Pendidikan merupakan kegiatan yang berproses dan terarah sebagai suatu usaha untuk membentuk kepribadian dari seseorang dengan menumbuhkan nilai sikap, pengetahuan, dan atau keterampilan dengan tujuan menyetarakan manusia.

Pendidikan terus dialami oleh seseorang selama hidupnya maksudnya dalam kehidupan sehari-hari manusia pada hakikatnya terus belajar terutama dari pengalaman yang dilaluinya dengan melalui proses yang tidak sama antarmanusia karena sumber dan pola pikir yang berbeda dari masing-masing individu.

Pendidikan yang diberikan kepada anak jika dipandang dari segi budaya memiliki pengertian yaitu sebagai transformasi dari generasi satu ke generasi berikutnya. Pendidikan bagi bangsa Indonesia adalah sebagai salah satu usaha untuk mencapai tujuan bangsa yaitu mensejahterakan umum.

Dalam upaya menyejahterakan umum ini, maka dibentuklah sekolah sebagai lembaga yang secara khusus dan tersistem untuk memberikan pengajaran dan pendidikan bagi individu atau kelompok agar mereka dapat mempunyai bekal untuk masa depan mereka.

Dalam hal ini, maka sekolah mempunyai kontribusi yang besar untuk menyiapkan sumber daya manusia di masa mendatang yang mampu memiliki kualitas daya saing sesuai dengan perkembangan zaman namun juga tetap mampu mempertahankan budaya nasional yang mencirikan karakter bangsa.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan tak hanya dari sekolah saja, melainkan pendidikan tak bisa lepas dari Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat yang mana ketiganya sangatlah penting untuk membentuk suatu individu yang memiliki nilai-nilai luhur.

Pada kenyataannya, yang terlihat adalah sekolah hanyalah satu-satunya sumber individu mendapatkan suatu pendidikan karena sekolah dianggap sebagai pendidikan formal yang kemudian diberikan tugas untuk mendidik suatu kelompok dan keluarga serta masyarakat tidak mau terlibat dalam mendidik suatu individu.

Apabila jika hanya sekolah saja yang menjadi sumber utama mendapatkan pendidikan, maka tujuan yang diinginkan tidak sepenuhnya dicapai. Karena, disadari atau tidak, faktor keluarga dan lingkungan sekitar juga sangatlah berperan terutama pendidikan dalam rangka membentuk karakter anak.

Melalui Tri Pusat Pendidikan inilah tujuan pendidikan Indonesia baru dapat dicapai dengan maksimal karena dengan melibatkan ketiga aspek tersebut dapat terbentuklah individu yang menjunjung nilai-nilai budaya Indonesia.

Globalisasi pada era milenial seperti yang telah kita ketahui dapat merusak identitas baik secara individu maupun kelompok dengan melunturkan kesadaran diri pada generasi-generasi muda. Karena, seperti yang telah kita ketahui, perkembangan di era ini, terutama dari segi teknologi, sangat pesat.

Kecanggihan dari teknologi ini membawa dampak yang besar, yaitu mengubah pola hidup masyarakat. Kemudahan untuk mengakses informasi adalah salah satu contohnya, namun dampak buruknya tak jarang kemudahan tersebut disalahgunakan untuk hal-hal negatif oleh penggunanya, termasuk generasi muda.

Untuk itulah diperlukan sebuah pendidikan yang kental akan budaya bangsa dengan menanamkan nilai-nilai luhur pada generasi muda. Untuk meminimalisasi dampak yang semakin buruk, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat menggunakan asas dari Ki Hadjar Dewantara, yaitu asas TRIKON, artinya kontinu, konsentris, dan konvergen.

Kontinu yaitu suatu budaya nasional yang harus ada dalam pendidikan yang diajarakan dan diberikan secara berkesinambungan, kemudian konsentris yaitu kebudayaan asing yang dianggap bisa disesuaikan dengan kebudayaan nasional dalam rangka untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Setelah diajarkan secara berkesinambungan dan disesuaikan dengan kebudaayan asing, yang terakhir adalah konvergen dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia kita harus mampu menyatukan kebudayaan nasional kita dengan kebudayaan luar.

Keberadaan Kurikulum 2013 yang telah diterapkan oleh pemerintah selama beberapa tahun untuk diterapkan di sekolah dalam beberapa tahun terakhir ini yang berfokus pada penguatan pendidikan karakter sudah mencakup semua segi kehidupan secara terpadu.

Pemberian pendidikan mencakup pemberian ilmu pengetahuan, nilai-nilai sikap dan keterampilan, yang mana sarana-prasarana sebagai penunjang pembelajaran telah dipadukan dengan kebudayaan asing termasuk penggunaan IPTEK, sehingga diharapkan akan terbentuklah generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing dengan negara lain.

Ternyata harapan tidak sepenuhnya tercapai melihat masih banyaknya peserta didik yang mengalami krisis identitas yang berujung pada kenakalan remaja, seperti beberapa waktu lalu terjadi pengroyokan kepada guru yang membuat guru meninggal dunia, pembulian terhadap guru meskipun dikatakan hanya bercanda.

Hal tersebut dapat terjadi bukan hanya dari segi peserta didik itu sendiri yang bermasalah, ataupun kurikulum yang ada tidak tepat sasaran, melainkan dari pendidik, keluarga, dan masyarakat yang kurang berpartisipasi dalam rangka mendidik peserta didik.

Karena untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita mendidiknya. Untuk itu diperlukannya kesadaran dari semua pihak yang terlibat, baik pendidik, keluarga, dan lingkungan sekitar untuk memperbaiki sikap dalam mendidik generasi-generasi muda.

Sikap yang harus ditunjukkan kepada anak-anak untuk mendidiknya, yaitu dengan menggunakan asas Ing ngarso sung tuladho, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Artinya, kita harus menjadi teladan dan juga memberikan dorongan moral pada generasi-generasi muda.

Daftar Pustaka:

  • Dwiarso Priyo, dkk (2016) Buku Saku Tamansiswa Badan Perjuangan Kebudayaan & Pembangunan Masyarakat, Yogyakarta: Aditya Media
  • SMA Taman Madya. Teori TRIKON, Jakarta (2013)