Pukul 12.00 siang. Jam rawan ngantuk menerjang. Tidak tertahan. Mata memaksa mengatup, seperti gerombolan capres Tuan PB yang dipaksa “membantu” menyebarkan kebohongan Princes Ratna. Iya! Princes Ratna, yang dahulu berteriak kencang membela ibu pertiwi para orang Batak saat diperkosa monster bernama Indorayon. Dahulu!

Lelap, di meja kerja, tempat menyambung hidup. Bermimpi.

Themis, Sang Dewi Keadilan dari Yunani, mengembara hingga ke dunia mimpi Mas Lilick. Terbang sempurna melintasi awan-awan dan langit-langit.

Mas Lilick, seorang Pendekar Penuntut Umum di Lembaga Penuntutan Negara (LPN), penempatan Jakarta, 38 tahun, beranak lelaki seorang, dan istri, seorang abdi negara juga di Jogja. Seorang bidan di puskesmas di salah satu kelurahan, terpencil. Mas Lilick, bercita-cita sedari dulu menjadi pendekar penuntut, yang berambisi, menyeret para penjahat berdasi yang menggarong duit rakyat. Cita-citanya kesampaian.

Mas Lilick ini, sedang pusing sebenarnya. Pusing karena diperintahkan menyelidiki, dan menyidik dugaan korupsi di sebuah perusahaan negara, yang bergerak dalam pengusahaan minyak bumi. Bukan dia menolak, tapi dia sadar, dengan kemampuan otak dan pengalaman selama hidup, tidak mumpuni memahami dengan objektif. Terlebih, dia tahu, pengusaha berbisnis, merugi, trus dipaksa berurusan dengan lembaga penuntutan ini, dan hal-hal pidana itu, seperti penjara, menunjang dalaman otaknya.

Mas Lilick, pada 24 September 2018, Senin. Hari itu, siang sekitar jam 14.00 WIB, bersama rekannya Uda M mengawal proses penahanan Nyonya K yang sudah ditetapkan tersangka, beberapa bulan sebelumnya. Nyonya K berkali-kali menangguhkan panggilan untuk datang, mungkin sedang mencari seseorang yang bisa membalikkan keadaan baginya. Seorang tokoh politik dengan cengkeraman kuat. Yang mencengkeram, leher baju para pendekar ini.

Nyonya K, tokoh perempuan yang namanya tercatat harum dalam bidang ekonomi negara, karena suksesnya mengantar dan mengurus perusahaan negara yang itu. Perusahaan P, yang diurusnya, pernah masuk jajaran perusahaan internasional, Fortune Global Lima-ratus. Nyonya K pernah membukukan keuntungan Perusahaan P hingga 23 Triliun selama menjabat pengurus utama, sejak 2009 hingga 2013.

Dilema, saat untung, pengurus lain, Tuan E, D, A dan Nyonya N serta pengawas Tuan S, U, R, T, I menerima imbalan jasa dari tuan atau nyonya menteri negara. Ketika buntung, tak ada yang mau menanggung renteng dengan Nyonya K. Nyonya K sepertinyapun bukan tipe pengadu. Padahal pengadu di dunia hukum yang tak tentu barometer sistem hukumnya ini, sangat diperlukan. Sebagai alat tawar-menawar.

“Karena begitu cara mainnya!” Celoteh kawannya Mas Lilick punya kawan, pada Nyonya K, suatu ketika di ruangan merokok di sekitar tempat diujung ruang pemeriksaan di Gedung Bulat. Markas para pendekar penuntutan ini.

Apes, kata yang tepat untuk menggambarkan hal yang menimpa Nyonya K. Sepanjang jalan menuju Pondok Bambu, pondok tahanan yang menampung segala jenis wanita yang melakukan tindak pidana dari kelas: maling receh, pembunuh, penipu, permesuman, pemakai dan pengedar narkoba, hingga kelas kakap, koruptor. Nyonya K komat-kamit, entah menyumpahi atau sedang berdoa atau mengunyah permen atau kombinasinya.

Mas Lilick yang disebelahnya persis, melihat si Nyonya K.

