Ada kecenderungan yang nampak dominan pada anak-anak kita saat ini. Mereka adalah anak-anak yang tak lagi aktif, tak lagi gesit dan lincah sebagaimana orangtua kita di masa lampau. Saat ini, anak-anak disuruh lari, atau berjalan dalam jarak yang cukup jauh saja mengeluhnya minta ampun. Mereka sudah merasa tak kuat, lelah dan capek. Secara fisik, kekuatan mereka menurun drastis dibanding dengan kekuatan orangtua mereka semasa sekolah dulu.

            Apa sebab mereka demikian?. Selain karena faktor sekolah yang tak membuat anak banyak bergerak, dan ruang belajar yang semakin sempit, mereka sudah tak lagi menerapkan kurikulum pendidikan aktif dan kreatif. Dua kata aktif dan kreatif ini yang sekarang ini semakin luntur dalam dunia pendidikan kita. Konsep pendidikan aktif dan kreatif ini didapat dari Mohammad Sjafei, salah satu pemikir pendidikan di negeri ini. Ia adalah pendiri sekaligus guru di INS kayu tanam Sumatera Barat, Minangkabau tepatnya. Sekolahnya “Ruang Pendidik” dibangun pada 31 Oktober 1926 dan bubar saat penjajahan Belanda tahun 1947.

            Meskipun sudah tak ada lagi sekolah INS kayu tanam, tapi konsep pendidikannya masih relevan kita pakai di masa sekarang. Menurut Mohammad Sjafei, untuk mencapai pendidikan yang maksimal, tak hanya mata pelajarannya saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga cara mengajarnya juga tidak boleh diabaikan. Mohammad Sjafei membedakan pengertian antara pendidikan dan pengajaran. Menurutnya, pendidikan adalah melatih jiwa dan hati, sedangkan pengajaran mengisi otak. Selama ini, pendidikan kita lebih nampak mengandalkan pada pengajaran, padahal pendidikan inilah yang penting dan fundamental.

            Bila melihat sekolah-sekolah di negeri, atau swasta saat ini, kita menjadi prihatin. Sekolah semakin mengarah pada formalitas dan tak terlepas dari meja dan kursi. Aktifitas belajar seolah hanya berada di ruang kelas semata. Hal ini mengingatkan kita pada memori sekolah yang dialami oleh Tagore. “Hari-hari berlalu begitu saja. Sekolah selalu saja mencungkil sebagian besar hari, menyisakan sedikit pagi dan sedikit sore. Begitu aku masuk kelas, meja dan bangku tampak seperti siap menyikutku dengan siku-sikunya yang kering lagi tajam. Hari demi hari mereka tampak selalu saja kaku. Aku baru akan pulang menjelang petang. Di ruang belajar, lampu minyak menyorot seperti perintah agar aku menyiapkan lagi pelajaran esok harinya”.

            Kertas dan alat belajar seolah hanya buku dan alat tulis, alat belajar dan media pengajaran seolah tak lagi memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita. Akibatnya jelas, selain sensitifitas dan kesadaran kita menjadi kurang, kita menjadi manusia yang terlampau cuek. Lihatlah anak-anak kita saat memperhatikan meja dan kursi mereka kotor, jendela mereka kotor, bahkan celana atau sepatu mereka kotor. Mereka tak dididik lagi untuk mengenali tubuh mereka, lingkungan mereka, sampai dengan apa yang ada di sekitar mereka dan cara kita meresponnya.

            Kecenderungan belajar yang seperti ini bukan hanya berbahaya, tetapi mengingkari adanya Tuhan Yang Maha Esa. Pendapat yang cukup menampar ini saya peroleh dari amanah almarhum Mohammad Sjafei: “ Kita manusia Pancasila mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, haruslah mendidik dan membentuk anak-anak dan keturunan kita, selalu aktif dan kreatif. Sebab kita mengakui dengan keinsafan dan kesadaran, bahwa alam-bumi dan makhluk insani ciptaan Tuhan selalu tumbuh dan bergerak. Mendidik manusia pasif berarti kita mengingkari adannya Tuhan Yang Maha Esa” (Ibrahim, Thalib, 1978:9).

