Wayang orang merupakan salah satu kesenian tradisional yang berkembang di daerah Jawa. Cerita yang diambil untuk wayang orang berasal dari kisah Ramayana dan Mahabharata yang dikarang oleh Rsi Walmiki di India sekitar abad keempat sebelum masehi.[1]

Cerita Ramayana dan Mahabharata ini memiliki perkembangan ketika masuk ke daerah Jawa da ditulis dalam bentuk kakawin. Cerita Ramayana versi Jawa dibuat oleh Yogiswora sekitar tahun 820-832.[2] Cerita Mahabharata versi Jawa dibuat oleh Mpu Sedah sekitar tahun 1157.[3]

Selain ditampilkan dalam bentuk wayang orang, kisah Ramayana dan Mahabharata juga ditampilkan dalam bentuk wayang kulit, lukisan, dan relief candi.

Wayang orang tidak hanya memiliki tujuan untuk menghibur saja. Wayang orang juga sarana untuk mengungkapkan diri para seniman karena hampir seluruh jenis seni dapat terakomodasi di dalamnya. 

Para penari, pemain teater, pemusik, penyair, pelukis, pengukir, dan sebagainya dapat berpartisipasi dan berkolaborasi dalam pertunjukan wayang orang.  Selain itu, wayang orang juga merupakan sarana untuk pemurnian diri bagi mereka yang mendengarnya. 

Baca Juga: Wayang

Wayang orang sebagai pemurnian diri para penonton dapat didasari dari agumen Aristoteles. Dalam karya berjudul Poetics, Aristoteles melukiskan, “… melalui rasa kasihan dan takut mempengaruhi pemurnian yang tepat dari emosi-emosi” (Poetics 1449b27-28).[4]  

Konteks yang diambil oleh Aristoteles adalah seni pertunjukan berupa tragedi dalam era Yunani kuno. Tragedi adalah tiruan dari suatu tindakan (Poetics 1450a15).[5] Tragedi menceritakan cerita tentang peralihan nasib tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, baik peralihan menjadi bernasib baik atau mujur atau menjadi nasib buruk (bdk. Poetics 1452b33-1453a2).[6]

Ada enam komponen penyusun tragedi, yaitu plot, perwatakan, diksi, pikiran, panggung, dan melodi (Poetics 1450a7-12).[7]

Wayang orang dapat kita lihat sebagai bentuk dari tragedi. Keenam komponen penyusun tragedi dapat kita jumpai dalam wayang orang. Keenam komponen penyusun wayang orang dikolaborasi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu pertunjukan yang menarik. 

Ketika keenam komponen ini dikolaborasi dengan baik, tidak jarang penonton akan mendapat kesan takjub (awe)terhadap pertunjukan wayang orang yang sedang ditampilkan. 

Dalam wayang orang juga terdapat pergantian nasib yang dialami oleh agen atau karakter yang dimainkan. Misalnya saja dalam cerita Ramayana, Wibisana berpindah haluan dari pengikut kerjaan Alengka yang jahat menjadi pengikut Rama yang ada di pihak yang baik. 

Aristoteles juga menuliskan adanya dua pertimbangan plot yang menentukan keindahan sebuah pertunjukan tragedi. Pertama adalah perubahan nasib yang terjadi karena kekeliruan, dan bukan karena keburukan moral (Poetics 1453a15-16). 

Kedua adalah perubahan nasib yang terjadi sebagai efek dari tindakan yang tidak diketahui agen (Poetics 1453b38-39).[8] 

Sebagai contoh pada kisah Ramayana, nasib Sinta akan tetap bahagia bersama Rama andaikan saja Rama tidak meninggalkan Sinta sendirian dan tidak pergi berburu. Karena Rama meninggalkan Sinta, Rahwana datang untuk menculik Sinta dan ini membuat Sinta tidak bahagia.  

