Diteliti dari misinya, pendidikan nasional makin mengemuka sebagai nama tanpa makna.

Sejak dari awal kemerdekaan, bidang pendidikan yang diberikan kehormatan sebagai tulang punggung pembangunan dan kunci kemajuan terbukti hanya tulang yang keropos, dan kunci yang tidak mampu membuka pintu kemajuan, karena kepedulian para pengelola pendidikan terbatas pada formalitas dan tradisi yang dangkal.” (Prof. Dr. Winarno Surakhmad, MSc. Ed.)

Tak dapat disangkal bahwa peran pendidikan di bumi Indonesia sangatlah sentral dan vital. Hal ini terbukti dalam amanat alinea IV dari Pembukaan UUD 1945 yang dengan sangat jelas mengatakan bahwa “...membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia... untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa...”.

Bunyi amanat imperatif ini juga serentak memberi perintah dan tanggung jawab kepada pemerintah dan rakyat agar mengonstruksi suatu program pemberdayaan pendidikan secara holistik.

Karena itu, bangunan pendidikan ideal haruslah berimbang dan komprehensif, yakni meliputi semua aspek kognitif dan afektif. Oleh karena itu, pendidikan yang berat sebelah akan berujung pada tragedi atau aktus reduksionisme pendidikan yang kronis.  

Problem krisis keteladanan, kurikulum yang aburadul, pembocoran soal-soal UN, tawuran antarpelajar, dan kanker kronis pendidikan lainnya menjadi potret buram kegagalan pendidikan bangsa ini.

Pendidikan yang dulu dipuja-puji untuk menjadi pilar utama kemajuan dan kesuksesan bangsa ini justru sebaliknya menjadi radiks lahirnya pelbagai masalah moral. Nyatanya pendidikan Indonesia mutakhir justru absen memproduksi orang-orang yang berkualitas (Soyamukti: 2008). 

Bahwasanya manusia yang berkualitas adalah manusia yang dapat menggunakan potensi fisik dan psikisnya untuk melihat dan merespons lingkungan sosialnya. Intinya, makin banyak manusia Indonesia yang berkualitas, makin dapat dipastikan bahwa masyarakat kita berjalan secara beradab.

Citra Kepribadian Ki Hadjar Dewantara  dan Urgennya Pendidikan Holistik

Soewardi Surjaningrat adalah nama asli dari Ki Hadjar Dewantara. Ia lahir pada hari Kamis Legi tanggal 2 Puasa 1818 atau tanggal 2 Mei 1889. Ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Harjo Surjaningrat, putra Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Hardjo Surjosasraningrat yang bergelar Sri Paku Alam III. 

Sri Paku Alam III sendiri menikahi permaisurinya yang berasal dari kerabat keraton Yogyakarta. Dengan demikian, Soewardi Surjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara adalah keturunan atau kerabat keraton Yogyakarta. Secara geneologis, ia adalah seorang ningrat.

Ki Hadjar Dewantara identik dengan sosok pemberontak bagi pihak penjajah Belanda. Ia adalah sosok yang berani memperkarakan kebijakan-kebijakan pemerintah penjajah, mengkritisi, bahkan menentang secara terang-terangan dalam dan melalui tulisan yang bernas dan cerdas serta orasi yang lantang.  

Arus pemikiran dan gagasannya merujuk pada bagaimana membangun kecerdasan manusia Indonesia dan hak-hak asasinya yang tak pernah surut.

Sama seperti Raymond Kennedy, seorang pakar politik sebelum Perang Dunia II, Ki Hadjar Dewantara percaya bahwa pendidikan merupakan dinamit bagi pemerintah kolonial, lantaran pendidikan akan menyadarkan penduduk terjajah akan hak-haknya. 

Atau dalam bahasa Paulo Freire dalam bukunya yang sudah diindonesiakan oleh A. Widyamartaya “Pedagogi Pengharapan”, pendidikan merupakan suatu senjata untuk melawan ideologi yang otoriter, sektarian,, dan reaktif. Mungkin inilah alasan seorang Ki Hadjar Dewantara sering ditahan dan berurusan dengan pihak penjajah.

Ki Hadjar Dewantara juga rupanya telah mencium aroma ketertindasan pendidikan yang masif sistematis ini dalam kerangka pendidikan di Indonesia. 

