Di awal tahun 2018 ini, saya membaca sejumlah buku. Di antara buku yang paling saya suka berjudul Logika Antropologi: Suatu Percakapan (Imajiner) Mengenai Dasar Paradigma yang ditulis oleh Ahmad Fedyani Saifuddin (Guru Besar Antropologi FISIP UI). Meskipun buku tersebut terbit pada tahun 2015 silam, saya kira buku tersebut menjadi pintu untuk mengurai dan menganalisis berbagai topik penting dalam Ilmu Antropologi yang diteropong melalui filsafat logika.

Hal yang menarik dalam buku tersebut adalah bahasan buku disajikan kedalam bentuk percakapan imajiner secara sederhana dan mudah dipahami. Penulisnya seolah-olah berdialog dengan banyak orang (peserta diskusi). Setiap pertanyaan dijawab dan di respon secara komprehensif dan mendalam. Jawaban yang disampaikan penulis tersebut seperti menembus ruang, waktu dan aktor (tokoh).

Setiap uraian dan pertanyan yang disampaikan senantiasa terkoneksi antara satu dengan lainya. Sebagai contoh para peserta diskusi mempertanyakan kemunculan antropologi awal (sekitar abad ke 20) dan pelbagai perdebatan teori.

Penulisnya secara jernih dan luas memberikan jawabanya yang tidak berpihak dan merujuk dengan sumber-sumber sahih (kuat). Penulis memberikan contoh ketika paradigma simbolisme muncul dalam antropologi pada akhir 1960-an sampai 1970-an yang nantinya melahirkan interpretivisme simbolik yang berpengaruh hingga era postmodernisme dalam ilmu-ilmu sosial. Geertz sebagai salah satu antropolog merasakan pengaruh paradigma pada zamanya, seperti struktural fungsional, simbolisme, dan interpretivme simbolik (Saifuddin, 2015 : 1).

Percakapan imajiner ini tidak luput kritik antara penulis dan peserta diskusi. Percakapan yang saling bersahutan memperkaya pembahasan mengenai paradigma itu sendiri. Disana perdebatan bukanlah sesuatu yang destruktif. Ada kalanya peserta diskusi terlihat seperti tidak puas apa yang disampaikan oleh penulis, meskipun peserta diskusi dan penulis bersifat imajiner namun senantiasa “merangsang” agar percakapan tidak berhenti pada satu titik.

Buku ini tanpa disadari menghanyutkan pembacanya. Buku yang berisi 306 halaman ini membahas topik seputar paradigma positivis-relativis, idealis-materalis, struktur fungsi, simbol struktur dan konsensus-konflik. Bahasa buku yang mengalir serta runut memudahkan pembaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan. Umumnya, buku-buku teks yang membahas mengenai teori terkesan “njilimet” dan harus mengerutkan dahi.

Akankah memahami Antropologi secara Imajiner memberikan cara baru untuk membuka sekat dan kebuntuan dalam memahami paradigma? Tanpa terasa pun saya seperti terimajinerkan dalam menuliskan pengalaman membaca buku tersebut.