Gadget-nya berbunyi, Iphone tipe baru. Sebuah pesan masuk.

“Selamat mas bosss! Menangkap ikan gede!”

Membaca itu, Mas Lilick hanya senyum-senyum.

Promosi dan penghargaan dan kompensasi yang entah darimana, dia sudah membayangkan dengan jaya-raya. Masa depannya akan cerah. Mulus, seindah dagu lancip Princes Ratna, paskah operasi kecantikan.

Mas Lilick, membuka tautan berita yang dikirim dalam grup kawanannya, bernama PENDEKAR PEMBUNUH PAUS, disana bercokol juga, orang nomor satu LPN, ketua pendekar penuntut di seantoro negara ini, Tuan P. Tautan, press-release dari Lembaga Penuntutan Negara, hal penanahanan Nyonya K.

“Sudah memenuhi syarat subjektif dan objektif, penahanan tersangka,” kata Tuan AT, pejabat, tangan kiri Tuan P.

“Tidak ada penelitian akhir dan tak ada persetujuan dewan pengawas perusahaan negara.”

“Negara rugi 568 miliar.”

Mas Lilick, angguk-angguk tanda setuju.

“Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 undang-undang tipikor ini, sangat ampuh menjerat siapa saja, yang akan ditarget,” tiba-tiba Mas Lilick berbicara.

“Pasal sapu jagat!”

Nyonya K, yang sudah agak bisa meredakan amarahnya, paskah dia harus menguatkan anak dan suaminya yang ditinggal menuju pondok pemasyarakatan, mulai bicara.

Nyonya K menguatkan! Bukan sebaliknya.

Bosan juga Nyonya K dengan haru-biru yang tiada arti, mungkin. Atau, dia sudah mulai paham, melebur dengan permainan orang-orang ahli hukum, orang-orang yang menjadikan hukum seabgai alat politik, entah dengan tujuan apa, tak seorangpun tahu.

Persis seperti ucapan Mas Lilick, jauh hari.

“Kami hanya melaksanakan perintah dari bos!” katanya suatu waktu.

“Target?” tanya Nyonya K.

Mas Lilick, yang juga bosan dengan keheningan mobil tahanan melanjutkan membuka suara, harapannya akan membuat perjalanan ke pondok tahanan akan jadi berjalan tidak terasa. Sebenarnya dalam mobil tahanan juga, ada Lae J, pekerja bidang hukum dari Perusahaan P, yang dengan restu Dewi Fortuna, tiba-tiba beken, disamping kisah haru Nyonya K. Media massa menyorot sosok Lae J mendampingi Nyonya K. Seketika, Lae J terkenal di seantoro almamaternya, dan kampung asalnya.

Seorang lagi di mobil tahanan, Uda M. Uda M, fenomenal! Masuk menjadi pendekar hingga kelas PEMBUNUH PAUS, dengan mengawali karir sebagai pengangkut air minum ke ruang-ruang kerja di lembaga penuntutan negara ini. Uda M ini mungkin ditakdirkan menjadi inspirasi untuk anak seluruh negera, dalam menggapai mimpi menjadi pendekar sakti penegakan hukum. Berguna bagi nusa-bangsa.

Mendengar ucapannya bersambut, Mas Lilick melirik pada Uda M dahulu. Uda M guratkan senyum. Seperti isyarat melanjutkan. Pembicaraanpun berlangsung, panjang, dan semua nimbrung dan berpartisipasi. Musuh bersama itu bernama keheningan dan kebosanan di dalam mobil tahanan.

Sekali-kali gelak tawa, yang pasti bukan dari Nyonya K. Jikapun ada reaksi “senang” dari Nyonya K, itu hanya untaian senyum kecil.

“Sampai tahun 2013, duapuluhan triliun saya sumbangkan untuk negara, kemudian perkara 500 miliaran ini, karena risiko bisnis, membuat saya kalian sangkakan koruptor?!” suaranya agak parau.

“Maling...,” gumamnya.