Menurutnya, sistem pendidikan Belanda yang diadopsi oleh negara Indonesia bertendensi merugikan mentalitas, prinsip, dan identitas rakyat jajahan. Karena, satu-satunya tujuan sistem pendidikan penjajah sesungguhnya bukan untuk membangun mentalitas generasi muda yang cerdas dan bermartabat, tetapi mendikte generasi Indonesia menjadi elite pribumi yang bakal pro penjajah itu sendiri.

Melihat realitas ketertindasan ini, Ki Hadjar Dewantara berusaha untuk membongkar selubung pendidikan ala Belanda ini dengan visi pendidikan baru. Ki Hadjar Dewantara dengan segenap tenaga berusaha untuk membumikan motif pendidikan dan pengajaran yang memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah.

Ki Hadjar Dewantara optimis bahwa pendidikan dan pengajaran adalah upaya-upaya untuk memerdekakan dan memanusiakan manusia Indonesia. Karena itu, pendidikan yang cocok untuk Indonesia adalah pendidikan yang menekankan sikap hormat kepada diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kepada Tuhan. Dan juga pendidikan yang mengajarkan ilmu dan kecakapan, pengertian serta pelatihan kepandaian kepada anak-anak, agar berfaedah dan berguna, baik lahir maupun batin.

Pendidikan holistik ala Ki Hadjar Dewantara akhirnya akrab dengan sebutan Pendidikan “Budi Pekerti”. Menurut Ki Hadjar Dewantara, citra seseorang yang memiliki kecerdasan budi pekerti adalah orang yang senantiasa memikir-mikirkan, merasa-rasakan, dan selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap (dalam perkataan dan tindakannya) yang pantas dan terpuji terrhadap sesama dan lingkungannya. 

Menurutnya, ketika budi (pikiran) dan pekerti (tenaga) seseorang bersatu, maka bersatu jualah gerak, pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauannya untuk menimbulkan relasi harmonis antara dirinya dengan lingkungan sosialnya.

Jadi, pendidikan “budi pekerti” itulah yang membuat tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri dan menjadi manusia beradab. Namun, pendidikan budi pekerti ala Ki Hadjar Dewantara akan berhasil jika ditopang oleh tiga simbol pendidikan penting yang  juga dirancang oleh Ki Hadjar Dewantara sendiri.

Tiga simbol pendidikan tersebut, yakni: pertama, Ing Ngarsa Sung Tuladha. Artinya, seorang pendidik selalu berada di depan untuk memberi teladan. 

Dalam konteks ini, pendidik harus berdiri sebagai orang yang memberi contoh dalam perkataan dan perbuatannya. Dan bukannya menjadi orang yang membantu anak untuk menyontek, korupsi dan perilaku deviasi destruktif lainnya.  

Kedua, Ing Madya Mangun Karsa. Artinya, seorang pendidik selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus memotivasi peserta didiknya untuk berkarya, membangun niat, semangat, dan menumbuhkan ide-ide agar peserta didiknya produktif dalam berkarya. Bukan sebaliknya, mematikan semangat dan cita-citta para murid dengan memperkosa murid sendiri serta menciptakan kurikulum yang aburadul dan menindas.  

Ketiga, Tut Wuri Handayani. Artinya, seorang pendidik selalu mendukung dan menopang para muridnya berkarya ke arah yang benar bagi hidup masyarakat. 

Dalam hal ini pendidik mengikuti para muridnya dari belakang untuk memberi mereka ruang kebebasan dan mempengaruhi mereka agar tidak menyeleweng dan membahayakan hidup mereka sendiri.

Harus diakui bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu pahlawan pendidikan Indonesia yang sangat visioner, futuristik, dan berpengaruh. Pendidikan baginya adalah tulang punggung suatu negara untuk bisa berkembang dan maju menjadi suatu negara dan bangsa yang bermartabat. Ia hadir sebagai sosok yang membongkar sistem pendidikan yang amburadul, menindas, dan mendikte generasi baru Indonesia ke lubang kehancuran secara masif-sistematis.

Pendidikan holistik berbasis karakter adalah senjata nuklir Ki Hadjar Dewantara untuk merobohkan bagunan pendidikan Indonesia yang parasit, otoriter, serta mendewakan intelektualitas. 

Baginya, pendidikan holistik adalah instrumen utama untuk memerdekakan sekaligus memanusiakan manusia Indonesia. Dengan pendidikan holistik, manusia Indonesia dididik agar cerdas secara intelektual dan emosional serta kreatif dalam memecahkan suatu permasalahan bangsa dan negara.