Akhir-akhir ini, dalam beberapa kasus, anak-anak kita mengalami degradasi moral. Sebagian dari mereka tak punya sopan santun pada orangtua maupun guru. 

Bahkan mirisnya lagi, anak-anak kita ada yang terjebak jadi pelaku kejahatan. Jika ini terus dibiarkan, bangsa kita akan mengalami krisis generasi unggul.

Penanaman budi pekerti sejak dini sangatlah penting. Ini untuk memberikan fondasi budi pekerti yang kokoh pada anak dalam mengarungi hidup di era globalisasi. 

Pendidikan budi pekerti dalam konteks di Indonesia berpijak pada nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sendiri. Pendidikan budi pekerti harus digali dari aspek-aspek budaya daerah.

Kemendikbud sendiri tengah menggelorakan semangat pendidikan yang berkebudayaan. Pendidikan dan kebudayaan harus saling mengisi. 

Pendidikan tanpa kebudayaan sama dengan mencetak manusia tanpa akal budi dan identitas diri. Sebaliknya, kebudayaan tanpa pendidikan hanya akan melahirkan manusia tanpa wawasan yang sangat diperlukan dalam kehidupan secara global.

Di tengah upaya untuk menyandingkan kebudayaan dalam pendidikan, saya menaruh perhatian pada ludruk. Seni pertunjukan (teater) tradisional khas Jawa Timur ini yang biasanya mengambil cerita rakyat, sejarah, dan kehidupan sehari-hari layak untuk dibangkitkan dalam dunia pendidikan kita. Sebab ludruk sarat dengan nilai-nilai pendidikan karakternya.

Sebagai hiburan, ludruk dengan lawakan cerdas yang ditampilkan pemainnya bisa membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Seperti ludruk Kartolo Cs dan Supali. 

Di balik gelak tawa itu, kita juga bisa mendapat pendidikan karakter dari ludruk. Ini bisa kita dapati dari Tarian Remo yang dibawakan di awal ludruk. Gerak tarian asli Jawa Timur ini mengandung cerita kepahlawanan.

Lalu lewat Kidungan atau Parikan (pantun Jawa) yang dinyanyikan mengikuti iringan gendhing Jawa Timur-an dengan musik gamelan, peludruk melontarkan pesan-pesan moral. Misalnya Kidungan yang dibawakan Ludruk RRI Surabaya yang mengandung pesan untuk mengamalkan Pancasila (Wicaksono, 2018):

Pancasila dasar negoro. Nek wernone onok limo. Perlu dihayati lan diamalno. Sebab iku falsafah bongso. (Pancasila dasar negara. Yang warnanya ada lima. Perlu dihayati dan diamalkan. Sebab itu falsafah bangsa).

Lewat lakon, kita pun bisa memetik pendidikan karakternya. Pada lakon Joko Sambang Pendekar Gunung Gangsir, misalnya, nilai karakternya adalah peduli, tanggung Jawab, banyak akal, empati, loyalitas, disiplin, respek, relegius, dan berakhlak mulia. (Sulistyo, 2017). 

Jadi, ludruk sesungguhnya sangat baik sebagai sarana untuk menanamkan nilai karakter pada anak.

Terpinggirkan

Masalahnya sekarang adalah ludruk bisa dikatakan hidup segan mati tak mau. Berubahnya selera pasar membuat kesenian ludruk terpinggirkan. 

Di zaman digital saat ini, masyarakat lebih suka melihat lawakan maupun drama kolosal di televisi dan internet. Ludruk telah kehilangan tempat di hati masyarakat.

Kurang apresiasinya masyarakat kita, banyak grup ludruk yang bubar. Di antaranya dari Sidoarjo ada grup ludruk Bintang Jaya, Gema Wijaya, dan Warna Jaya yang tenar sekitar tahun 1980-an, sekarang grup tersebut tinggal nama.

Para seniman ludruk kemudian ada yang beralih profesi. Ludruk sudah tidak memungkinkan untuk dijadikan ladang mencari nafkah. Sebagian seniman ada yang jadi pengamen jalanan dengan tetap menampilkan bagian ludruk saking cintanya pada ludruk. 

Bubarnya grup-grup ludruk berpengaruh pada eksistensi ludruk. Ludruk kini hanya dikenal di kalangan orang tua. Para seniman ludruk tak sempat mewariskan ke generasi berikutnya.

Di sisi lain, generasi muda kurang meminatinya. Para generasi muda menganggap ludruk sebagai kesenian yang ndesa. Kesenian jadul, tidak gaul, hanya cocok untuk golongan tua. 

Mereka tak mau menonton pementasan ludruk, bahkan enggan mempelajarinya. Sebab lakonnya yang tidak menarik bagi mereka yang lebih suka drama percintaan.

Kondisi ludruk yang makin terpuruk ini bila dibiarkan lambat laun bisa berakibat ludruk hilang dari peredaran alias punah. Saya pikir upaya yang tepat saat ini adalah mensinergikan ludruk dalam institusi pendidikan, yakni ludruk diajarkan di sekolah.

Sekolah-sekolah di Jawa Timur sebagai lembaga pewarisan budaya perlu memasukkan ludruk ke kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Dengan begitu, ludruk akan lestari sebagai budaya daerah khas Jawa Timur sekaligus sebagai sarana pendidikan karakter bagi anak.

Setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan untuk implementasi pendidikan ludruk di sekolah. Pertama, sekolah dasar hingga menengah bisa memasukkan ludruk sebagai mata pelajaran muatan lokal yang harus ditempuh peserta didik, atau pilihan lain sebagai ekstrakurikuler wajib. 

Dalam menyusun materinya, sekolah melibatkan seniman ludruk, dinas pendidikan setempat, dan perguruan tinggi. Ini agar pelajaran ludruk relevan dengan kondisi sekarang.

Kedua, mengajak seniman ludruk sebagai gurunya. Pelajaran ludruk akan efektif bila yang mengajar adalah seniman langsung. Seniman ludruk tahu bagaimana cara memudahkan anak didik mempelajari ludruk hingga dapat mementaskannya serta menyerap nilai-nilai karakter yang ada dalam ludruk.

Ketiga, melakukan inovasi kreatif dalam penyajian ludruk. Yang penting tidak menghilangkan pakem ludruk; tetap ada gamelan, jula juli, remo, dan bedayan. Inovasi ini penting agar ludruk adaptif dengan era 4.0 dan bisa diterima peserta didik sebagai hiburan sekaligus pendidikan, serta memulihkan apresiasi masyarakat pada pudruk.

Keempat, dinas pendidikan setempat bekerja sama dengan dinas pariwisata. Kerja sama dalam bentuk, misalnya, pemasaran maupun penyelenggaraan panggung-panggung pementasan ludruk agar kian marak. Akan lebih bagus bila Pemda menjadikan ludruk sebagai aset pariwisata daerah. Semoga.

Akhir kata, menyelamatkan ludruk merupakan komitmen untuk mempertahankan budaya nusantara. Karena kesenian tradisional ludruk merupakan salah satu penunjang identitas budaya nusantara.