“Kalian, para petugas, harus bertanggung jawab pada kezaliman pada saya...” Nyonya K memandang Uda M dan Mas Lilick bergantian. Yang dipandang hanya terdiam. Diam adalah emas, prinsip ini nyata, di masa ini.

Lae J, hanya cengengesan kecil, seiring anggukan kecil kepala, mendengar muak dari Nyonya K yang dituju pada Mas Lilick dan kawanannya.

Mereka, sampai di Pondok Bambu. Perjalanan yang lumayan jauh, menguras tenaga dan psikis. Di pintu masuk pondok tahanan, sudah menunggu kepala sipir dan beberapa orang petugas lapas. Kedatangan tamu spesial.

Uda M melihat Nyonya K, injakkan kaki pertama memasuki batas garis imajinasi pondok tahanan dengan dunia luar.

“Bisa saja, Nyonya K akan membunuh waktu di pondok dengan memberikan pengajaran praktis berusaha pada penghuni pondok. Memperkenalkan koneksi untuk mengembangkan bisnis pondok, atau memberikan semangat bagi para penghuni.” 

“Ibu itu tipe yang tahan banting dan keras kepala,” kata Mas Lilick tanpa motif, memaknai tatapan Uda M.

Setelah, beberapa menit basa-basi serah-terima Nyonya K dengan kepala pondok tahanan, Mas Lilick dan Uda M meninggalkan pondok tahanan.

“Titip ibunya ya!” pesan mereka sebelum beranjak.

Lae J, masih melihat Nyonya K, masih terlihat sekilas punggungnya berjalan menuju ruang tahanan. Ada 5 orang lain dalam tahanan. Hidup akan menarik buat Nyonya K dan 5 orang lainnya. Mungkin, mata dan hati masing-masing akan terbuka. Masing-masing akan saling melintasi dunia yang belum pernah mungkin dilewati mereka. Meski lewat cerita. Saat dimana Nyonya K akan mulai bersosialisasi dengan dunia para buangan masyarakat, yang mencoba kembali menjadi masyarakat.

Nyonya K? Dia belum seorang penjahat, pedang Mas Lilick dan kawanan yang terlampau menyayat terlalu cepat, memaksanya kehilangan kebebasan terlebih dahulu. Kezaliman, seperti kata Nyonya K. Sudah terbiasa dimainkan Mas Lilick dan kawanannya. Tiada orang yang pernah meneriakkan perlawanan. Tiada guna melawan salah guna kewenangan itu mungkin. Tawar-menawar saja.

“Koruptor...” bisik-bisik para tahanan lain sepanjang jalan Nyonya K berjalan menuju pondoknya.

Orang beradaptasi dengan kezaliman, kesewenang-wenangan. Membayar Mpoklince, Tuan Jaksad, Tuhan Hakim. Membayar petugas pondok. Advokat terhormat? Pun hanya menjadi kurir untuk mengambil bagian dari kebobrokan sistem penegakan hukum ini. Dunia seperti ini, akan dimasuki Nyonya K. Kenyataan yang pahit.

Begitulah sistem hukum yang sedang dihadirkan tujuh puluhan tahun kemerdekaan. Jadi, jika ada tanya kenapa semua orang di negara ini, bersikap biasa saja, saat seorang terhormat, seperti Nyonya K, yang melakukan pengurusan perusahaan demi bangsa yang dicintainya, ketika dimasukkan ke penjara oleh sistem ini, tidak ada yang teriak, kecuali mungkin Nyonya K, melalui media dengan bayaran tertentu, dan teman terdekat Nyonya, yang mungkin teriaknya hanya dalam kasur empuknya di malam hari.

Mas Lilick, tahu akan melihat beberapa ulasan media yang mencoba memberi sudut pandang yang mendukung Nyonya K, yang tidak gratis. Beberapa orang akan mengunjungi Nyonya K, berempati. Berlalu kemudian. Mas Lilick paham, gerakan-gerakan itu tak berarti, kecil dalam artian sebenarnya. Tetap akan kalah oleh kekuatan kewenangan dalam gengaman mereka, yang pegang pedang keadilan.