Lebih dari hal-hal di atas, pertunjukan wayang orang sebenarnya memberikan “aha point” berupa pelajaran-pelajaran hidup yang didapat dari percakapan, lagu, maupun alur cerita. Pelajaran hidup ini juga dapat ditemukan lewat rasa kasihan terhadap tokoh-tokoh yang ditampilkan maupun juga ketakutan agar kita tidak jatuh pada kesalahan atau nasib buruk yang dialami oleh para tokoh dalam pertunjukanwayang orang yang ditonton. 

Kedua hal terakhir ini (rasa kasihan dan rasa takut) sebenarnya adalah kunci evaluasi nilai estetis dari sebuah tragedi yang dapat kita terapkan juga pada pertunjukan wayang orang.[9]

Pelajaran hidup berupa rasa kasihan dan rasa takut yang didapatkan dari pertunjukan wayang orang dan juga tragedi sebenarnya adalah sarana pemurnian emosi-emosi kita. Tidak jarang setelah menonton wayang orang, emosi kita tidaklah sama dengan emosi kita sebelum menonton pertunjukan wayang orang. 

Kita tidak hanya mendapat kepuasan tetapi juga refleksi atau pelajaran-pelajaran yang patut direnungkan dari pertunjukan wayang orang yang ditonton. Inilah yang disebut pemurnian atau catharsisatau juga purgation. Pemurnian ini merupakan dampak psikologis yang kita terima dari pertunjukan wayang orang.

Rasa kasihan dan rasa takut sebagai sebuah pemurnian ini dapat ditemukan jika kita fokus pada karakter-karakter tertentu atau pun juga dari keseluruhan plot pertunjukan wayang orang yang kita lihat. 

Contoh pemurnian diri yang dapat kita ambil dari tokoh-tokoh tertentu adalah pembelajaran dari tokoh Kumbakarna yang meninggal saat bertempur membela Alengka. Ia adalah saudara Rahwana dan Wibisana. Ia adalah raksasa yang bodoh. 

Kendati demikian, apa yang ia ketahui adalah kewajiban membela negara dan keluarga. Kendati negara dan keluarganya ada di posisi yang salah, ia tetap loyal atau setia. Akhir hidup Kumbakarna tidaklah bahagia. Penonton dapat mengambil pembelajaran dari tokoh ini.

Pemurnian diri yang dapat diambil dari keseluruhan isi cerita misalnya saja kita mempelajari makna cinta dari kisah Ramayana. Cinta itu buta. Karena Rahwana cinta kepada Sinta, ia menculik Sinta. 

Karena cinta kepada Sinta, Rama rela melakukan segala cara demi merebut Sinta kembali. Sinta rela dibakar (membakar diri) untuk membuktikan kesucian cintanya. Ini adalah contoh dari pemurnian diri yang didapat dari keseluruhan plot cerita. 

Dengan demikian, setiap kali kita menonton wayang orang, hendaknya kita tidak hanya mencari kesenangan dan hiburan saja. Kita dapat belajar banyak hal dari kisah-kisah pewayangan yang ditampilkan oleh wayang orang. 

Pembelajaran-pembelajaran yang dapat kita ambil tersebut dapat menjadi sarana yang baik bagi kita untuk meningkatkan kualitas diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. 

Catatan kaki:

  1. https://satujam.com/pengarang-cerita-ramayana/diakses pada Senin, 3 Desember 2018 pukul 08.05 WIB.
  2. http://kakawin-ramayana.stie-swadaya.web.id/id3/2828-2712/kakawin-Ramayana_32626_kakawin-ramayana-stie-swadaya.htmldiakses pada Senin, 3 Desember 2018 pukul 08.07 WIB.
  3. https://www.wattpad.com/159898989-cuplikan-mahabharata-versi-jawa-baratayudadiakses pada Senin, 3 Desember 2018 pukul 08.10 WIB.
  4. Martin Suryajaya, Sejarah Estetika, Jakarta: Gang Kabel, 2016, hlm. 60.
  5. Ibid., hlm. 57.
  6. Ibid., hlm. 59.
  7. Ibid., hlm. 56.
  8. Ibid., hlm 59.
  9. Ibid., hlm. 59.


Sumber: