Selamat hari pendidikan (HARDIKNAS) untuk pemilik jiwa – jiwa yang tak mau bodoh di Indonesia, hari ini bersejarah sekali hari pendidikan, aku dan ribuan orang di negaraku tak mau terjajah di tanah kami sendiri. Demikianlah di hati nurani kami tak jauh beda dengan hati nurani Ki Hajar Dewantara pada masanya, yang konsisten sekali perjuangnya dalam pendidikan di masa Kolonial Belanda.

Taman siswa didirikan oleh sosok bapak pendidikan, yang mampu menjadi motor pendidikan pada zaman pendudukan Belanda, yang tidak adil dalam pendidikan karena kesempatan belajar waktu itu hanya pada anak-anak kaya, dan anak Belanda atau keturunan Belanda, tetapi KI Hajar Dewantara memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak pribumi, di Taman Siswa.

Jika pada masa lalu kaum yang tak mau bodoh dan dibodohkan ini rela jauh-jauh datang ke sekolah yang masih jarang karena koloni melarangnya dan terbatasnya sarana dan prasarana, bahkan mereka rela bersembunyi-sembunyi untuk dididik guru jaman dulu, dan sekolah-sekolah rakyat yang berdiri pada masa itu belum seluruhnya menyentuh masyarakat Indonesia, tapi mereka punya semangat.

Di plosok-plosok desa sekarang telah banyak kita temukan sekolah, bahkan di daerah terpencil sekalipun tak dilupakan, meskipun tak semaju di daerah perkotaan, namun pemerintah bergairah untuk memajukan pendidikan nasional, begitu juga anak-anak kita yang bersemangat untuk maju tak boleh patah arang.

Pendidikan menurut UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat serta bertanggung jawab, hal ini sesuai dengan pendapat Sarjiyo, dkk (2014:1.20).

Sesuai bunyi UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 ini ternyata tugas guru sebagai pendidik sangat berbobot sekali dan berat sekali, agar peserta didik terbentuk wataknya menjadi bermartabat, cerdas, beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat serta bertanggung jawab, luar biasa untuk perjuangan seorang guru, karena orang – orang terkenal dan sukses adalah berkat jasa seorang guru.

Gambar perjuangan seorang guru untuk menjadikan sukses anak didiknya.

Guru masa sekarang ternyata tidak hanya disuruh untuk mengajari belajar baca dan tulis aja melainkan juga untuk membentuk sikap, maka dari itu selayaknyalah dan seharusnya guru bisa memberikan contoh sikap yang baik ke pada peserta didiknya dan masyarakat luas. Apa lagi sekarang guru yang menjadi pegawai negeri di Indonesia secara ekonomi sudah memperoleh penghargaan yang luar biasa.

Penghargaan secara ekonomi bisa berupa gajih yang setiap bulan, dan banyak tunjangan bisa berupa tunjangan TPP, dan TPP tiga bulan sekali dari besarnya gaji pokok jadi tiap orang gajinya bisa mencapai antara Rp 3 juta sampai lima Rp 5 juta tergantung golonganya. Fantastis memang berbeda dengan guru pada masa Ki Hajar Dewantara yang rela menjadi guru walau tanpa di gaji, demi perjuangan.

Zaman dahulu guru datang dari keiklasan sampai ada nayanyian yang bersyair engkau lah patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jahasa, demikian yang membedakan sekarang guru dituntut untuk lebih profesional, bahkan guru yang tidak lulus pendidikan keguruan harus dituntut linier dan sekolah lagi. Penghargaan bagi seorang guru di dalam status sosial juga tinggi sekarang, karena ada istilah "menantu idaman adalah guru", cerita yang dikembangkan di jejaring sosial akhir-akhir ini dan dalam komunitas guru dan masyarakat Jawa.   

Guru di masyarakat ternyata menduduki kelas sosial yang tinggi jaman sekarang sampai secara ekonomi saja rata-rata mereka ada yang sampai mampu membangun rumah yang bagus sampai mampu membeli mobil mewah, meskipun mereka membelinya dengan istilah menyekolahkan SK di Bank tertentu, untuk meminjam uang. Sesuai dengan pendapat seorang guru bernama Sugiono dalam sebuah dialog.

