Gerakan yang berfokus pada kajian ketimuran yang memahami seni, sastra, budaya, bahasa, agama (Termasuk teks-teks suci), dan lain sebagainya akrab disebut dengan orientalisme. Sebelum lebih jauh, gerakan ini baru diberi nama pada abad ke-18 meskipun pada kenyataannya aktivitas kajian yang mereka lakukan terhadap seni, sastra, budaya, bahasa, agama jauh sebelumnya. 

Latar belakang munculnya orientalisme sebenarnya disebabkan oleh lingkungan politik Islam yang mengalami kejayaan dan kemudian dianggap membahayakan oleh agama lain, terkhusus agama Kristen dan Yahudi. Hamid Fahmi Zarkasyi mengatakan, lingkaran yang tergabung dalam orientalisme ini sebenarnya ialah orang-orang yang anti terhadap Islam.

Tercatat ada beberapa fase perjalanan perkembangan orientalisme. Pertama, fase gerakan anti-Islam yang dimotori orang-orang Kristen dan Yahudi. Southern menulis buku dengan judul Western Views of Islam in the Middle Ages, di dalamnya ia menginginkan Timur dan Barat sepakat bahwa Islam adalah Kristen yang sesat. Tidak berhenti di situ, ia juga memberi keterangan bahwa kenabian Muhammad SAW adalah palsu, pembohongan, dan tokoh yang tidak bisa dipercaya.

Kedua, fase penting bersamaan dengan modernisasi Barat. Hampir selama 7 abad Islam menguasai peradaban Barat, sehingga membuat raja-raja dan ratu-ratu Barat tidak tinggal diam. Kegeraman yang menjadi-jadi membuat mereka bersepakat untuk memutuskan pengumpulan informasi terkait ketimuran. 

Sejak diputuskan kebijakan tersebut terhitung dari  tahun 1584—1624 M, Epernius berhasil menerbitkan buku tata bahasa Arab untuk pertama kalinya di Barat. Kemudian ada Bedwell W  (1561—1632 M) yang berhasil mengedit 7 jilid kamus bahasa Arab dan menulis sejarah kenabian Muhammad SAW. Di sisi lain, mereka juga menyebarkan berita negatif tentang Timur kepada masyarakat Barat.

Ketiga, fase terbaik bagi orientalis maupun muslim. Kenapa dikatakan demikian? Barat telah menguasai negara Islam baik secara politik, ekonomi, militer maupun kebudayaan. Pun demikian, terjadi pembangunan besar-besaran studi keislaman dan ketimuran. 

Salah satu contoh di Paris tahun 1822 didirikan Society Asiatic of Paris. Framwork orientalis yang mulanya berupa caci dan makian menjadi serangan yang sistematis dan ilmiah. Perlu digaris bawahi bahwa, bukan berarti tanpa ada kesalahan di dalam serangan sistematis maupun ilmiahnya.

Empat, fase yang ditandai dengan perang dunia II. Secara historis, obyek kajian yang populer di Amerika pada saat itu bisa dikatakan umat Islam dan Islam itu sendiri. Sebetulnya rangkaian ini menjurus pada kepentingan akademis, bisnis, maupun politik. Sentimen keagamaan yang keras pada fase sebelumnya, tidak lagi di fase ini. Dimana orientalis berubah menjadi lembut. 

Sikap itu terjadi pada diri Sir Hamilton, ia mengakui wahyu adalah perjalanan hidup Nabi Muhammad, sampai di sini ia menyepakatinya. Namun, belakangan ia mempersoalkan interpretasi yang berhubungan dengan wahyu. Pada intinya tulisan ini ingin membuka wawasan pembaca kepada salah satu tokoh orientalisme Jhon Wansbrough.

Muhammad Alfatih Suryadilaga dalam jurnal Tsaqafah yang diterbitkan oleh ISID Gontor, memberikan gambaran biografi tentang Jhon Wansbrough. Menurut beliau, Jhon Wansbrogh merupakan ahli tafsir di daerah Kota London yang mashur. Pada tahun 1960 ia baru mulai berkarir di bidang akademiknya. Ia menjadi jajaran pengajar di School of Oriental and Africa Studies (SOAS University of London) di Departemen Sejarah. Selanjutnya, ia menjadi dosen bahasa Arab di Departemen Sastra Timur Dekat. Perlu diketahui bersama, Jhon Wansbrough pernah menjabat sebagai direktur di SOAS University of London.

