Perubahan pendidikan menengah atas adalah hal menarik yang sering dibahas di seluruh Indonesia. Mengapa? Sebab pendidikan menengah atas sangat menentukan kualitas SDM suatu bangsa. Inilah institusi di mana manusia dikembangkan di awal masa usia produktif (usia 15-18 tahun). Sehingga, hal ini sering menjadi bahan pembicaraan yang berbobot.

Begitu juga di SMA Dian Harapan Cikarang. Perubahan yang terjadi di sektor pendidikan menengah atas sudah sering digaungkan, baik di antara guru, guru dan murid, dan antar murid. Tetapi, gaung ini bukan tong kosong semata. SMA Dian Harapan Cikarang sudah menerapkan dan mengalami berbagai arus disrupsi di pendidikan menengah atas.

Maka dari itu, penulis mewawancara salah satu guru inspiratif di SMA Dian Harapan Cikarang. Beliau adalah Bapak Thurneysen Simanjuntak (selanjutnya disebut Bapak Thur), guru Sosiologi dan Sejarah yang terkenal dengan berbagai pernyataannya yang jitu dan bermakna. Berikut adalah hasil wawancara yang penulis rangkum dalam suatu untaian paragraf.

Pendidikan menengah atas di masa lalu, khususnya di masa di mana Bapak Thur mengenyam pendidikan SMA, ternyata jauh berbeda dibandingkan pendidikan di masa sekarang. “Kalau dari segi aspek pengajaran di kelas, (memang) cenderung monolog,” ujar Beliau. “Informasinya cenderung berasal dari guru, bukan siswa yang mencari.” Selain itu, materi yang disediakan juga cenderung monoton, “Cenderung kurang variatif,” ujar Beliau.

Sementara, pendidikan menengah atas di masa sekarang cenderung mengedepankan kebebasan berpendapat dan pemikiran kritis. “Sekarang, semakin berkembang, salah satunya nuansa kebebasan berpendapat. Itu sangat memengaruhi perkembangan cara berpikir siswa sekarang,” ujar Beliau. “Nuansa demokratis makin dibangun di dalam kelas, dan dialog juga semakin diperbanyak.” Sehingga, kemandirian siswa dalam belajar pun meningkat

Tetapi, tren pendidikan menengah atas yang sudah muncul di masa sekarang akan bertambah besar di masa yang akan datang. Sosok yang dikenal kalem ini menyatakan bahwa, “Kalau di masa depan, siswa itu sudah memiliki kesempatan untuk mencari informasi. Jadi, siswa sebenarnya sudah sangat terbuka, mendapatkan pengetahuan/kognitif.”

Sehingga, disrupsi menciptakan suatu perubahan dalam tumpuan pendidikan, “Harusnya, pendidikan di masa yang akan datang itu harus lebih mengajarkan life skills, baru ke karakter,” tegas Beliau. “Life skills dan karakter tidak mungkin bisa digantikan dengan teknologi.”

Sehingga, pendidikan menengah atas di masa depan memiliki perbedaan yang cukup besar dengan pendidikan menengah atas di masa lalu dan sekarang. Mengapa? “Kalau dulu itu kan lebih banyak ke kognitif, kalau sekarang kan life skills sudah mulai dikembangkan,” kata Beliau mantap. Ini menandakan adanya arus disrupsi dalam bidang pendidikan menengah atas.

Iya, disrupsi sedang dan akan terjadi dalam bidang pendidikan menengah atas. Fenomena ini memiliki andil dalam membentuk model pendidikan menengah atas, kini dan nanti. “Kalau misalkan sekolah tidak membiasakan ke arah sana (Industri 4.0), maka nanti siswa tidak akan bisa membentuk masa depan itu sendiri.”

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa arus disrupsi pada pendidikan menengah atas menciptakan disruptors, agen perubahan di masa depan.

Untuk mengejawantahkan arus ini, Beliau meningkatkan porsi sesi diskusi dan tanya jawab di dalam kelas. Ini bertujuan untuk mendorong critical thinking para murid. “Critical thinking adalah salah satu skill yang dibutuhkan dalam 10 itu (10 skills),” ucap Beliau. Selain itu, kemampuan menuangkan gagasan dan menulis juga Beliau latih di dalam kelas. “Itu tidak bisa digantikan dengan teknologi.”

Bagi Beliau, wujud disrupsi yang paling bermanfaat adalah terpancingnya murid untuk berpikir kritis. Proses berpikir ini terbentuk dari adanya tanya jawab. “Kemarin, saya juga baca, ternyata anak-anak zaman sekarang kalau ditanya, jawabannya singkat-singkat. Jadi, dia gak bisa memunculkan jawaban yang panjang.” Diharapkan, dengan adanya dorongan untuk berpikir kritis, maka kecenderungan buruk ini bisa berkurang di antara anak-anak SMA zaman now.

Terakhir, Beliau memiliki pesan untuk seluruh guru dan murid sekolah menengah atas di Indonesia. “Guru harus membentuk life skills dan karakter. Itulah yang membangun semangat dia (murid) untuk berkompetisi, bertanggung jawab. Diharapkan , guru itu sudah lari ke arah sana, tidak hanya sekedar konsep-konsep,” pesan Beliau untuk para guru di Indonesia.

“Murid juga harus menyikapi perubahan itu secara terbuka. Jangan terpaku pada kemapanan dan kenyamanan. Banyak dari kita (siswa SMA) yang terpaku pada zona mapan dan zona nyaman. Padahal, zaman kan gak tau, bisa berubah. Jika murid tidak punya pegangan, misalkan kemampuan bersaing, bertanggung jawab, maka bisa habis juga.”

Maka dari itu, mari kita terus berbenah dalam menghadapi disrupsi pendidikan menengah atas, untuk menyongsong kualitas pendidikan yang lebih baik. Nasib negara kita ditentukan olehnya.