Setelah anda membaca judul film Jojo Rabbit, saya sarankan supaya jangan mengajak anak-anak, keponakan, atau anak-anak tetangga untuk nonton bareng

Sepintas dari judulnya, film ini seolah membuat orang membayangkan tentang dunia fantasi anak-anak, semacam kisah Alice dalam Alice in Wonderland. Jika anda berpikir demikian, maka penting untuk saya ingatkan bahwa film ini bukan film petualangan fantasi yang ramah untuk anak-anak. 

Alih-alih suasana riang gembira, film ini lebih menampilkan kesuraman karena berlatar di Jerman pada masa Perang Dunia II. Di dalam kesuraman perang ini, nyatanya terselip fakta tentang indoktrinasi anak-anak oleh Nazi yang sukses ditampilkan oleh film ini.

Film satire Pemuda Hitler

Film bergenre komedi adaptasi novel Caging Skies ini disutradarai oleh Taika Waititi. Tema yang diusung cukup serius yakni tentang Nazi-Jerman, namun dikemas secara jenaka, satir dan menghibur. Kemasan yang menarik membawa film ini memenangkan People’s Choise Award di Festival Film Internasional Toronto dan menjadi kandidat kuat memenangkan Oscar. 

Jojo Rabbit mengisahkan tentang seorang bocah berusia 10 tahun bernama Johannes (Jojo) Betzler (Roman Griffin Davis), yang tergabung sebagai anggota Deutsches Jungvolk. Seperti halnya para pemuda Nazi yang lain, ia sangat menjunjung dan mengagumi Der Fhrer (Hitler), bahkan memiliki teman khayalan berwujud Hitler (Taika Waititi).

Kamp pelatihan Jungvolk biasanya diselenggarakan di alam terbuka. Jangan ber-asumsi akan ada semacam kegiatan pramuka yang penuh riang gembira dengan yel-yel dan permainan seru, karena kenyataannya sama sekali berbeda. 

Di pelatihan tersebut, Jojo bersama kawan-kawannya diberi pelajaran mengenai doktrin-doktrin Nazi oleh instruktur galak Frulein Rahm (Rebel Wilson) dan pelatihan-pelatihan perang oleh Kapten Klenzendorf (Sam Rockwell) seperti cara untuk menggunakan senjata ataupun bom molotov. Sebagai persiapan menjadi pembunuh kejam salah satu latihan di kamp ini adalah dengan membunuh kelinci. 

Ketika ini, Jojo mendapatkan julukan Jojo Rabbit lantaran menolak dan menangis karena tidak ingin membunuh kelinci lucu yang tak bersalah. Tak berapa lama, Jojo mengalami insiden meledaknya granat yang melukai sekujur tubuhnya, sehingga ia harus dioperasi dan dipulangkan ke rumahnya.

Di rumahnya, Jojo harus menghadapi realitas bahwa ibunya, Rosie Betzler (Scarlett Johansson) seorang anti-Nazi, menyembunyikan seorang gadis Yahudi bernama Elsa Korr (Thomassin McKenzie) di loteng. 

Pertemuannya dengan Elsa yang merupakan sahabat kakaknya yang telah meninggal, membuka matanya dalam memandang orang Yahudi maupun memandang dirinya sebagai seorang anak normal berusia 10 tahun. Ia menjumpai realitas seorang Yahudi yang sama sekali berbeda dengan apa yang ditanamkan padanya di Jungvolk. 

Selama ini dia diajarkan bahwa orang Yahudi adalah ras yang rendah dibanding dengan ras arya dengan bentuk fisik seperti monster, kebiasaan hidup yang aneh dan gambaran buruk lain yang tidak manusiawi. Seiring waktu dengan berbagai konflik, mereka mulai berteman dan bahkan muncul benih cinta di hati Jojo kepada gadis yang lebih tua darinya itu. 

Konflik di dalam hatinya muncul ketika loyalitas terhadap Nazi dan Hitler yang harusnya terwujud dengan membunuh gadis Yahudi atau melaporkannya kepada polisi keliling dihadapkan kepada perasaan persahabatan dan cinta.

