Sekitar April 2017, pemuda berusia sekitar 23 tahun, bernama Muhammad Ibnu Dar dengan gelap mata menabrakan motor yang dikendarainya ke salah seorang polisi di Markas Kepolisian Resor Banyumas, Jateng. Tidak sampai situ, dia berlari telanjang kaki menuju pintu utama sembari menyabetkan senjata tajam ke salah seorang polisi lainnya. Kedua polisi tersungkur bersimbah darah.

Mengetahui markas kepolisian diserang oleh pemuda tidak dikenal, puluhan polisi mengejar untuk menangkapnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Ibnu tertangkap setelah dikepung dari berbagai sisi.

Dalam keadaan tidak berkutik, Ibnu meneriaki para polisi sebagai para thogut yang harus dihancurkan dengan cara diperangi. Bagi Ibnu, polisi adalah musuh umat Islam karena sering melakukan penumpasan aksi yang menurutnya heroik (baca: teror) dengan cara keji dan tidak adil melalui Densus 88.

Ibnu merupakan salah satu pemuda yang sudah terpapar doktrin radikalisme dan terorisme yang sudah menjangkiti pemikirannya. Yang cukup mengejutkan, Ibnu selain sebagai simpatisan Jamaah Ansharut Daulah sekaligus sebagai simpatisan ISIS.

Hal yang menarik untuk ditelusuri apa yang melatarbelakangi dia menjadi seorang teroris pemula? Apakah dipengaruhi oleh salahnya pergaulan? Atau terjadinya pergeseran perilaku psikologis atas pengamatannya membaca fenomena sosial-politik?

Penulis yang pernah membuat sebuah reportase ringkas tentangnya, (https://nasional.tempo.co/read/865477/kapolda-sebut-pelaku-penyerang-mapolres-banyumas-simpatisan-isis) mencoba untuk membedah menjadi beberapa pokok pembahasan dengan fokus kasus Muhammad Ibnu Dar dengan menggunakan pendekatan empiris dan teoritis agar dapat dapat terurai secara sistematis dan komprehensif.

Dari argumen yang hendak disampaikan, penulis tentunya tidak bermaksud untuk menggeneralisir pola radikalisasi pemuda menjadi seorang teroris. Namun apa yang menimpa Ibnu, dalam tahapan-tahapan tertentu, beberapa diantaranya dapat dimungkinkan menjadi penyebab utama atau timbulnya percikan radikalisme-terorisme yang disadari ataupun tidak mencoba untuk menjangkiti para pemuda. Terlebih dalam konteks zaman milenial perubahan dapat terjadi secara instan dengan durasi yang tidak bisa diprediksi.

Radikalisasi Teroris: Dari Alienasi Sosial dan Solidaritas Kelompok

Sebelum peristiwa itu terjadi, di lingkungan rumahnya Desa Karang Aren, Kecamatan Kutasari, Purbalingga, Ibnu lebih dikenal sebagai pemuda pada umumnya yang suka berkumpul bersama temannya. Pendidikan terakhirnya sampai SMA membuatnya harus bekerja sebagai salah seorang pegawai di pabrik kayu di sekitar kampungnya. Tidak diketahui mulai kapan dia menjadi simpatisan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang lebih dikenal Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara pimpinan Ustadz Aman Abdurrahman. (Obsatar Sinaga dkk, hlm 54, 2018)

Kecurigaan tersebut terasa ketika dia mulai membuat surat peringatan tradisi ziarah warga di pemakaman di sekitar kampungnya dengan membuat surat peringatan keras. Ibnu pun semakin mengalienasi dirinya dan menghabiskan waktu di rumah selain karena sosoknya yang pendiam. Selain itu, semakin mengurangi interaksinya dengan warga di sekitar rumahnya. Sosoknya menjadi semakin berubah sejak ibunya meninggal dunia.

Sampai pada tahapan ini, Psikolog Universitas Indonesia, Hamdi Muluk mencoba mengklasifikasikan kelompok teroris dalam satu struktur piramida dengan posisi puncak ditempati oleh pemimpin disusul kader, perekrut, kolaborator, suporter, dan simpatisan.

Pada struktur paling bawah, yakni simpatisan memiliki basis massa paling besar. Hal ini dikarenakan posisi tersebut cukup luwes bergerak secara kulutural. Meski posisinya tidak terikat langsung dengan struktur, namun loyalitasnya cukup tinggi terlebih bila munculnya sebuah kebijakan baru dari pimpinan. Termasuk dinamika organisasi yang dimainkan oleh anggota lainnya. Di sini lah posisi Ibnu bermukim.

Terlebih setelah dia mendengar peristiwa serangan kelompok teroris yang diduga juga berasal dari kalangan JAD yang menyerang petugas Satlantas Polres Tuban. Akibat dari peristiwa tersebut, setidaknya 6 orang pelaku tewas. Salah satu diantaranya merupakan warga Purbalingga.

Pemuda bernama Ibnu adalah sebuah paradoks. Kenapa bisa dikatakan demikian? Ibnu memiliki kakak seorang prajurit TNI, begitu pun ayahnya yang pernah menjadi Komandan Komando Rayon Militer di salah satu kecamatan di Purbalingga.

Artinya, meski Ibnu memiliki anggota keluarga seorang prajurit yang memiliki militansi menjaga NKRI dan doktrin Pancasila yang kuat, tidak menjadkani Ibnu melakukan hal serupa. Pada akhirnya, dia terpapar ideologi terorisme untuk bersiapkan menjalankan misi yang dianggapnya “mulia”.

