Suatu hari, pada hari jumat bulan Juni lalu, dunia sekali lagi dikejutkan sekaligus dibuat geram oleh tindakan biadab Israel atas Palestina. Kali itu bukan saja terhadap warga sipilnya yang telah kita ketahui bersama bahwa tentara Israel kerap kali merampas hak-hak serta penyiksaan terhadap masyarakat Palestina, terutama terhadap anak-anak dan wanita. 

Tidak kalah hebohnya, warga internet dari belahan dunia mengecam penembakan atas salah satu tenaga medis perempuan yang bernama Razan Najjar,merupakan penduduk Khuzza, sebuah desa pertanian yang terletak di dekat perbatasan dengan Israelyang berusia 21 tahun. Bagaimana kronologisnya?

Adegan bermula dimana Najjar berlari dengan mantel putihnya untuk menolong seorang pria tua yang telah  dipukuli di bagian kepala. Pada hari Jumat tersebut, merupakan terakhir kalinya dia bisa membantu seorang demonstran terluka. Niat baiknya tersebut rupanya mengantarkan Najjar pada maut. Dari seberang pagar, dua atau tiga peluru meluncur dan tepat mengenai bagian dada Najjar. Tak lama setelah kejadian ini, ia dinyatakan meninggal dunia. 

Najjar merupakan orang Palestina ke-119 yang tewas sejak protes Great Return March yang dimulai bulan Maret. Kematian Najjar merupakan satu-satunya kematian yang terdaftar pada hari Jumat. Ribuan warga Palestina mengambil bagian dengan membuat kerusuhan di sepanjang pagar keamanan, membakar ban, dan melemparkan batu. 

Najjar  Saat peristiwa penembakan itu terjadi, tidak ada yang menyangka tentara Israel menembak Razan Najjar, perawat yang saat itu berupaya menyelamatkan korban luka demonstrasi di perbatasan Gaza dengan Israel pada Jumat 1 Juni. 

Ia bersama rekannya, seperti hari-hari sebelumnya, berlari mendekati pagar perbatasan di Khuzaa, Gaza, untuk menarik korban luka dari kepulan gas air mata atau peluru tajam. Saat peristiwa penembakan itu terjadi, Najjar berada 100 meter dari pagar dan sedang membalut pria yang terkena tabung gas air mata. Pria tersebut kemudian dibawa dengan ambulans. Tiba-tiba saja suara tembakan terdengar dan Najjar jatuh ke tanah. Najjar tiba di rumah sakit dengan kondisi yang sangat serius. Dia meninggal dunia di ruang operasi.

Militer Israel hari Selasa (5/6) mengatakan penembakan fatal seorang paramedis perempuan Palestina di Jalur Gaza pekan lalu dilakukan secara tidak disengaja, pengakuan itu mengobarkan kembali perdebatan seputar kebijakan bebas menembak yang diberlakukan untuk tentara Israel. Israel telah mendapat kecaman luas dari dunia internasional karena menggunakan peluru tajam.

Uni Eropa dan PBB menuduh Israel menggunakan kekuatan yang berlebihan, sementara kelompok-kelompok HAM mengatakan aturan kontak senjata Israel ilegal karena menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran tidak bersenjata ketika nyawa tentara Israel sendiri tidak dalam bahaya. 

Seorang pejabat PBB menyebut penembakan Najjar itu sesuatu yang “tercela”. Pejabat-pejabat militer Israel menyalahkan Hamas atas pertumpahan darah itu. Mereka mengatakan kelompok itu telah menggunakan demonstrasi sebagai perlindungan untuk melancarkan serangan lintas perbatasan dan menggunakan para demonstran sebagai perisai. 

Lebih dari 115 warga Palestina tewas dan hampir 3.700 lainnya luka-luka dalam aksi-aksi protes di sepanjang perbatasan Israel yang sudah berlangsung hampir setiap minggu, demikian menurut petugas kesehatan Palestina. Kebanyakan korban tewas adalah warga yang tidak bersenjata, antara lain wartawan, tenaga medis, remaja dan dua perempuan. 

Ketika mengumumkan hasil pemeriksaan pendahuluan itu, militer Israel mengatakan “sejumlah kecil peluru ditembakkan dalam insiden itu, dan tidak ada tembakan yang disengaja atau diarahkan langsung terhadapnya.” Ditambahkan, penyelidikan itu sedang berlanjut, dan hasilnya akan disampaikan kepada tim kuasa hukum militer.

Dari pemaparan kejadian oleh beberapa media online, apa yang dialami oleh Razan Najjar kiranya begitu berlimpah pembelajaran. Sekalipun tidak pernah terjun secara langsung dalam aktivitas kerelawanan yang berfokus pada pemberian pertolongan korban bencana perang, dengan gencarnya pemberitaan tentangnya hingga banyak netizen membagikan kisahnya di seluruh lini masa media sosial mampu 'memantik' rasa ingin mengkaji ada dorongan apa di dalam diri Razzan yang sebegitu bajanya menghadapi berbagai tantangan di negeri yang setiap jamnya mengalami berbagai teror serta mencoba mengaitkan kejadian tersebut dengan aspek hukum dan etika serta larangan-larangan selama berperang sesuai dengan apa yang pernah saya baca dalam buku hukum humaniter. Sebelumnya, penulis akan memaparkan sedikit cerita perjalanan kerelawanan Razan.

