Sekolah pun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal-tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.

Seperti apa yang dikatakan Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir 2 di atas bahwa sekolah bukanlah tolak ukur masa depan, melainkan hanya sarana dari terbatasanya ruang mencari pendidikan di neegri ini.

Sering terjadi, beberapa anak mengalami depresi ketika mendapati hasil ujian yang tidak memuaskan. Bukan sebab ia minder dengan kawannya yang lain, melainkan takut akan tuntutan orang tua agar memahami setiap mata pelajaran yang tertera.

Orang tua sering kali tidak paham bahwa pendidikan di negara ini terlahir prematur. Entah bodoh atau tidak mampu, para orang tua begitu lugu, memercayakan sekolah sebagai yang paling berwenang menentukan kepintaran seorang anak.

Hasilnya, beberapa anak lebih memilih menjual kejujuran demi nilai sempurna yang dipatok sekolah dan para orang tua. Menyontek adalah suatu bentuk depresi dari ketidaktahuannya tentang potensi diri.

Pada tahun 2014, lima murid sekolah menengah atas di Kabupaten Jember, Jawa Timur mengalami depresi berat menjelang Ujian Nasional. Kelima siswa tersebut harus menjalani terapi di poli jiwa Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi, Jember. 

Tiga tahun berikutnya, terdapat kasus bunuh diri akibat nilai Ujian Nasional yang tidak sesuai harapan. Siswi SMPN 2 Manisrenggo itu mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada Jumat siang pasca pengumuman hasil Ujian Nasional.

Tidak hanya di Indonesia, kasus bunuh diri pelajar juga dialami di beberapa negara. Di Korea Selatan, misalnya, tercatat sebanyak 139 siswa bunuh diri sepanjang tahun 2012. Salah satu penyebabnya karena tekanan ujian sekolah.

Apa yang salah pada pendidikan? Mengapa sebuah lembaga yang berkomitmen mencerdaskan malah menjadi mematikan? 

Kita seharusnya paham bahwa anak bukanlah alat bisnis, disekolahkan agar bisa mempunyai pekerjaan layak (gaji besar), bukan disekolahkan agar ia bisa menjadi makhluk hidup yang berakal. Jika anak terus dipaksa sesuai mau orang tua, lalu bagaimana ia bisa jadi manusia merdeka? Memilih atas yakinnya sendiri, mencoba menggali potensi diri.

Orang tua kadang-kadang begitu tidak adil pada anaknya sendiri. Saat nilai ulangan rendah, seorang anak akan mendapat celaan atau bahkan pukulan dari orang tuanya, tetapi sedikit sekali orang tua mengapresiasi apa yang dikerjakan anaknya. 

Barangkali orang tua kerap cemas pada anaknya, cemas pada masa depan anak, padahal bisa jadi orang tua bertaruh gengsi dengan orang tua yang lain, berjudi, mengklaim anak siapa yang paling hebat. Hasilnya, para orang tua akan menghalalkan segala cara agar bisa menyaingi anak temannya, menumbalkan anak demi gengsi yang membabi buta.

Anak yang tidak menurut akan dicap durhaka, mengutuk dengan sumpah serapah, menampar dengan berbagai macam kata. Tidakkah para orang tua sesekali menanyakan pada anak, apa maunya? Bahagiakah dengan apa yang dipilihnya? Sayangnya orang tua sering kali melangit, dengan merasa paling benar dan mengerdilkan pendapat anak-anak.

Egosentri orang tua sering kali menjadi klaim bahwa apa yang akan ia lakukan pada anak adalah yang terbaik. Padahal, seiring bertambahnya tahun, peradaban mulai berubah. Kondisi yang orang tua alami saat muda belum tentu sama terjadi pada anaknya ketika remaja. 

Seorang anak yang pandai bergaul dan pandai bicara adalah anak yang suka bersosialisasi. Anak seperti ini seharusnya ditempatkan pada ilmu sosial. 

Akan tetapi, faktanya, banyak orang tua yang tetap memaksa agar anaknya masuk jurusan sains, entah karena tidak paham potensi anak atau memang sedari awal berniat mengeksploitasi anak agar bisa menjadi apa yang ia cita-citakan, bukan menjadi apa yang anaknya inginkan.

Mengkotak-kotakan jurusan IPA atau IPS dalam sekolah menengah atas ini juga salah satu bentuk cacatnya pendidikan kita. Memang benar jika anak IPA bisa lebih banyak opsi memilih jurusan ketika melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sedangkan yang IPS hanya bisa di ranah sosialnya sendiri. Tetapi, tidak ada jaminan seseorang bisa sukses hanya karena jurusannya. 

Jurusan IPA memang terlihat lebih superior. Tetapi mereka lupa bahwa setiap hal yang akan mereka lewati pada jenjang berikutnya dibutuhkan komunikasi yang baik, yang mana ini hanya diajarkan pada mereka yang jurusan IPS.

Seharusnya orang tua bisa menengahi diskriminasi pendidikan semacam ini, bukan malah mengiyakan dan mengajarkan anak perihal merendahkan. Berhitung memanglah penting, tetapi membaca juga tak kalah penting. Seekor burung bisa terbang lantaran ia punya sayap. Kita seharusnya memaklumi itu, bukannya malah merendahkan ikan yang bisa berenang.

Mengajarkan anak perihal pelajaran akan sangat berguna untuk sang anak. Tetapi mengajarkan toleransi dan sifat rendah hati itu akan berguna pada dirinya dan lingkungannya.

Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ~ Ki Hajar Dewantara