Indoktrinasi anak-anak

Meskipun semua karakter dalam film ini adalah fiksi, namun kisah keberadaan Deutsches Jungvolk (Young People) dan Jungmadel (young Girls) benar-benar ada dan ditampilkan begitu realistis melalui kostum dan perlengkapan yang mirip dengan aslinya. Deutsche Jungvolk (anak-anak ber-usia 10-14 tahun) merupakan cabang yang lebih muda dari Hitlerjuegend (remaja ber-usia 15-18 tahun)

Keberadaan organisasi-organisasi gerakan pemuda Hitler yang terbentuk pada tahun 1920-an ini memang telah diatur untuk mempersiapkan penerus partai Nazi yang handal dan berbedikasi bagi Der Fhrer dan tanah air. Anak-anak yang boleh masuk sebagai anggota Jungvolk wajib menjadi anggota Partai Nazi, orang Jerman asli ber-ras Arya dan wajib mengikuti latihan militer sekaligus indoktrinasi Nazi. 

Mulanya keanggotaan di dalamnya terbuka bagi siapa saja yang bersedia hingga pada tahun 1936, ada peraturan yang mewajibkan semua anak laki-laki dan perempuan untuk bergabung dengan organisasi-organisasi tersebut. Orang tua yang tidak mengizinkan bisa dihukum kurungan penjara dan dianggap pengkhianat.

Menarik untuk dicermati bagaimana strategi licik Nazi telah memanfaatkan anak-anak yang tidak berdosa menjadi senjata penegak ideologi mereka di masa depan. Kala itu, sekitar 300.000 guru tergabung dalam organisasi bentukan Nazi bernama Liga Guru Nasionalis yang diberi tugas mulia untuk mengajarkan doktrin-doktrin Nazi kepada murid-murid-nya. Di dalam kelas Deutsche Jungvolk, anak-anak diajari untuk memiliki kesadaran penuh akan ras mereka, patuh dan rela berkorban untuk Der Fuhrer dan tanah air. 

Mereka juga diajarkan untuk membenci dan bertindak rasis, terutama terhadap Ras Yahudi dengan kesadaran cinta dan patuh terhadap otoritas negara dan menjunjung antisemitisme. Kurikulum yang dibuat disesuaikan dengan pandangan Nazi, bahkan sampai ke pelajaran sejarah, matematika, biologi dan geografi. 

Salah satu bukti berhasilnya strategi ini terlihat ketika pemuda pemudi Hitler ini memerintahkan orang-orang Yahudi di Austria untuk membersihkan trotoar dengan tangan dan sikat gigi. Mereka juga membakar sinagoga, tempat ibadah orang Yahudi, membakar perkamen dan kitab suci Yahudi.

Pendidikan yang memanusiakan

N. Driyakara mengatakan bahwa pendidikan memiliki peran sebagai pemanusiaan manusia muda. Dalam tujuan terbentuknya Deutsche Jungvolk, jelas merupakan bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita luhur pendidikan ini. Menarik untuk menarik permenungan pada realitas pendidikan di tanah air. 

Kasus-kasus berkaitan dengan SARA (Suku, Agama dan Ras), ironisnya tidak jarang terjadi karena adanya pembentukan pemikiran sejak usia anak-anak baik melalui lingkungan maupun sekolah. Secara langsung ataupun tidak, orang tua maupun guru di sekolah memberikan pengajaran yang keliru ketika mengidentifikasikan suatu ras atau agama dengan kejelekan tertentu.  Tidak heran bahwa ketika dewasa,  sebagian masyarakat kita masih mudah untuk dikonfrontasi dengan sentimen-sentimen berbau SARA di mana-mana.

Pendidikan seharusnya menanamkan suatu kesadaran kepada anak-anak bahwa pribadi manusia adalah subyek yang otonom, namun masih tetap hidup bersama dengan masyarakatnya. Anak-anak harus disadarkan akan adanya sesuatu yang bukan aku, namun memiliki martabat dan derajat yang sama seperti aku yang dalam bahasa Indonesia disebut sesama, atau Ich-Du (I-Thou) yang diungkapkan oleh filsuf Martin Buber. 

Hubungan antar manusia ini sama sekali tidak bersangkutan dengan identitas suku, ras, maupun agama tertentu. N. Driyakara menegaskan pendidikan harus membantu agar seseorang secara tahu dan mau bertindak sebagai manusia, bukan hanya bertindak secara instingtif (proses hominisasi) dan Pendidikan juga merupakan usaha agar seluruh sikap dan tindakan serta kegiatan seseorang benar-benar bersifat manusiawi dan semakin manusiawi (proses humanisasi). 

Pada akhirnya, kita selalu berharap agar pendidikan di Indonesia tidak melulu membentuk orang-orang yang cakap dan siap kerja tetapi juga membentuk orang menjadi lebih manusia salah satunya dengan kesadaran anti-rasisme.