Kembali, ke dunia mimpi, surga tingkat ke-7, saat Themis menemukan Mas Lilick yang sedang jumawa dalam kursi emas singgasana kejayaan setelah memasukkan Nyonya K ke tahanan. Di lapisan awan langit ke tujuh.

Mas Lilick dalam singgasananya, memegang timbangan berkarat di tangan kiri, dan cawan emas, ditangan kanannya. Surat promosi jabatan diselipkannya di depan celana katun coklatnya. Kaos putih logo buaya ijo, yang tertumpah susu coklat di dadanya, dengan kemeja yang sudah terbuka, tak terkancing. Perutnya membusung buncit, tanda makmur.

It’s my life... It’s now or never...” teriak Mas Lilick dari singgasana mengikuti iringan lagu Bon Jovi.

Kedatangan Themis, yang cantik, anggun menawan, bergaun putih, tidak terlalu diperhatikan lagi oleh Mas Lilick. Mabuk susu dia.

Dia, mungkin berpikir, Themis hanya salah satu balas jasa atas kesuksesannya dalam menghujamkan pedang keadilan kepada tubuh Nyonya K.

Themis, semakin mendekat.

“Ada apa, hai wanita?” kata Mas Lilick dalam bahasa Jawa.

“Saya mencari sebuah pedang” balas Themis dalam bahasa Ibrani.

Mas Lilick kemudian tidak perduli lagi. Di singgasana yang penuh kemewahan dan kebahagiaan seperti ini, seorang masih mencari pedang yang dia sendiripun tidak tahu, seperti apa dan berada dimana.

“Mungkin, pedang buat motong sayur” gumamnya sambil meneguk susu lagi.

It’s maaaa...iii...laiiiiiiiffff!” teriaknya lagi.

Themis, yang gundah, mengelilingi ruangan yang tidak ada habisnya. Di setiap ruangan, kawanan Mas Lilick melakukan hal yang sama. Foya-foya, dengan iringan lagu yang berbeda saja.

Uda M, Tuan P, Tuan AT dan lainnya.

Themis, teringat, pedang itu punya mantra. Mantra pemanggil.

Fiat Justitia Ruat Caelum

Berkelebat, pedang keadilan itu tiba-tiba terbang dengan cahanya terang, entah darimana, membelah ruangan yang menjadi singgasana bagi Mas Lilick dan kawanannya.

Runtuh. Mas Lilick dan kawanannya jatuh terhempas ke bumi.

Themis sumringah, mengusap sekujur pedang. Membawanya pulang ke dunia para dewa.

Di sebuah kamar kosan, raga Mas Lilick tergeletak, di sebuah apartemen di sekitaran Blok M, dia terbangun.

“Mimpi ini kembali lagi” gerutunya, kemudian melanjutkan tidurnya.

“Paus, sudah dikirim ke aquarium” pesan Mas Lilick ke grup kawanannya sebelum melanjutkan tidurnya, berharap menemukan mimpi foya-foyanya kembali.

Good job!” berantai masuk ke gadget Mas Lilick, termasuk dari Tuan P, sang ketua para pendekar.

Tuuuuuuuuut! Tuuuuuuuuuuuut! Prooooot! Kentut Mas Lilick menyeruak dari belahan pantat montoknya.

Terbangun!

Telepon dari kawan yang lagi merintis usaha jasa hukum probono, kantor pengacara, bertanya soal hukumnya penyegelan rumah ibadah. Panjang-lebar bicara dan berdebat.

“Mimpi apa itu?” gerutuku, teringat mimpi itu kembali selepas bicara dengan kawan.

“Sistim hukum terkutuk, sampai di dunia mimpipun terbawa!”

“Pedang dewi keadilan sudah dibawa pulang, tapi timbangannya tak dibawa. Kenapa?!”

“Akh, pusing mikirinnya!”

“Mau menjadi kuasa hukum probono untuk Princes Ratna yang dilaporkan gerombolan Tuan PS?” sebuah pesan Whatsapp masuk.

Kembali kerja, demi urusan perut ini, dan masa depan si buah hati.