Disarikan dari wikipedia.org, Ayah Najjar pernah bekerja di Israel dalam bisnis besi tua, sampai pembatasan melarang perjalanan melintasi perbatasan. Dia kemudian bekerja di Strip sebagai mekanik sepeda motor, tetapi, pada saat kematiannya, dia menganggur. Keluarga itu tinggal di sebuah apartemen yang disediakan oleh sanak keluarga di Khuza'a, di bawah pengawasan para tentara Israel yang ditempatkan di perbatasan. 

Daerah mereka memiliki dinding beton setinggi empat meter yang dipasang untuk melindungi penduduk setempat dari tembakan Israel. Dia, salah satu dari delapan keluarga, tumbuh menjadi saksi tiga perang, yaitu 2008-2009, kemudian Pilar Pertahanan Operasi Israel ketika remaja, berusia 16 tahun, dan tidak lama setelah itu 7 minggu 2014 konflik Israel-Gaza di mana lingkungannya adalah hancur. Terlalu miskin untuk mendapatkan pendidikan universitas, dia belajar kaligrafi dan mengambil kursus di keperawatan. 

Setelah menjadi sukarelawan adalah sebagai paramedis di Khan Younis di Nasser Hospital dan dia menjadi anggota aktif dari Lembaga Bantuan Medis Palestina, sebuah organisasi kesehatan non-pemerintah. Dia mengenakan jas putih dari petugas medis dan rompi medis dengan perban, dan menghadiri orang-orang yang terluka selama protes di pagar perbatasan antara Gaza dan Israel selama Ramadhan.  

Menurut ibunya, Najjar menghadiri setiap acara Jumat mulai pukul 7 pagi hingga 8 malam, dan akan kembali ke rumah dengan darah orang-orang yang dia rawat. Bahkan sebelum kematiannya, ia telah menjadi ikon di Jalur Gaza, dengan media lokal menerbitkan banyak gambar online-nya, termasuk foto-foto kepalanya yang membalut kepala seorang pemuda yang terluka.  

Berdasarkan ketentuan dalam konvensi Jenewa, Konvensi-konvensi Jenewa terdiri dari berbagai aturan yang berlaku pada masa konflik bersenjata, dengan tujuan melindungi orang yang tidak, atau sudah tidak lagi, ikut serta dalam permusuhan, antara lain kombatan yang terluka atau sakit, tawanan perang, orang sipil,  personel dinas medis dan dinas keagamaan. 

Berdasarkan ketentuan dalam konvensi Jenewa, Konvensi-konvensi Jenewa terdiri dari berbagai aturan yang berlaku pada masa konflik bersenjata, dengan tujuan melindungi orang yang tidak, atau sudah tidak lagi, ikut serta dalam permusuhan, antara lain kombatan yang terluka atau sakit, tawanan perang, orang sipil,  personel dinas medis dan dinas keagamaan. Mengenai perlindungan terhadap tenaga medis di wilayah konflik memang diatur dalam Konvensi Jenewa pertama tanggal 12 Agustus 1949 (Konvensi Jenewa), di antaranya dalam Bab IV tentang Anggota Dinas Kesehatan.

Lebih lanjut, pengaturan mengenai perlindungan terhadap petugas kesehatan dalam medan perang dapat ditemui dalam pasal-pasal Konvensi Jenewa dan Protokol tambahannya. Misalnya, sebagaimana diatur dalam Pasal 11, Pasal 24-27, Pasal 36, dan Pasal 37 Konvensi Jenewa maka petugas kesehatan harus dihormati dan dilindungi dalam segala keadaan, di antaranya mencangkup:

a. Seseorang yang ditugaskan, baik permanen maupun sementara, semata-mata untuk pekerjaan medis (mencari, mengumpulkan, mengangkut, membuat diagnosa dan merawat orang yang cedera, sakit, korban kapal karam dan untuk mencegah penyakit). Mereka itu adalah dokter, perawat, jururawat, pembawa usungan.

b. Seseorang yang ditugaskan, baik permanen maupun sementara, semata-mata untuk mengelola atau menyelenggarakan kesatuan medis atau pengangkutan medis. Mereka itu adalah administrator, pengemudi, juru masak dan lain-lain.

Konvensi Jenewa ini sebenarnya bukanlah satu-satunya sumber hukum internasional yang mengatur tentang perlindungan terhadap tim medis dalam wilayah peperangan. Perlindungan tentang tim medis dapat juga ditemui dalam protokol-protokol tambahan terhadap Konvensi Jenewa. 