Saya kemudian teringat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim tentang kisah seorang laki-laki yang meminta pendapat Rasulullah Saw tengan keinginannya untuk berjihad yang kurang lebih percakapannya seperti demikian:

“Apakah kedua orangtuamu masih hidup? Tanya Rasulullah.

“Iya. Masih,” kata pemuda.

“Maka pada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti),” ujar Rasulullah.

Riwayat ini, mengandung pesan bagi pemuda-pemudi yang masih orangtua bahwa jihad perang (qital) bukanlah perkara mudah. Ada banyak langkah cara yang bisa ditempuh. Bila dia seorang pekerja, maka bekerjalah dengan dengan sungguh-sungguh. Bila dia seorang pelajar, maka belajarlah pula dengan sungguh-sungguh.

Internet dan Media Sosial: Di antara Ancaman dan Solusi

Menurut keterangan dari kepolisian, selain Ibnu aktif sebagai simpatisan JAD, dia menjadi simpatisan ISIS (Islamic State of Iraq and al-Sham) setelah dibaiat melalui internet. Hal ini semakin diperkuat dengan ditemukannya panci, rakitan kabel, dan bendera ISIS.

Proses pembaiatan kader ISIS tidak bisa dipisahkan peran dari sosok Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Abu Rayan atau yang lebih populer dikenal sebagai Bahrun Naim yang pernah dianggap sebagai otak serangan Bom Sarinah pada 2016 lalu. (Obsatar Sinaga dkk, hlm 110-117, 2018).

Bahrun Naim dikenal memiliki kepiawaian dalam merekrut para martir dengan memanfaatkan internet. Ini terbukti dengan pernah terjadinya kasus bom panci di Bekasi yang melibatkan Dian Yulia Novi yang dikendalikan langsung oleh Bahrun yang memiliki posisi strategis sebagai ketua jaringan ISIS di wilayah Asia Tenggara.

Bersama Bahrumsyah dan Abu Walid, saat ini ketiganya menjadi buronan teroris paling berbahaya setelah berakhirnya era Dr. Azahari dan Noordin M. Top sebagai teroris kelas kakap di wilayah Asia Tenggara.

Pola rekrutmen ini rupanya sejalan dengan Sosiolog Universitas Gajah Mada, Najib Azka yang dalam sebuah kesempatan mengatakan tengah terjadinya pergeseran rekrutmen teroris yang sebelumnya dilakukan dengan pertemuan empat mata yang secara khusus membahas tentang ideologi. Kini indoktrinasi cukup dilakukan dengan menggunakan jaringan internet.

Tidak bisa dipungkiri Indonesia merupakan negara peringkat keenam sebagai negara pengguna internet terbesar di dunia. Dari tahun ke tahun grafik pengguna internet mengalami kenaikan secara signifikan. Pada tahun 2013, pengguna internet di Indonesia sebanyak 72,8 juta, tahun 2014 (83,7 juta), tahun 2015 (93,4 juta), tahun 2016 (102,8 juta), tahun 2017 ditaksir mencapai 112,6 juta pengguna internet. (aji.or.id, 2017)

Menurut kemkominfo yang dikutip oleh Elga Andina, seiring popularitas media sosial seorang pengguna bisa mendaftar beberapa akun yang rata-rata mencapai 7 akun. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan pada 2012 seorang pengguna memiliki 3 akun. (Elga Andina dkk, hlm 201, 2017)

Inilah yang kemudian bagi Bahrun Naim dianggap sebagai potensi besar memanfaatkan internet dan media sosial untuk mendukung kegiatan terorisme. Dalam sebuah laporan Twitter ISIS Sensus memperkirakan setidaknya 46.000 akun Twitter yang digunakan oleh pendukung ISIS pada September-Desember 2014. (J.M Berger dan J. Morgan, 2015).

Maka, apa yang menimpa Ibnu atas terpaparnya indoktrinasi terorisme melalui internet dalam konteks saat ini merupakan sebuah keniscayaan di tengah sebuah pencarian identitas. Bila hal tersebut terjadi, tidak menutup kemungkinan bagi para pelaku akan mengalami sebuah rasa paranoid dan gangguan kecemasan akan perubahan di dunia luar.

Lantas bagaimana upaya membendung terorisme yang saat ini sudah menjalar di internet? Setiap diri kita masing-masing perlu menanamkan diri kesadaran kolektif tentang pendidikan berinternet sehat. Contoh paling mudah, kita harus menjadi pribadi yang skeptis ketika mendapatkan sebuah informasi yang berbau ajakan jihad dengan membaca informasi tersebut secara teliti dan cermat.

Bila informasi tersebut mencurigakan, kita juga perlu menelisik profil siapa yang mendistribusikan informasi tersebut kepada khalayak. Bila dalam profil terdapat data diri  yang mencurigakan, kita patut waspada menerima informasi yang sudah tersebar. Pun kita juga dapat melaporkan kepada pihak berwajib bila informasi tersebut berisi ajakan perang sampai menghasut untuk menebarkan kebencian kepada yang tidak sepaham.

Di era milenial, segalanya dapat dengan mudah terjadi. Tentu hal tersebut dimulai dari bagaimana kita memanfaatkan internet dan media sosial. Pada akhirnya kebijaksanaan serta rasionalitas di antara kita akan menentukan siapa kita selanjutnya.