Sebagai manusia yang hidup di abad ke-21, kita sepenuhnya menyadari bahwa hampir separuh hidup kita mengalami ketergantungan terhadap teknologi. Hubungan teknologi dengan manusia sudah terlampau erat layaknya dua sisi koin logam yang tak dapat dipisahkan.

Peran teknologi telah banyak mencampuri urusan pribadi, memasuki ranah dan mengubah tatanan kehidupan kita melalui sistem yang diciptakannya, bahkan yang paling privasi sekali pun. Ia menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh, mengatur kehidupan kita dari mulai bangun tidur sampai terlelap kembali.

Mengenai teknologi, ada banyak para ahli yang berlomba-lomba mendefinisikannya. Secara etimologis, pengertian teknologi berasal dari Bahasa Yunani, technologia, yang merupakan gabungan dari dua kata tech yang berarti keahlian dan logia yang mempunyai arti pengetahuan.

Dari berbagai pengertian yang diambil dari berbagai sudut pandang para ahli, kita dapat menyimpulkan bahwa definisi teknologi itu sendiri bermuara pada kalimat sederhana, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai hal teknis dengan melibatkan metode dan alat untuk membantu menyelesaikan permasalahan dan pekerjaan manusia sehari-hari.

Dewasa ini, teknologi telah menyentuh hampir seluruh sektor kehidupan manusia sehingga hal inilah yang melatar belakangi pengklasifikasian teknologi ke dalam beberapa jenis; teknologi informasi, teknologi komunikasi, teknologi transportasi, teknologi pendidikan, teknologi medis, teknologi konstruksi, dan sebagainya.

Perihal dunia teknologi, industri yang tengah berkembang saat ini memang lebih didominasi oleh kaum adam a.k.a pria sebagai profesi pengembangnya. Kemampuan lebih pria dalam berpikir logis serta kemampuan psikomotorik yang mumpuni dinilai sebagai alasan yang membenarkan pernyataan tersebut. Ini mungkin ada benarnya juga.

Namun justru mitos tersebut ditengarai semacam intimidasi bagi wanita yang ingin berkiprah di dunia teknologi. Mengapa saya menyebut hal tersebut justru sebagai mitos? Karena ternyata sampai saat ini belum ada satu data pun yang secara spesifik menyebutkan populasi wanita yang berkecimpung dalam dunia teknologi serta menjamin bahwa kiprah pria selalu terlihat lebih baik dibanding wanita dalam bidang ini.

Hanya karena statement bahwa pria selalu mengedepankan logika daripada wanita yang sunnatullaah diciptakan sebagai makhluk perasa sehingga lebih mengedepankan perasaan, bukan berarti dunia teknologi tidak bisa dirambah oleh kaum hawa. Itu adalah suatu pemahaman yang dinilai kurang tepat.

Sama halnya dengan apa yang saya alami. Berkecimpung dalam pekerjaan yang erat kaitannya dengan dunia teknologi sejak lulus kuliah hingga konsisten beberapa tahun belakangan ini membuat saya berhasil mengeyahkan jauh-jauh stigma bahwa teknologi itu kerjaan laki-laki sedangkan kerjaan wanita itu lebih banyak di dapur dan hanya mengurus anak.

Justru wanita pun berpotensi berkarya lebih baik dalam berinovasi, bahkan wanita bisa lebih unggul dalam melakukan problem solving sebagai pilar penting di dunia teknologi sebab wanita dinilai lebih teliti dan rapi.

Pada mulanya, berkarier di bidang teknologi adalah sesuatu hal yang tak pernah terpikirkan dalam benak saya. Sejak kecil, cita-cita saya seperti cita-cita anak 90-an pada umumnya; kalau tidak jadi dokter, ya jadi guru. Terkesan klise memang. Namun nyatanya profesi tersebut memang jadi idola pada masanya. 

Beranjak SMA, saya menilai apa yang saya cita-citakan itu terlalu mainstream. Di SMA saya lebih menyukai pelajaran dalam rumpun ilmu sosial. Saya lebih suka menghafal daripada menghitung, padahal saat itu julukan saya adalah ‘anak IPA’. Hal itu pun berefek pada perubahan cita-cita saya; jadi pengacara.

Karena saya merasa kecerdasan interpersonal saya lebih mendominasi dibanding kecerdasan analitik atau kecerdasan logika, keinginan menjadi pengacara pun makin menggebu-gebu. Hingga pilihan  jurusan kuliah pun jatuh pada ilmu hukum.

Namun takdir berkata lain, semesta tidak mendukung. Saya malah diterima di jurusan teknik elektro dengan konsentrasi arus lemah yang justru banyak mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi komunikasi.

Tahun pertama kuliah terasa berat menjalaninya karena saya merasa salah memilih jurusan. Maklum saat itu masih terlalu idealis. Tapi saya berusaha menyelesaikannya hingga berhasil lulus tepat waktu.

Kalo sudah lulus begini kan mau tidak mau pekerjaan yang akan dipilih pun tidak akan jauh dari jurusan kuliah. Karena peluang di-hired akan lebih besar jika sesuai dengan keahlian kita.

Jurusan tersebutlah yang menghantarkan saya ke gerbang karier yang tidak pernah saya bayangkan di masa kecil. Menggeluti pekerjaan di industri teknologi membuat saya selalu menjadi minoritas karena rekan-rekan kerja saya didominasi oleh pria. Bekerja sama dan berinteraksi pun lebih banyak dengan mereka dibanding dengan teman wanita.

Saya merasa, saya lebih banyak belajar pada saat saya bekerja dibanding saat kuliah dulu. Karena ternyata spesialisasi ilmu yang saya pelajari di dunia kerja juga berbeda dengan apa yang saya peroleh selama duduk di bangku kuliah.

Jika dulu saya hanya menjadi pengguna teknologi, maka dengan pekerjaan yang saya tekuni sekarang di mana seluk-beluk mengenai teknologi dipelajari dan diteliti, saya merasa tidak hanya sebagai penggunanya, namun juga sebagai inovatornya karena memang selalu dituntut untuk berinovasi dan memiliki kreatifitas yang tinggi.

Ini adalah sesuatu yang luar biasa karena saya belum banyak wanita yang berkiprah dalam dunia teknologi, terlebih di Indonesia. Saya berhasil membuktikan bahwa ternyata potensi pria dan wanita dalam bidang teknologi itu sama, sekaligus berhasil mematahkan stigma bahwa dunia teknologi hanya milik kaum pria hanya karena dominasi mereka.

Ketika orang-orang mengetahui apa dan bagaimana pekerjaan saya, kebanyakan dari mereka berdecak kagum sekaligus terheran-heran bagaimana bisa berkarir di bidang teknologi yang tengah menjadi tren saat ini hingga (diprediksi) beberapa tahun ke depan. 

Hal itu saya jadikan semacam self-branding bahwa saya adalah wanita yang ingin berperan, berkontribusi, dan berkarier di bidang teknologi. Qodarullaah, hingga saat ini saya tidak pernah stres karena bekerja di luar zona nyaman. Justru saya mulai mencintai pekerjaan saya. I love what I have, I know what I want. I feel like a sexier woman with technology