari pertama kalinya ayah memberi tahu jika kami sekeluarga harus ikut majikannya ke luar negeri. Awalnya aku berpikir, mungkin di sana hanya beberapa minggu atau bulan saja, tetapi tidak untuk tahun ini.

Kemudian tinggallah kami di salah satu negara dengan waktu yang panjang, sekolah ku pun harus pindah untuk menyesuaikan keadaan ayah dan ibu. Untungnya majikan ayah sangat baik, sekolahku pun disamakan dengan anaknya. 

Awal sekolah aku begitu ragu, bagaimana tidak? mayoritas di sini memiliki keyakinan berbeda denganku. Sedangkan aku dengan pakaian sesuai kewajiban agama, anak majikan sebenarnya juga sama denganku hanya saja ia masih belum sepenuhnya tertutup.

Hari pertama sekolah, semua mata menatap tajam padaku, bahkan terlihat beberapa dari mereka merasa risih dengan kedatanganku. Tetapi untungnya aku masih menemukan satu teman baru yang begitu baik hati dan memiliki rasa toleransi yang tinggi. Setelah beberapa hari sekolah, tatapan mata curiga mulai berkurang, namun tidak untuk dia. Dia adalah Krish, salah satu teman laki-laki yang sangat tidak menyukaiku.

Semakin hari dia bukan malah membaik, seakan setiap harinya level kejahilannya meningkat. Mungkin sebelumnya aku hanya diam , tetapi untuk kali ini aku sudah tidak sabar. Dia terlalu keterlaluan, yang biasanya hanya menghina cara berpakaian dan juga sedikit sindiran akan perbedaan kita. 

Tapi kali ini ia menghina kedua orang tuaku, tak ada ampun lagi baginya. Rasa dendam sudah mulai tertanam dihatiku, tatapan mataku sudah seperti singa yang terluka karena pemburu.

“Hai kau! Jangan sekali-kali kau merendahkan atau pun menghina kedua orang tuaku, begini saja aku punya sebuah tawaran untukmu”

Tawaran yang kuberikan sangatlah mudah, aku dan dia akan melakukan lomba lari sejauh 400 M. Jika dia menang maka aku siap menjadi babunya, tetapi jika sebaliknya maka ia harus siap diguyur dengan air selokan dan berhenti menggangguku. Ia pun setuju, setelah itu ia memberitahu jika lomba akan dilakukan setelah pulang sekolah nanti.

Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi, saat langkahku sudah dekat dengan lapangan lari di belakang sekolah, terlihat Krish dengan wajah angkuhnya sudah menungguku disana. tanpa basa-basi kami pun memulai lombanya, mungkin mereka berpikir perempuan dan laki-laki melakukan lomba lari, sudah pasti si perempuan akan kalah. Tetapi tidak untuk aku, Dina gadis dengan semangat tinggi tak akan mudah dikalahkan, apalagi ini menyangkut harga diri orang tua.

Setelah setengah lapangan, aku terjatuh karena tali sepatu lepas, Krish menoleh kepadaku dan memberikan sedikit ejekan dengan jarinya. “Ayo Dina ini demi kebaikan orang tuamu jangan menyerah!” batinku. Entah bagaimana aku merasa nenek berada di sampingku sekarang, aku seakan kembali seperti dulu, berlari bersamanya saat menuju sekolah.

Akhirnya aku membuktikan pada Krish bahwa aku tak akan mungkin kalah, terlihat sekali wajah kemarahan bercampur malu di mukanya. Kini aku  berhadapan dengannya dan tak lupa mencangking satu kaleng berisi air selokan. Saat aku akan menyiramkan untuknya, tangannya sudah mencoba menutupi mukanya.

Tapi ketahuilah aku tak akan berbuat itu, aku pun berkata padanya, “ Perlu kamu ketahui Krish, di dalam agamaku tidak ada membalas keburukan dengan keburukan, maka aku tak akan menyiramkan ini padamu.”

Karena kejadian itu, Krish menjadi baik padaku dan kita berteman. Saat kukatakan pada nenek bahwa itulah cerita paling mengesankan disana, tak ada respons darinya. Aku mulai bangun dari pangkuannya, mata nenek sudah terpejam, kelihatannya nenek menikmati ceritaku sampai ia tertidur.