Kali ini saya ingin bercerita tentang kejadian yang baru saja saya alami. Mungkin juga sudah banyak yang mengalami hal yang sama, atau bisa juga menjadi pelajaran bagi yang belum mengalaminya.

Setiap berkegiatan di luar rumah, saya selalu menggunakan transportasi umum seperti kereta api dan bus Trans Jakarta. Untuk mencapai stasiun atau halte, saya menggunakan jasa Ojol (ojeq online). Saya menggunakan ketiga jenis angkutan ini karena cepat. Masalah kenyamanan urusan belakanglah.

Sesungguhnya Kamis sore, 5 September 2019, adalah hari biasa seperti hari-hari sebelumnya, seandainya saja saya tidak teledor. Iya, SEANDAINYA. Kata ini sungguh tragis di telinga. Semacam mengandung kata penyesalan. Penyesalan yang selalu datang belakangan. Karena bila di depan disebut pembukaan. Halah, apaan sih!

Pulang dari kantor, saya sampai di Stasiun Tanah Abang sekitar pukul 4 sore. Setiap orang biasanya mempunyai spot favorit di peron untuk menunggu kereta. Favorit saya adalah peron paling ekor bila kereta berhenti, yaitu gerbong wanita.

Jam 4 sore, penumpang kereta biasanya belum banyak. Karyawan kantor belum pada pulang. Biasanya jam segitu banyak pedagang atau orang yang belanja ke Pasar Tanah Abang. Saat menunggu kereta, saya berdiri di peron dengan mata tetap tertuju pada layar HP di tangan.

Sekilas saya melirik ke sebelah kanan saya ada sekelompok perempuan 30-an yang sedang bercengkerama. Mereka sekitar 5 orang. Sebelah kiri saya ada perempuan-perempuan yang seperti saya. Tanpa teman dan sibuk dengan HP-nya.

Tak lama kemudian, kereta Bogor yang saya tunggu datang dari Stasiun Duri. Tas ransel saya taruh di depan badan kemudian tanpa sadar saya taruh HP di kantong jaket yang longgar. Padahal biasanya saya taruh di kantong celana bagian depan. Celana saya agak ketat, jadi pasti terasa kalau ada yang berniat mau nyopet.

Begitu kereta berhenti di depan kami, rombongan perempuan yang sebelah kanan saya mendorong saya kuat ke arah kiri. Saya sempat berkata dalam hati, ‘busettt dehh… nggak rame gini kok main dorong-dorongan?’

Kemudian saya masuk ke gerbong dan masih mendapat tempat duduk. Begitu duduk saya langsung raba kantong celana. HP tak ada. Kantong jaket juga kosong. Saya langsung diserang panik. Bongkar tas. Juga tak ada. Keringat dingin sudah mulai keluar. Penumpang yang di kiri-kanan saya menannyakan. Saya bilang HP saya dicopet orang.

Penumpang segera menyodorkan HPnya supaya saya pakai menghubungi nomor HP saya. Kereta sudah berjalan. Sayangnya suara telepon masuk di HP saya stel tidak terlalu nyaring, jadi pas saya telepon tak terdengar suara HP saya bunyi. Pasti kalah sama suara kereta. Saya mengelilingi gerbong. Tidak ada terdengar.

Kemudian saya melaporkan pada petugas keamanan di gerbong. Dia menyarankan saya turun di Stasiun Karet dan kembali ke Stasiun Tanah Abang, karena mungkin saja jatuh ke bawah peron saat mau memasukkan ke jaket. Saya minta tolong dia menghubungi petugas di stasiun supaya melihat TKP segera.

Singkat cerita, saya kembali ke Stasiun Tanah Abang, langsung ke TKP, tidak ada HP saya tergeletak di sana. Saya menanyakan petugas terdekat apakah ada dihubungi dari petugas di dalam kereta, dia bilang tidak ada. Saya disuruh melapor ke orang kantor KAI di lantai dua.

Petugas KAI berkata bahwa mereka tidak bisa menemukan kalau sudah dicopet. Dia hanya bisa menerima laporan tertulis. Tapi tidak akan menindaklanjuti dengan melakukan pencarian. Kemudian saya sadar, ada peringatan di setiap gerbong bahwa kehilangan barang tidak menjadi tanggung jawab KAI.

Saya pasrah. Tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya saya kembali ke posisi saya semula dan menunggu kereta sambil berharap: bila HP saya terjatuh, kemungkinan masih ada yang mau mengembalikan. Tapi kalau dicopet, ya pasti tidak kembali.

Kereta jurusan Bogor datang, saya naik dengan perasaan campur aduk. Saya tidak dapat tempat duduk karena karyawan sudah pada pulang. Kereta ini lebih penuh dari kereta sebelumnya.

Saya berdiri sambil berpegangan pada tali gantung. Saya teringat gerombolan Mbak-Mbak yang mendorong saya tadi. Saya yakin merekalah yang mengambil HP saya. Tak terasa air mata saya menetes saat di dalam kereta.

Saya sedih karena semua data pekerjaan dan pertemanan saya ada di HP tersebut. Saya takut karena semua password saya catatkan di note. Walaupun password yang saya catatkan tidak sempurna, tapi saya mengetahui kodenya. Belasan password ada di sana.

Bayangkan, saya punya tiga website di Wordpress, dua di Instagram, dua di Facebook, Twitter, Qureta, Geotimes, password ke Toped, Lazada, Sophee, akun ke portal-portal kerjaan, dan lain-lain. Saya tidak ingat semua password itu.

