Sebuah pandangan teologis bahwasanya Alquran shalih li kulli zaman wa makan memberikan spirit untuk mengkaji berbagai aspek di dalamnya, salah satunya ialah upaya pencarian makna terhadap ayat-ayat Alquran atau yang biasa dikenal dengan istilah tafsir.

Menilik perjalanan tafsir dari masa ke masa, tentu mengalami perkembangan mulai dari era klasik hingga kontemporer. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya beragam nuansa karya tafsir, mulai dari era awal hingga era modern ini.

Seiring dengan berkembangnya zaman, dunia tafsir juga mengalami pergeseran paradigma. Seperti yang digambarkan oleh Abdul Mustaqim dalam bukunya, pendekatan yang digunakan pada setiap era berbeda-beda.

Pada periode awal tafsir belum mencakup keseluruhan ayat Alquran dan untuk membela mazhab tertentu. Berbeda dengan periode modern, paradigma tafsir cenderung mengemukakan ide-ide rasional kritis dalam memandang penafsiran Alquran dan lebih fungsional menjawab problem zaman kontemporer (Abdul Mustaqim, 2014).

Menilik problem yang makin kompleks tersebut, beberapa intelektual muslim berupaya menghadirkan model penafsiran yang lebih dibutuhkan menjawab tantangan zaman pada saat itu, salah satunya adalah Abdullah Saeed.

Abdullah Saeed merupakan tokoh penggagas model penafsiran kontekstualis. Dalam bukunya Interpreting the Qur’n Towards a Contemporary Approach, dijelaskan bahwa seorang penafsir harus mengetahui konteks sosial, politik, dan budaya saat wahyu Alquran diturunkan dan juga konteks yang terjadi saat ini (Abdullah Saeed, 2008).

Model penafsiran kontekstual Saeed dilatarbekangi oleh kegelisahan yang dialaminya pada abad kontemporer ini, yaitu maraknya tafsir berbasis tekstual tanpa mempertimbangkan konteks ketika wahyu diturunkan.

Saeed mengkritik ilmuan klasik tentang anggapan wahyu sebagai kalam Tuhan dan mengabaikan bahwa Nabi dan masyarakat pada masa itu berperan di dalamnya. Ia setuju dengan konsep wahyu yang ditawarkan oleh beberapa ilmuan kontemporer, salah satunya Fazlur Rahman yang berpendapat bahwa di satu sisi wahyu memang kalam Tuhan dan juga kalam Muhammad.

Melihat sekilas, pandangan mereka dikenal cukup kontroversial. Jika dipahami lebih lanjut, maksud argumennya tersebut ialah bahwa Alquran bukan kalam Muhammad tapi Alquran tersebut sangat dekat dengan Nabi Muhammad yang berperan di dalamnya sehingga yang digunakan pun merupakan bahasa manusia, yaitu bahasa Arab.

Dalam menyusun kerangka metodologis penafsiran, Saeed banyak terpengaruh oleh teori Rahman, yaitu Double Movement (proses penafsiran yang melihat realitas yang terjadi sekarang lalu melihat masa pewahyuan Alquran untuk mengambil pesan-pesannya, kemudian menerapkan pesan tersebut dalam kehidupan sekarang). Namun di sini Saeed melakukan spesifikasi dan lebih terfokus kepada ayat-ayat Ethico-Legal (Etika Hukum).

Mengapa ayat-ayat Etico-Legal? Menurut hemat penulis, kebutuhan akan pemahaman nilai-nilai pada ayat hukum harus diselaraskan dengan konteks zaman sekarang. Hampir sama dengan model general principle Rahman, Saeed juga menghadirkan secara spesifik Hierarki Nilai sebagai tawaran inovatif memahami ayat Etico-Legal. Berikut tingkatan-tingkatannya:

Urutan pertama adalah Obligatory Values, yakni ayat-ayat yang mengandung nilai-nilai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu umat Islam di manapun dan kapan pun. Oleh karena itu, nilai-nilai ini bersifat universal. Contohnya adalah ayat tentang keesaan Tuhan, ayat ibadah, dan halal-haram.

Kedua adalah Fundamental Values, yaitu ayat-ayat yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan, menjaga hak milik orang, dan lain-lain, sehingga harus diterapkan secara universal. Di kalangan ulama uṣūl, nilai-nilai ini disebut dengan maqāṣid al-syari’ah (tujuan utama syariah). Contohnya adalah ayat kebebasan beragama.

Ketiga adalah Protectional Values merupakan ayat-ayat yang berisi tentang ketentuan-ketentuan hukum dalam rangka menjaga nilai-nilai fundamental di atas, seperti larangan berbuat aniaya, larangan mencuri, larangan mengurangi timbangan, larangan melakukan riba, dan lain-lain.

Keempat adalah Implementational Values, merupakan tindakan dan langkah konkret yang harus diambil dalam rangka menjaga nilai-nilai fundamental dan proteksional. Nilai ini terdapat dalam ayat-ayat yang berisi penerapan hukuman. Misalnya dalam teks dikatakan larangan mencuri hukumannya potong tangan.

Perlu diketahui ketika Alquran menetapkan hukuman ini, Alquran telah mempertimbangkan dan menyesuaikan jenis hukuman dengan konteks budaya yang berlaku saat itu. Jadi sifatnya lokal dan temporal. Bisa berubah sesuai kondisi zaman tertentu.

Kelima, Instructional Values, yaitu tindakan yang diambil Alquran ketika berhadapan dengan suatu problem spesifik pada masa pewahyuan. 

Saeed mengatakan bahwa nilai inilah yang paling sulit dipahami karena jumlahnya sangat banyak dalam Alquran dan bentuknya juga sangat beragam. Contohnya adalah ayat perintah poligami, perintah bahwa laki-laki adalah ‘pemimpin’ bagi perempuan, dan lain-lain.

Dalam hierarki nilai tersebut, makin sering suatu nilai disebutkan dalam Alquran dan ditekankan pada masa Nabi, makin penting dan signifikan nilai tersebut. Maka sebelum melakukan penafsiran, kita harus melihat tingkatan-tingkatan ayat tersebut berada di level yang mana.

Sebagai salah satu contoh penafsiran Saaed tentang hukum potong tangan. Seorang penafsir harus merenungkan ayat tersebut nilai dan relevansinya apa ketika diturunkan pada masa pewahyuan. Ternyata hal tersebut cocok diterapkan pada konteks masa itu saja. 

Pada masa sekarang sudah dibatasi oleh HAM dan berada dalam konteks masyarakat plural. Jadi boleh diganti dengan hukuman yang lain seperti penjara dalam rangka masih sama, yakni hifdz Mal.