Di depan forum workshop penulisan sering saya bertanya, “Ketika saya menyebut kata Dewa, apa yang Anda bayangkan?” Kebanyakan mereka menjawab, nama group band dan Dani Ahmad.

Jarang sekali di antara mereka ingat Dewa Shiwa, Dewa Wisnu, Dewa Matahari—denotasi yang belum ditunggangi oleh konotasi yang liar. Nasib serupa juga menimpa Wali, yang spontan dikonotasikan dengan nama group band, Bang Thoyib, Ingat Mati dan seterusnya. Denotasi Wali ketlingsut di pojok sejarah.

Imaji-Konotatif yang Bergentayangan

Polemik full day school dengan segala dinamika, lipatan-lipatan kepentingan, karut marut konteks yang mengirinya, seleh-genje cara pandang dan sudut pandang, pada kadar tertentu adalah pro dan kontra yang disulut oleh imaji-konotatif yang liar menimpa sebuah frasa.

Full day school—sekolah sehari penuh dikonotasikan secara cukup sederhana dan disamakan dengan sekolah delapan jam sehari. Penjelasan full day school tidak sama dengan delapan jam sehari di sekolah yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tidak meredakan polemik.

Bukan karena publik tidak mengerti delapan jam tidak sama dengan 24 jam, melainkan konotasi full day school itu sekolah delapan jam sehari, sekolah pulang sore, sekolah bawa bekal makan siang, sekolah yang sabtu dan minggu libur—telah melekat di benak publik.

Full day school mengalami konotasi yang liar sekaligus menyempit. Hingga evolusi konotasi yang terus bergulir akan membentuk denotasi baru yang benar-benar berbeda dengan denotasi full day school itu sendiri. Imaji full day school identik dengan sekolah mahal—lengkap dengan pernak-pernik status sosial, gaya hidup, pola asuh—bahkan telah menancap sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Diksi “pendidikan” pun mengalami nasib serupa. Pendidikan yang belum ditunggangi kuda liar konotasi otomatis dimuati oleh adab, akhlak, moral, karakter, unggah-ungguh, sopan santun, tata krama, intelektualitas, logika berpikir, bakat, talenta. Tapi siapa yang peduli dengan semua diksi itu?

Pendidikan yang dikonotasikan dengan sekolah menunjukkan sikap yang subtantif itu tidak menjadi bagian yang integral, sehingga diperlukan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Lantas, pendidikan denotatif model apa yang selama ini kita selenggarakan di sekolah-sekolah itu?

Ironisnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menaruh perhatian yang sangat serius pada persekolahan—tidak kepada pendidikan.

Kita bisa menderet sejumlah kata dan frasa, misalnya khilafah, ustadz, pendidikan karakter, gerakan literasi, gerakan membaca, tahajud call, ayo bersedekah—yang konotasinya bergerak liar. Perubahan diksi murid, siswa, peserta didik tidak pernah serius dikaji dan dipelajari.

Tidak apa-apa. Yang selalu membuat kita ribut dan bertengkar adalah gula, bukan rasa manisnya. Yang selalu membuat kita gontok-gontokan adalah garam, bukan rasa asinnya. Yang selalu membuat kita terbelah diantara kutub pro dan kutub kontra adalah sekolah, bukan pendidikannya.

Baru Sedang Belajar Menjadi Manusia

Terkurung dalam situasi imaji-konotatif membuat kita luput dan mrucut menangkap denotasi-substantif persoalan. Kita mempertengkarkan imaji-imaji yang bergentayangan di kepala kita masing-masing. Imaji-imaji itu dikendalikan oleh nalar politik pendidikan, sehingga yang primer adalah menambah beban kerja guru, memperpanjang waktu peserta didik bersekolah, lalu menyisakan cukup dua hari untuk berlibur bersama keluarga.

Konotasi sekolah yang menelan denotasi pendidikan akan merampas peran orangtua sebagai pendidik utama, merobohkan keluarga sebagai salah satu pilar pendidikan, meremehkan keluarga sebagai “institusi” pendidikan paling tua sepanjang abad.

Sekolah yang ditunggangi kuda binal konotasi mencibirkan bibir ketika usai sekolah seorang anak harus membantu ayahnya meladang atau ngarit rumput, mengejek kenyataan kultur irama bekerja orang-orang di desa, menertawakan kearifan universal kampung-kampung adat yang lahir di muka bumi jauh sebelum masyarakat modern melahirkan sekolah.

Sekolah yang memisahkan diri dari denotasi pendidikan akan selalu menyangka bahwa semua orangtua sedang dilanda gila kerja—berangkat sebelum shubuh, pulang kerja ketika anak-anak sudah tidur—sehingga dengan gagah menawar-nawarkan diri sebagai satu-satunya institusi yang paling peduli dengan karakter peserta didik.

Sekolah yang dikuasai oleh gurita politik pendidikan akan mengolah konotasi yang sudah sedemikian liar untuk memproduk konotasi-konotasi baru: citra, image, brand, kesan, status yang betatapun sangat mulia, ternyata berdenotasi pada egoisme dan materialisme.

Sekolah yang bukan sekolah, pendidikan yang bukan pendidikan, akan selalu mengeluhkan orangtua dan masyarakat sebagai pihak yang merobohkan bangunan nilai pendidikan;  sebaliknya orangtua dan masyarakat akan selalu menyalahkan sekolah sebagai institusi yang merampas anak-anak dari tanah kehidupan tempat mereka berpijak.

Niat baik sekolah yang diwakili oleh keputusan pemerintah mendapat resistensi di tengah publik. Sebaliknya, kepedulian orangtua dan masyarakat kepada pendidikan akhlak, karakter, tata krama, sopan santun, adab yang selama ini terselenggara melalui Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), gerakan pemberdayaan membaca, pengajian rutin di kampung, atau pendidikan kearifan universal yang tidak kasat mata di kampung-kampung adat—perlu dilembagakan, dikurikulumkan, diformalkan oleh agar sah dan resmi disebut pendidikan.

Padahal, guru ngaji TPQ di pelosok kampung, di gang-gang sempit perkotaan, dengan gaji yang ndak tentu, hampir bisa dipastikan adalah warga setempat, yang memperoleh “restu” secara akhlak dari masyarakat. Adalah kebodohan guru TPQ apabila ia mengajarkan aliran sesat atau menanamkan radikalisme kepada anak-anak. Kontrol agama, budaya, kultur, adat istiadat warga pasti berlaku. Masyarakat tidak bodoh-bodoh amat mengawal pendidikan.

Sayangnya, tangan kuasa sekolah merengkuh pilar pendidikan di masyarakat ke dalam dekapan formalisme pendidikan—formalisme yang ujung-ujungnya adalah nilai di rapor. Saya tidak sedang mengutuk sekolah dan pendidikan. Miskinnya alur logika sebab akibat dan rabunnya mata melihat konteks kebhinekaan bangsa Nusantara adalah ladang subur bagi kuda binal konotasi.

Artinya, yang bermasalah bukan pendidikan, sekolah, atau konotasi kata per kata, melainkan jangan-jangan, kita baru sedang belajar menjadi manusia, sebab pendidikan karakter adalah “sub dari sub-bab” keluasan dan kedalaman semesta jagad alit bernama manusia .