Yang paling menakutkan saya adalah ada mobile banking di HP. Juga ada aplikasi Toped yang bila mereka bisa tembus dengan password yang ada di note, maka mereka bisa belanja pakai kartu kreditku hingga habis limit.

Karena bila kursor ditunjuk ke slot nomor kartu kredit di laman pembayaran, maka muncul nomor kartu kreditku. Juga 3 angka pengamannya. Dan bila BCA mengirimkan nomor OTP ke nomor HP tersebut, habislah sudah. Begitu yang ada dalam pikiranku.

Begitu turun di stasiun Lenteng Agung, aku kepikiran menggunakan ojeg pangkalan karena tidak punya aplikasi untuk memesan ojol. Padahal sebelum pulang tadi aku baru mengisi masing-masing Rp100.000 di Gopay dan OVO.

Tapi kemudian aku mendatangi salah satu driver Grab, menanyakan apakah dia mau mengantarkan aku dengan harga yang akan kutambah tanpa order. Dia mengiyakan. Dan aku meminta dia menunggu sebentar saat saya beli kartu perdana. Ada HP tak terpakai di rumah yang bisa kupakai untuk kondisi emergensi seperti ini.

Sesampai di rumah, baterai HPnya kosong. Ampun deh. Untung ponakan sudah pulang kerja. Aku pinjam HPnya untuk tethering. Dengan menggunakan laptop, aku mengubungi operator Tri via Twitter. Hanya itu cara yang saya tahu untuk menghubungi mereka. Ternyata responsnya lambat sekali.

Terpaksa aku menghubungi BCA dan meminta blokir semua mobile banking dan internet banking, blokir kartu kreditku dan blokir nomor HP itu karena itu yang dicatat BCA sebagai nomor telepon resmiku. Yang penting masalah uang aman dulu.

Besoknya aku ke Ambasador untuk beli HP baru harus dengan kartu debit. Nomor telepon baru yang didaftarkan di BCA butuh 2 hari kerja untuk aktif. Kita harus mengirimkan via email foto KTP, foto Kartu Kredit, dan selfie dengan memegang kedua kartu tersebut.

Setelah dapat HP yang kuinginkan, saya menuju kantor Tri di Mall Ambasador. Si mbak yang melayani mengatakan nomorku masih aktif dan bisa di-claim dengan syarat saya harus bisa menuliskan minimal 3 nomor HP orang lain yang biasa saya hubungi lewat nomor tersebut. Kalau gagal pada tes itu, maka saya tidak bisa claim kembali nomor tersebut.

Segeralah saya minta pada teman-teman kantor untuk mengirimkan nomor client yang biasa saya hubungi. Berhasil. Nomor-nomor itu tercatat di out going log telepon saya. Butuh sekitar 1 jam menjalani semua prosesnya. Akhirnya saya bisa pakai nomor lama tersebut, dan dana di Gopay dan OVO tak berkurang.

Saya cerita pada teman kantor yang sama-sama menggunakan kereta untuk commute. Saya bilang, tak menyangka sama sekali kalau di gerbong cewek ada pencopet. Dia bilang kalau pernah lihat pencopet di gerbong wanita jalur ke Bintaro. Ada yang kehilangan tas yang ditaruh di rak.

Wah, ternyata rombongan copet wanita juga banyak beraksi rupanya. Saya pikir selama ini hanya cowok yang nyopet, jadi tak merasa harus waspada pada gerbong wanita. Aku salah sangka.

Hi, mbak-mbak pencopet, saya tidak dendam atau marah pada kalian. Semoga HP itu berguna untuk kalian, ya!

Harapan saya, kalian berhenti melakukan kegiatan ini. Karena yang kalian copet itu tidak hanya sebuah HP, tapi segudang kenyamanan orang ikut kalian renggut. Sampai sekarang saya belum bisa melakukan transaksi internet banking karena butuh aktivasi yang ribet dengan pihak bank.

Teman saya tanya, “kok lu nggak marah sih?” Saya bukan sok bijaksana. Marah-marah dan menyumpah-nyumpah sudah sering saya lakukan dulu, tapi tidak membuat hidup saya membaik. Bahkan barang yang hilang pun tidak kembali. Rugi dua kali.

Kali ini saya tidak marah sama sekali dan berharap mereka diberkati oleh HP tersebut. Saya bisa membeli yang baru. Tapi kejadian ini saya belajar lebih baik, yaitu tidak terlalu fokus pada HP saat di perjalanan.

Kemarin pulang dari client, saya naik kereta di Cikini. Begitu masuk stasiun, HP langsung masuk tas bagian dalam. Saya jadi lebih banyak tersenyum pada orang yang saling tatap. Menikmati lingkungan dengan memperhatikan orang-orang di sekitar.  

Buat pengguna kereta api, saat kritikal kehilangan barang itu adalah saat hendak naik kereta dan yang paling banyak saat hendak turun di stasiun-stasiun ramai. Itu adalah saat desak-desakan yang dimanfaatkan copet. Lebih baik mengamankan barang saat kritikal itu daripada ada penyesalan seperti saya.

Juga kalau dapat tempat duduk, jangan taruh tas di atas rak, lebih baik dipeluk saja. Karena saat kita duduk, kita tidak awas pada tas kita di atas rak, dan bisa saja ada orang yang sudah memperhatikan kita dari tadi. Saat kita lengah, barang satu tas bisa hilang. Itu lebih mengerikan bagiku daripada kecopetan HP.

Kecopetan bisa terjadi karena ada pencopet dan ada korban yang lengah. Waspadalah, waspadalah!