Berangkat dari sebuah fenomena yang saya temui ketika melakukan penelitian lapangan pada awal tahun 2018 di salah satu desa di Kecamatan Lebak Barang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Tidak hanya bangunan sekolah yang rusak, anak-anak sekolah dasar di sana terpaksa harus berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilo meter melewati jalanan yang tak mudah untuk sampai ke sekolah.

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang tinggi, baik manusianya maupun alamnya. Tak dapat dipungkiri bahwa segala aspek yang membangun keberagaman tersebut berpengaruh terhadap satu sama lain seperti sosial dan ekonomi masyarakat serta geografis wilayahnya.

Geografis wilayah Indonesia merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi segala pembangunan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh pemerintah selain faktor ekonomi yang mengikutinya, hal tersebut memiliki efek terhadap salah satu kebutuhan dan kewajiban warga negara dalam penyelenggaran pendidikan di negeri ini.

Pendidikan memiliki peran yang penting dalam mensejahterakan kehidupan seseorang di masa depan. Untuk itu penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas merupakan kunci dari keberhasilan sebuah negara dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Namun sayangnya, kenyataan di Indonesia menunjukkan masih buruknya pemerataan pendidikan. Terdapat kesenjangan fasilitas dan kualitas pendidikan di satu wilayah dengan wilayah yang lainnya. Beberapa anak lebih mudah untuk mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas dibanding anak-anak di wilayah lain. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa persoalan pendidikan yang sangat kompleks.

Persoalan kemudahan akses ke sekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi geografi suatu wilayah. Wilayah dengan kondisi geografis yang sulit, jauhnya jarak menuju ke sekolah, serta minimnya akses terhadap transportasi menjadi kendala bagi anak-anak untuk pergi ke sekolah.

Belum lagi soal latar belakang sosial ekonomi yang mempengaruhi siapa yang akan berada di sekolah yang mutunya lebih baik. Anak-anak dengan latar belakang sosial ekonomi yang lebih baik biasanya lebih mudah untuk mengakses pendidikan di sekolah yang lebih baik mutunya dibanding dengan anak yang berlatar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah.

Masyarakat dengan kondisi geografis yang sulit dan sosial ekonomi rendah cenderung tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas sehingga sulit untuk memperbaiki tingkat pendidikannya. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan seperti dana sekolah gratis, namun hal tersebut belum mampu memperbaiki kondisi tersebut.

Selanjutnya adalah persoalan fasilitas pendidikan yang meliputi kualitas sarana fisik dan kualitas guru. Tidak hanya bangunan sekolah yang rusak, keterbatasan sarana dan prasarana dan fasilitas pendidikan lainnya menambah sulitnya akses terhadap pendidikan yang bekualitas. 

Bangku dan meja yang sudah rapuh, ruang belajar yang terbatas, tidak adanya laboratorium, fasilitas olahraga, fasilitas internet, dan perpustakaan yang memadai bahkan akses terhadap buku bacaan pun sangat terbatas membuat banyak anak-anak tidak dapat merasakan pendidikan yang berkualitas seperti halnya di sekolah yang berada di kota.

Rendahnya kualitas guru akibat kurangnya kompetensi mutu guru yang ada dan distribusi guru di wilayah tertentu juga menjadi ancaman untuk akses kepada pendidikan yang berkualitas. Karena disinilah peran guru dalam sebuah pendidikan sangatlah vital.

Tak banyak guru yang mau dan mampu mengajar di daerah karena kesejahteraannya kurang terjamin. Maka dari itu kadang seorang guruh harus memilih pekerjaan lain untuk sampingan supaya ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Guru menjadi tidak termotivasi untuk mengajar dengan baik.

Dalam fenomena yang saya temui tiap harinya guru menyelesaikan pekerjaannya yang lain baru setelah selesai ia akan berangkat kesekolah. Jadi jam sekolah tergantung pada jam kedatangan guru.

Kesadaran dan dukungan untuk mendapat pendidikan meliputi bagaimana kesadaran terhadap pentingnya pendidikan menjadi persoalan penting. Beberapa orang tua tidak mendapatkan manfaat yang signifikan dari menyekolahkan anak-anaknya sehingga hal tersebut berujung pada kurang termotivasinya orang tua untuk menyekolahkan anaknya.

Nampaknya kesenjangan yang ada dalam akses pendidikan yang berkualitas berdampak pada kualitas hasil belajar peserta didik. Oleh sebab itu pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia perlu menjadi agenda utama.

Setiap orang di setiap wilayah harus memiliki persamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Kebijakan-kebijakan baiknya dibuat dengan melihat kondisi di masyarakat bawah atau di daerah.

Salah satu upayanya adalah distribusi guru yang berkualitas di daerah dan menjamin kesejahteraan guru, mungkin dengan meningkatkan gaji guru. Memang dirasa tidak mudah untuk menerjunkan guru yang berkualitas di daerah karena mereka tidak sekedar mengajar tetapi juga harus menyesuaikan kondisi tertentu di wilayah tersebut.

Undang-undang tata kelola pendidikan di daerah harus diefektifkan untuk dapat menyelesaikan permasalahan ini. Menetapkan anggaran pendidikan yang lebih besar juga perlu dilakukan supaya alokasi biaya untuk sarana dan prasarana pendidikan dapat memadai.

Pada akhirnya disini perlu untuk bersama-sama kita lakukan upaya berbagai hal agar kesetaraan kesempatan pendidikan, pemerataan akses, dan kualitas pendidikan dapat tercapai di seluruh wilayah di Indonesia.