Namun sayangnya, sebagaimana diberitakan dalam artikel Indonesia Berniat Ratifikasi Protokol Konvensi Jenewa 1949, saat ini Indonesia belum meratifikasi protokol-protokol tambahan dari Konvensi Jenewa, yaitu Protokol Tambahan I dan II. Protokol Tambahan I tentang Perlindungan Terhadap Korban Sengketa Bersenjata Internasional, dan Protokol Tambahan II tentang Perlindungan Terhadap Korban Sengketa Bersenjata Non Internasional. 

Menurut Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, tindakan militer Israel itu melanggar Konvensi Jenewa 1949 tentang Perlindungan Orang-orang Sipil Dalam Waktu Perang. Sebenarnya di dalam Konvensi Jenewa tahun 1949. Banyak ketentuan di situ. Kalau misalnya ada petugas paramedis yang sedang melakukan kegiatannya. Pertama kalau ada konflik ini tidak hanya berlaku ketika negara dengan negara berperang tetapi ketika juga negara dengan "misalnya" mereka-mereka kayak pemberontak dan sebagainya itu bisa juga diberlakukan. 

Jadi konteks seperti ini, Palestina sudah dianggap sebagai sebuah subjek hukum internasional. Sehingga seharusnya dalam konflik misalnya Israel dengan Palestina ini diberlakukan juga ketentuan itu," lanjut dia. Namun, Hikmahanto menjelaskan bila berbicara soal hukum internasional maka banyak yang mengatakan seperti hukum primitif. Apalagi bila berkaitan dengan perang seperti Israel dan Palestina. "Apa artinya? Siapa yang kuat dia yang menang. Dalam hal ini Israel merasa dirinya kuat jadi terhadap tindakan seperti ini bisa saja diabaikan.

Jika menelaah peristiwa yang menimpa Razan Ashraf Al Najjar tentu seluruh warga dunia termasuk yang berkaitan dengannya dalam hal ini organisasi naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, World Health Organization dan Palang Merah Internasional menjadi duka bersama. Seberapa bekerja kerasnya Perserikatan Bangsa-Bangsa  menjatuhkan sanksi atas tindakan militer Israel, Negara penjajah tetap saja tidak bergeming terhadap sanksi dan kecaman, sebab merasa telah didukung oleh negara sekutu. 

Selama tidak adanya rasa persatuan dari seluruh negeri, maupun sikap tegas maupun penerapan hukum, selama itu pula Israel berdiri di atas tanah Palestina menumpahkan darah orang tak berdosa. Terkadang, terbesit dipikiran saya, Apakah karena merasa harus merebut kembali tanah yang menurut mereka tanah yang dijanjikan untuk mereka sampai harus menggadaikan rasa kemanusiaan? 

Mungkin militer Israel telah mempelajari bahkan mengetahui adab dan etika selama berperang, namun karena nafsu merebut tanah Palestina yang membuat mereka seperti hilang nurani juga akal sehat sehingga tidak lagi peduli dampak di depan mereka.

Terlepas dari yang telah diuraikan dalam esai ini, pelajaran yang kiranya dapat dipetik dari Kematian Razan Ashraf Al Najjar begitu melimpah. Apapun profesi atau latar belakang kita yang patut menjadi bahan apresiasi kita ialah keberanian mengambil resiko dalam berperan secara langsung dalam kerja kemanusiaan menjadi modal utama untuk membuktikan rasa cinta tanah air dalam salah satu perwujudan bela negara. Kehilangan Razan al-Najar berarti Terenggutnya Hak Sehat Warga Palestina. 

Ketahanan dokter Palestina yang bekerja dalam situasi yang menantang seperti itu benar-benar menakjubkan. Jelas, bahwa pada akhirnya tantangan utama dari perbaikan dan keberlanjutan jangka panjang untuk sistem kesehatan Palestina bak konflik yang sedang berlangsung itu sendiri. Selain itu, baik bagi mereka yang telah mencicipi pahit getirnya kerja kemanusiaan maupun "kita" yang hanya sebatas mengikuti perkembangannya melalui media di negara konflik, dapat menjadi cermin untuk menggali lebih untuk apa dan mengapa kita diciptakan sebagai manusia. 

Menutup tulisan ini, saya mengutip wawancara Razan Ashraf Al Najjar yang dikutip dari salahsatu media yang mewawancarainya. 

"Di masyarakat kita perempuan sering dinilai, kamu hanya perempuan. Tetapi masyarakat harus menerima kami. Jika mereka tidak mau menerima kami karena pilihan, mereka akan dipaksa untuk menerima kami karena kami memiliki kekuatan lebih daripada siapa pun. 

Kekuatan yang saya tunjukkan pada hari pertama protes, saya berani Anda menemukannya di orang lain. Kami memiliki satu tujuan, yaitu untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang, Dan mengirim pesan ke dunia bahwa tanpa senjata, kita bisa melakukan apa saja."

Akhirnya Saya ucapkan selamat jalan dan salam hormat atas keberanian dan dedikasi Anda menolong yang memerlukan bantuan. Sungguh daya juang luar biasa.

Referensi