Lebih jauh lagi, Muhammad Alfatih Suryadilaga juga menyebut Jhon Wansbrough merupakan seorang penulis produktif. Salah di antara karya tulisnya yakni Quranic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation (Terbit di Oxford University Press tahun 1977). Jhon Wansbrough memerlukan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan karya tulis tersebut, terhitung dari tahun 1968 sampai dengan 1972.

“Karya lain yang ditulis Jhon Wansbrough adalah “A Note on Arabic Rethoric” dalam

Lebende Antike: Symposium fur Rudolf suhnel, “Arabic Rethoric abd Qur’anic Exegesis”, dalam buletin of the school of Oriental and African Studies, Majas al-Qur’an: Periphastic Exegesis, The Sectarian Milleu: Content and Composition of Islamic Salvation History”. (Muhammad Alfatih Suryadilaga, 2011:91)

Bukti keseriusan Jhon Wansbrough dalam mempelajari Alquran dapat dilihat dari beberapa karyanya tersebut. Selain itu, bobot materi pembahasan juga menjadi indikator keseriusannya dalam mempelajari Alquran. Namun sangat disayangkan, secara mendetail biografi Jhon Wansbrough tidak diketahui secara pasti, yang jelas gambaran umumnya seperti yang telah dipaparkan di muka.

Alquran merupakan kalam Illahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, dimulai dari surah al-Fatihah dan diakhiri surah an-Nas. Berbeda halnya dengan Jhon Wansbrough, ia mendefinisikan Alquran sebagai kepanjangan dari kitab Taurat. Kedudukanya pun oleh umat Islam dinaikkan level menjadi mutlak, karenanya Alquran menjadi kitab suci. Bukan hanya itu saja, Jhon Wansbrough mengartikan term Kitabullah yang dirujuk dari QS., al-Araf ayat 71 dan QS., al-Saffat ayat 156 dengan otoritas, ketetapan, dan bukan kitab suci tapi sebatas usulan. Begitu jika penulis meminjam bahasa Muhammad Alfatih Suryadilaga.

Kata qul dalam QS., al-Anam  ayat 15, al-Raad ayat 36, dan al-Ankabut ayat 52, oleh Jhon Wansbrough disinyalir sebagai kata sisipan dari Nabi Muhammad SAW. Pemahaman kata tersebut sebenarnya tidak terlepas dari tujuan awal Jhon Wansbrough yang mencoba menghilangkan transendental Alquran sebagai wahyu Allah. Jhon Wansbrough menegaskan keberadaan qul membuat teks surah di atas tidaklah logis. Secara garis besar dapat dipahami bersama, Jhon Wansbrough menyamakan Alquran dengan karya sastra lainnya yang mengharuskan konsistensi gaya bahasa. (Muhammad Alfatih Suryadilaga, 94:2011)

Pengaruh Yahudi dan Kristen dalam kajian studi teks Alquran dengan pendekatan analisa historis yang dilakukan Jhon Wansbrough memang sangatlah kental terasa. Kelanjutan dari kajiaannya, Jhon Wansbrough menuliskan apa yang ia porelah dalam buku yang berjudul Qur’anic Studies

Alasan yang bisa dijadikan dasar kenapa Jhon Wansbrough menggunakan pendekatan analisa historis karena adanya kesamaan antara Alquran dan kitab agama Kristen maupun Yahudi. Kaitanya dengan hal ini, Jhon Wansbrough berpandangan bahwa tidak ada catatan sejarah awal tentang keislaman. Baru setelah sepeninggalan Nabi Muhammad SAW sejarah itu muncul pada generasi sahabat. Lebih dari itu, Jhon Wansbrough menginterpretasikan kegiatan pengumpulan Alquran di masa Khalifah Usman ibn Affan hanyalah fiksi belaka yang patut diragukan.

Dalam hal ini, harus diakui jika memakai pendekatan analisa historis akan menyebabkan perbedaan nilai, tinggal bidang apa yang ingin dikaji. Kekurangan analisa ini perlu diperhatikan juga, karena hanya menampakan sisi luarnya saja dan tidak secara esensial dan substansial. 

Dengan demikian, kiranya kurang baik jika hanya menggunakan pendekatan analisa historis saja. Seharusnya juga menggunakan pendekatan fenomenologis—yang mengharuskan memahami agama lain selayaknya dipahami oleh penganutnya. Bisa dikatakan hampir sama dengan etika dialog.             

Referensi:

Suryadilaga, Muhammad Alfatih. 2011. Tradisi Orientalisme dan Framework Studi al-      Qur’an”, Tsaqafah, Vol. 7, No. 1, hlm. 89—108.

Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2011. “Tradisi Orientalisme dan Framework Studi al-Qur’an”,    Tsaqafah, Vol. 7, No. 1, hlm. 1—30.