Bagai embun di ujung rumput
Beginilah rasanya menunggu
Meski penantian ini sungguh
membahagiakan
Tetap saja akan berlalu saat mentari datang

Tapi ini masihlah malam
Kebahagiaan itu benar-benar masih terasa
Dan penantian dengan selimut lembut di
tubuh
Cukup menghangatkan hati yang tak kuasa
meredam bahagia

Malam itu ada di bulan Agustus 
Dan itu adalah hari yang paling
membahagiakan
Bila ditanya kapan pernah merasa bahagia?
Jawabnya ada pada hari itu

Segalanya memang bisa menjadi terasa
indah
Bila itu berkaitan dengan sang kekasih hati
Bila menunggu biasanya melelahkan
Tentu ini malah menyempurnakan hati
yang telah bahagia

Berdebar hati dalam penantian ini
Kesabaran pun bahkan turut berjalan
melambat
Ia yang dinanti memang sungguh isitimewa
Getarannya sungguh dahsyat, bahkan
sebelum ia datang
Semua dibuat kalang kabut menyambutnya
Ia muncul tiba-tiba
Tanpa pesan dan juga berita

Ia datang di ujung malam itu
Mantram Gayatri pun langsung
menyambutnya
Suasana menjadi sakral secepat deru napas
Semua bergerak cepat dengan penuh
kelembutan
Dia satu dari seribu yang datang
Kehadirannya sungguh membawa cahaya
terang
Dia memang putra alam sejati

Kebahagiaan itu telah sempurna pada
akhirnya
Kehadirannya kan terkenang selalu pada
hati ini
Meski penantian satu malam itu berulang
Kembali pada bulan Maret dua tahun
berikutnya
Tetap saja mengejutkan dan terasa suci

Bertemu dan hidup bersama dengan orang
yang istimewa adalah garis hidup
Meski kemudian bertemu lagi di alam yang
berbeda
Bercanda dan berbincang tentang indahnya
kebersamaan meski hanya sesaat
Tetaplah itu terasa luar biasa indah

Malam terakhir kudekap lembut tubuhnya
Yang menggigil di bawah wajah sang
rembulan
Matanya selalu tersenyum
Mewakili banyak kata indah untukku
Tak kan kubiarkan air mata menetes
Karena ini malam yang bahagia
Dan akan terkenang sepanjang usia wanita
tua ini

Satu malam itu sungguh tak terlupakan 
Menanti kedatangannya dan sekaligus
melepas kepergiannya adalah sama
Meski tanpa tawa
Penantian satu malam itu sungguhlah
indah dan sempurna

Bagai embun di ujung rumput
Beginilah rasanya menunggu
Meski penantian ini sungguh
membahagiakan
Tetap saja akan berlalu saat mentari datang


Kupu-kupu Putih

Gadis kecilku kini benar-benar telah
terbang 
Mata serasa baru saja berkedip 
Tapi ia telah berubah menjadi kupu-kupu
putih
Terbang ke sana ke mari
Sebelum kemudian menghilang 
Menjadi sebuah titik di langit pagi
Dan tak terlihat lagi oleh sepasang mata tua
ini

Hari itu, kubiarkan kerinduan yang
menyesakkan dada bergemuruh melepas
kepergiannya
Karena demikianlah seharusnya
Setelah sepuluh tahun ia tertidur lelap
dalam kepompongnya yang putih bersih 
Sekarang adalah waktu yang dirindukan
datang padanya
Membawanya terbang dengan
mengepakkan sayap  indahnya
Yang tumbuh dari hatinya yang terjaga
murni

Gadis kecilku itu bergaun putih 
Hatinya sungguh lembut sejak ia dilahirkan 
Dan halus bak sehelai benang sutera 
Yang tiap kali tersentuh, air matanya selalu
menetes di pipinya yang putih bersih
Maka, tak kan pernah kubiarkan angin
malam menerpa wajahnya
Dan juga menghempaskan jiwanya
Kan kudekap selalu tubuh mungilnya
Setiap ada tanda badai akan datang
menerjang 

Kini ia telah mengenakan kebaya putih
Dengan sehelai kain panjang tersampir di
pundaknya
Tubuhnya pun telah tegap semampai 
Dan matanya bulat sempurna seperti bulan
Bercahaya tiap kali tersenyum bahagia

Ia tak lagi rapuh 
Angin malam telah bersahabat dengannya
Badai yang datang pun tak kan sanggup
menggoyahkannya
Ia telah meneguhkan hati dalam sebuah
perjalanan jiwa
Dan mendapatkan kesempurnaannya
di suatu malam 
Malam yang indah hadiah dari Alam
Saat ia dapat meraih empat bintang
tertinggi
Di langit malam yang telah lama
menantinya

Napas ini masih berembus sempurna
Saat menyaksikan ia terbang ke langit biru
Dan selama kedua kaki ini masih sanggup
berjalan
Ku kan selalu memuja gadis kecilku ini
Meski ku tak kan tahu lagi ia ada di mana
Ku kan selalu merindukannya
Dengan melantunkan sebuah lagu indah
Menuntaskan sepenggal lirik yang
pernah ditinggalkannya

Ku kan selalu merindukannya sampai di
ujung usia
Dengan menatap langit biru setiap waktu
Memastikan ia telah bahagia di sana
Di antara warna pelangi indah 
Yang terhampar di langit pagi

Terbanglah gadis kecilku
Raih bintangmu di langit biru
Sebanyak yang engkau butuhkan
Ibu akan selalu merindukanmu
Dan akan selalu menantikanmu
Di sini, tempat di mana kita akan melepas
kerinduan sekali waktu
Membalutnya dengan rasa syukur dan
keikhlasan yang sempurna

Mata serasa baru saja berkedip
Tapi engkau telah berubah menjadi kupu-
kupu putih
Terbanglah tinggi ke langit biru
Menjadi titik dan tak terlihat lagi
Biarkan Ibu merindukanmu di sini
Biarkan Ibu menantikanmu di sini
Kupu-kupu putihku

(Lereng Sakya, 24 April 2019)