 Secara struktur fungsional pendidikan dibangun seperti organisme kecil yang hidup dan memiliki fungsinya masing-masing, dan tidak boleh ada trobel di dalamnya, mulai dari pemerintah, pembuat kurikulum, sampai pada pelakunya, yaitu guru, kepala sekolah, dan murid-murid, serta orang tua murid. Jadi pendidikan bukanlah uji coba trouble error, jadi harus jelas arah dan tujuanya.

Guru juga demikian jika penghargaan seorang guru sebegitu besar maka jadilah guru yang benar-benar memperhatikan anak didik dan melaksanakan tugas dengan baik, jangan sampai korupsi waktu dengan meninggalkan anak didik, apa lagi sekarang maraknya guru yang jadi IT, untuk urusan BOS dan Dapodik, jangan lupa tugas dan peran guru jangan Trouble karena ujung tonggak mencerdaskan bangsa adalah guru.

Guru yang mengajar dengan sunguh-sunguh dan mengajar sesuai kemampuan siswa.

Untuk pemerintah dalam usaha pendidikan, buatlah kebijaksanaan yang tidak memberatkan untuk guru dan anak didik, karena banyak juga guru honorer yang membantu guru pegawai negeri dalam melaksanakan tugasnya yang minta juga untuk kejelasan nasibnya, untuk diangkat menjadi pegawai negeri dan diberikan tunjangan pula, karena masa kerjanya ada yang sudah lama dan belum diangkat, sampai umurnya hampir bahkan sudah lebih 35 tahun.

Meskipun UU ASN, yang berisi pengankatan guru honore, tenaga kontrak, dll, untuk menjadi pegawa negeri, sudah disahkan oleh bapak Presiden Indonesia yaitu bapak Joko Widodo, diharapkan segera dilaksanakan dan pelaksananya bersih, karena nasib kami para guru Honorer ada pada mu bapak Jokowi, karena tugas guru Honorer juga besar. Untuk para pembuat kurikulum, buatlah kurikulum sesuai dengan batas kemampuan anak didik sesuai dengan tingkatan umurnya.

Kenapa kurikulum harus sesuai dengan takaran kemampuan anak didik sesuai batasan umur karena jika terlalu di paksakan belum saatnya bisa menjadikan keletihan anak didik dan bisa-bisa menjadi setres setelah sekolah, sampai ada pemberitaan siswa SMP 2 Malang Kesurupan  Massal, kamis siang tanggal (16/2/2017), pukul tujuh, bahkan mereka tak jelas berdialog dengan bahasa Inggris, menurut (Dewi, 2017)

Kesurupan masal itu menjadi indikasi apa bahwa menendakan lemahnya iman dan kurangnya kesehatan mental psikologi, jadi tidak boleh semuanya dituduhkan karena jin, kalau memang ada gejala depresi sebelumnya atau stress, itu perlu penanganan dan diobatkan ke dokter psikolog.

Pendapat C.G. Jung (Swis, 1875-1961) tokoh psikoanalisis (psikologi dalam) menemukan ketegangan antara hidup sadar dan tidak sadar dan menganalisis ”ketidaksadaran” sebagai suatu lapisan psikologi manusia (di samping pikiran yang disadari) yang mempengaruhi perasaan tindakan serta pikiran manusia. Nah, terlihat kalau kesurupan itu karena adanya pikiran yang disadari dan terbawah ke lapisan psikologi manusia sampai ada tindakan. (Bumi Ki Jangkar, 2013)

Anak-anak bisa kesurupan karena stress dan letih bisa juga karena banyaknya pelajaran mereka, dan mereka sampai ketakutan dan terbawah ke alam tidak sadarnya. Untuk orang tua, perlu adanya pengawasan terhadap anak ketika di manapun, dan perlu adanya perhatian yang lebih terhadap anak-anak karena begitu kompleksnya hidup di zaman sekarang dan pengaruh dari luar juga besar ada positif dan negatif.

Gambar orang tua yang memperhatikan anaknya dalam belajar.

vidio anak bangsa

Ayo sukseskan pendidikan karena kami tak mau bodoh, mari saling menguatkan gengaman erat tangan para aktor-aktor pendidikan dari pemerintahan, sampai masyarakat, dalam menghadapi tantangan global dan pembangunan, ayo dukung pendidikan anak bangsa Indonesia tak terjajah lagi.