Pendidikan seksual sering kali dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Bahkan beberapa orang menganggap bahwa topik yang menyangkut tentang seksual merupakan hal privasi yang seharusnya tidak dibicarakan terutama pada anak-anak atau remaja. 

Mengapa seperti itu? Dapat dikatakan bahwa masa anak-anak hingga remaja adalah masa di mana hasrat ingin tahu anak sedang membludak. Hal tersebutlah yang dikhawatirkan apabila dengan diberikannya pendidikan seksual akan membuat anak menjadi ingin tahu, mencari lebih dalam, dan akhirnya terjerumus untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Pemikiran di atas perlu diluruskan karena pendidikan seksual bukan hanya tentang mengajarkan berhubungan seksual melainkan dapat bertujuan untuk mengedukasi anak-anak dan remaja untuk mengetahui kondisi seksual, kesehatan seksual reproduksi, cara melindungi diri dari pelecehan seksual, dsb. 

Dengan tidak adanya pendidikan seksual, anak cenderung akan mencari tahu sendiri entah melalui browsing internet atau dari teman sebayanya. Hal tersebut dapat lebih menjerumuskan anak apabila anak menyerap informasi yang salah dan mempelajari hal-hal yang negatif.

Pada zaman sekarang, banyak sekali pelecehan seksual yang terjadi entah secara verbal maupun non-verbal. Contoh kasus yang sedang marak adalah kasus catcalling. Kasus tersebut banyak sekali di temukan di jalan raya di mana terdapat anak laki-laki yang memanggil atau menggoda perempuan yang melintas di daerah tersebut.

Pernah beberapa kali saya menjumpai kasus tersebut, di mana saat itu saya posisi perjalanan pulang setelah bermain sekitar pukul 9 malam. Keadaan jalan saat itu masih ramai, jadi saya berani untuk pulang sendirian. 

Tak disangka dari belakang saya, ada beberapa motor yang sudah mengikuti dan hendak menyamakan posisi dengan motor saya, dan setelah sejajar anak-anak lelaki tersebut menggoda dengan kata kata seperti “cewek, kok sendirian saja?”

Saya akhirnya menekan klakson sehingga orang-orang di sekitar memperhatikan keadaan saya dan akhirnya beberapa anak lelaki itu perlahan menjauh dan tidak mengikuti saya lagi. Bukan hanya terjadi pada saya, banyak teman saya pun mengalami hal yang serupa.

Kejadian di atas tersebut sudah terasuk sebagai pelecehan seksual secara verbal, di mana dengan kalimat yang menggoda itu termasuk merendahkan harga diri orang lain dan membuat ketidaknyamanan. Kalimat godaan pun bisa lebih parah dari itu dan setelah mengucapkan kalimat itu biasanya mereka akan berbangga diri dan menganggap bahwa itu adalah hal yang lumrah dan mengasyikkan. Padahal sama sekali tidak.

Pelecehan seksual lain yang marak terjadi adalah penyalahgunaan sosial media sebagai sarana pemenuhan nafsu seseorang. Tak asing lagi bagi remaja zaman sekarang bahwa terdapat aplikasi yang dapat mengunggah foto diri kita untuk dibagikan kepada banyak orang. 

Sudah banyak kasus di mana hal tersebut disalahgunakan oleh oknum yang menjadikan foto tersebut sebagai bahan pemuas nafsu dan secara terang-terangan melakukan pelecehan melalui fitur pesan pada aplikasi tersebut. Beberapa kali saya melihat pada akun seorang influencer mendapatkan komentar ataupun pernyataan bahwa ia mendapat pesan yang berisikan kalimat-kalimat mesum yang sudah di luar batas.

Hal di atas adalah contoh secara verbal. Tindakan pelecehan seksual juga banyak terjadi secara non-verbal. Pelaku umumnya lebih agresif karena melakukan tindakannya dengan aksi nyata, bukan hanya sekedar kata-kata saja. Tidak hanya di Indonesia, pada banyak negara pun kasus pelecehan seksual merupakan hal sudah yang banyak terjadi. Contoh yang paling sering terjadi adalah pemerkosaan. 

Baru-baru ini muncul kasus pemerkosaan seorang siswi SMA di Kota Padang yang ternyata pelaku pemerkosaan adalah anggota keluarga korban sendiri. Pada awalnya anggota keluarga mengetahui bahwa korban mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri di sosial medianya. Anggota keluarga yang khawatir pun menanyakan kepada korban dan ternyata korban mengakui bahwa ia telah dicabuli oleh salah satu anggota keluarganya sedari kelas 5 SD.

Dari beberapa contoh di atas, menunjukkan bahwa adanya pendidikan seksual sangat penting untuk diterapkan di Indonesia. Pendidikan seksual dapat mengedukasi anak untuk memahami kondisi seksual dan batasan dalam hal seksual tersebut. Anak yang mendapatkan pendidikan seksual cenderung untuk mengetahui norma terhadap perilaku seksual dan lebih bertanggung jawab terhadap kebutuhan seksualnya.

Tidak hanya itu, pendidikan seksual juga berperan dalam perlindungan diri seseorang terhadap pelecehan seksual. Pendidikan seksual mengajarkan untuk mengetahui apa saja bagian tubuh yang perlu dijaga dan tidak boleh disentuh orang lain, hal- hal apa saja yang perlu dilakukan apabila mengalami pelecehan seksual, dan akibat apa saja yang terjadi setelah terjadi aktivitas seksual atau pelecehan seksual.

Peran orang tua sangat penting untuk mengajarkan pendidikan seksual. Sedari dini, anak harus diberi tahu secara bertahap tentang perubahan seksual yang terjadi pada anak. Orang tua juga harus aktif mengawasi anak dan peka terhadap perubahan anak. 

Apabila orang tua lalai atau tidak memedulikan hal tersebut, anak akan mengeksplorasi dunia luar tanpa adanya arahan orang tua dan bisa saja terdapat hal-hal yang tidak diinginkan. 

Seperti contoh kasus pemerkosaan di atas. Pelaku memilih untuk memendam kejadian yang telah menimpanya dan membuatnya tertekan secara mental. Keluarga mengetahui bahwa korban telah mengalami pemerkosaan setelah korban merasa depresi.

Jadi, apakah pendidikan seksual itu menjerumuskan anak? Menurut saya, tidak. Pendidikan seksual dapat dijadikan sebagai pengetahuan anak agar dapat turut mengurangi kasus pelecehan seksual dan kasus seksual lainnya. Jangan jadikan pendidikan seksual sebagai hal yang tabu. Biasakan pendidikan seksual secara bertahap mulai sekarang.