            Tubuh yang bergerak itu sejalan dengan pemikiran Prof. Dr.G.Revesz dalam bukunya Tangan Manusia Suatu Studi Psikologi yang mengatakan : “Dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia lahir dan batin, tanganlah yang memainkan peranan yang paling aktip bekerja dalam masyarakat. Tangan manusialah merupakan alat sejagat yang paling dikagumi. Ia selalu memainkan peranan utama dalam berbagai macam pekerjaan. Semula tangan hanya dipergunakan untuk menangkap dan memegang sesuatu, tetapi oleh otak digerakkannya menjadi tangan yang bekerja”.

            Keadaan sekolah-sekolah kita saat ini, semakin mengurangi bagaimana menggunakan tangan. Kegiatan murid belajar mengajar seolah hanya memegang pensil dan menulis di buku semata. Tangan, terlihat aktif dan digunakan dekat dengan alam hanya saat-saat kita melakukan studi wisata. Ini terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini, sehingga kita baru sadar kalau ternyata dalam pelajaran di luar kelas, anak-anak begitu cekatan, mampu mengembalikan fungsi tangan mereka kepada keadaan yang semestinya.

            Terlebih di era sekarang ini, era hand-phone dan gadget. Anak-anak lebih senang, menghabiskan tangan mereka untuk memencet teknologi. Mereka tak aktif membersihkan rumah, mencuci piring, sampai dengan membersihkan kaca rumah mereka. Dahulu, kita sering menjumpai buku-buku sering mengisahkan bagaimana anak peduli terhadap rumah, dan keadaan di sekitarnya terutama di saat Orde Baru. Mereka bakal menemui cerita anak yang rajin dan membantu orangtua di buku-buku cerita. Kini, cerita seperti itu jarang dikisahkan dan dipraktikkan dalam keseharian di rumah maupun di sekolah. Sehingga tangan anak-anak kita pun makin pasif.

            Pentingnya pendidikan dengan menggunakan gerak, atau praktik ini juga disinggung oleh F.M.E Montaigne seorang ahli pendidikan (1553-1592) mengatakan: ilmu yang masuknya hanya dengan perantaraan kata-kata saja, sama dengan mata uang yang tidak berharga” (Ibrahim, Thalib, 1978:39).

            Menurut Mohammad Sjafei, ada lima cara menerapkan pendidikan aktif dan kreatif pada murid diantaranya : Pertama, bekerja dengan anggota badan harus dijalin dalam pelajaran. Kedua, berbagai macam keterangan dan penjelasan dengan kata-kata oleh guru musti diganti dengan perbuatan murid. Ketiga, otak harus dilatih dengan mempergunakan sifat gerakan, (motorik) dengan pekerjaan tangan dan lain-lain gerak. Keempat, pekerjaan perlu bersifat mencipta dan produktif. Kelima, selain pekerjaan tangan perorangan dilakukan pula secara gotong royong.

            Cara belajar yang membuat anak aktif ini tentu bukan hanya membuat anak mudah mengingat, tetapi secara tidak sadar telah mengubah bagaimana pengajaran kita selama ini yang berkutat dan terpaku pada guru. Dengan sistem pendidikan aktif INS Kayu Tanam ini, anak-anak lebih banyak diperlakukan menjadi subjek, yang mengalami, yang mengingat, dan dengan mempraktikkan, ia akan terkesan selama-lamanya.

            Sayang, model pendidikan yang demikian, yang mengisi jiwa, bukan hanya otak semata, semakin lama semakin hilang. Sekolah-sekolah lebih mengarah pada bangunan fisik, atau gedung yang megah, membangun perlengkapan yang mewah, tapi lupa, bahwa pendidikan sejatinya memerlukan alam, tangan dan tubuh kita perlu digerakkan untuk menyentuh dan merespon yang ada di sekitar kita. 

Dengan kesadaran semacam itulah, bukan hanya tubuh kita yang bergerak, tetapi sensitifitas, respon sosial kita berjalan, dan secara tak langsung, daya produktifitas kita digerakkan. Barangkali karena itulah, wajah-wajah anak-anak kita yang juara olympiade tingkat internasional, justru kurang aktif, kurang lihai di pelajaran olahraga, kurang gesit dan lincah dibanding dengan anak-anak kita yang sering menyentuh alam, dan menggerakkan tubuhnya.