Saya cukup kaget ketika Ahok memutuskan tidak mengajukan banding ketika pengadilan menvonis dia dengan hukuman 2 tahun akibat kasus penistaan agama. Padahal kemungkinan Ahok bebas lebih besar bila melakukan banding, karena menurut saya pengadilan dengan tingkat lebih tinggi lebih tahan terhadap tekanan publik khususnya yang merasa Ahok bersalah.  Namun kemudian saya mulai mengerti kenapa beliau tidak mengajukan banding, yaitu mencegah perpecahan lebih panjang.

Kita semua sadar bahwa Pilkada Jakarta hampir memiliki efek sebesar Pilpres 2014, salah satu efek negatifnya adalah negeri ini seperti terbelah menjadi 2 kubu. Dan hal tersebut seperti luka bernanah yang tidak sembuh – sembuh karena selalu ditaburi dengan kuman – kuman politik kepentingan.  Bahkan jauh setelah Pilpres selesai nanah luka tersebut masih ada dan kemudian disayat lagi dengan pilkada DKI. 

Selain politik kepetingan nanah luka perpecahan tidak kunjung kering, karena tingkat kedewasaan masyarakat Indonesia khususnya yang berpartisapasi dalam pemilu maupun pilkada dalam menghadapi baik kemenangan maupun kekalahan. Pendukung pihak yang menang berusaha mengejek yang kalah, sedangkan pendukung pihak yang kalah selalu mencari alasan karena tidak bisa menerima kekalahan.

Saya kira Ahok sadar akan potensi perpecahan yang lebih masif, akhirnya dia memutuskan untuk menjilat nanah perpecahan tersebut dengan menerima hukuman selama 2 tahun tanpa mengajukan banding. Bagi saya tindakan tersebut adalah tindakan seorang Negarawan, dimana beliau lebih mementingkan negaranya dan mengorbankan kepentingan dirinya dan keluarganya.

Ahok sudah menunjukan seberapa besar hatinya menerima kekalahan di Pilkada dan menerima vonis 2 tahun tanpa banding, namun bagaimana sikap dari para pendukung Ahok (Ahoker’s)? Kekanak – kanakan! Banyak dari pendukung Ahok yang masih tidak bisa menerima kekalahan di Pilkada, dan salah tindakan paling konyol dan fatal adalah memunculkan sebutan JKT58 dan JKT42, merujuk pada hasil suara pilkada (58% Anies dan Ahok 42%). Banyak dari Ahoker merasa adalah anggota JKT42 sedangkan pendukung Anies adalah JKT58.

Hal ini terlihat sepele, namun coba kita berpikir kembali bahwa sebutan ini malah seperti memelihara perpecahan menjadi lebih panjang. Karena ini seperti terus membagi warga Negara ini pada umumnya dan  warga Jakarta pada khususnya dalam 2 kubu. Dan sebenarnya ini adalah hal yang Ahok yang coba hindari dengan menerima vonis tanpa banding, namun ironisnya pengorbanannya seperti dinihilkan oleh pendukungnya sendiri.

Para pendukung Ahok boleh merasa tidak menerima dengan metode kampanye pihak lawan, namun Undang – Undang negara ini sudah jelas mengatakan kemenangan pada Pemilihan Kepala Daerah adalah dengan jumlah hasil suara bukan dengan baik buruknya metode kampanye, Titik! Anies Bawesdan dan Sandiaga Uno adalah Kepala Pemerintahan Jakarta sekarang. Sebagai pendukung , seharusnya para Ahoker meniru teladan yang telah ditunjukan oleh Ahok dalam hal kebesaran hati dan bagaimana pengorbanan dia dalam memelihara persatuan negeri ini. 

Pembagian dan penyebutan ini malah seperti memelihara kebencian dalam diri para pendukung Ahok sendiri yang terkadang membuat mereka tidak obyektif dalam menilai kebijakan Pemerintahan Jakarta sekarang.  Sepertinya apapun kebijakan diambil selalu salah dan terkadang yang menjadi sasaran kritik adalah hal – hal yang tidak substansial seperti lips balm. Pada akhirnya para pendukung Ahok seperti meracuni pikiran sendiri dengan hal – hal negatif karena efek memandang pemerintahan Jakarta saat ini seperti musuh termasuk dengan pendukungnya.

Setelah Pilkada selesai seharusnya kita kembali lagi menjadi satu kubu, warga Jakarta! Tidak ada lagi yang kubu Ahok tidak ada lagi kubu Anies, semua itu sudah diselesaikan di kotak suara.  Satu fakta yang jelas adalah Pemerintahan Jakarta sekarang siapapun Gubernurnya adalah Pemerintahan untuk 100% warga Jakarta. Tidak hanya untuk 58 % warga Jakarta dan ingat ketika pemerintahan sekarang salah mengambil kebijakan mengenai penanganan banjir contohnya, jangan malah pendukung pak Pak Ahok bersorak  dan berkata “makan itu JKT58” karena sayang sekali banjir tidak memilih mana yang akan ditenggelamkan apakah itu rumah pendukung Ahok atau bukan, tidak ada bedanya.

Apabila dipandang secara positif, 2 tahun di penjara adalah masa penempaan untuk Ahok agar menjadi lebih besar, berkilau serta bertumbuh , dan ketika beliau keluar saya yakin beliau bisa menjadi berkat buat lebih banyak orang apapun jalan yang akan beliau ambil. Ahok sudah menunjukan teladan bagi kita semua apa itu sebuah pengorbanan demi mencegah perpecahan dan menjaga persatuan negeri ini. Hentikan penyebutan JKT58 ataupun JKT42, sudah lelah negeri ini selalu terbagi dalam 2 kubu dan selalu berseteru. Para Ahokers seharusnya adalah pewaris nilai – nilai yang coba dijaga oleh Ahok yaitu persatuan, bukannya menambah busuk luka perpecahan yang sudah ada , terkecuali kalian adalah nanah perpecahan itu sendiri. Shalom