Seorang kawan mesposting gambar dan video dua pasangan kakek-nenek renta yang sedang membajak sawahnya menggunakan alat tradisional (di Madura disebut “naggele”). Tidak sebagaimana ghalib terjadi, alat pembajak sawah yang seharusnya menggunakan tenaga sapi, di sini malah menggunakan tenaga manusia.

Seorang nenek menarik alat pembajak sawah menggantikan sapi. Dan dari belakang, seorang kakek yang mungkin suaminya, mendorong dengan keteguhan hati dan optimisme yang memuncak. 

Lesu tidak menjadi persoalan. Karena membajak sawah adalah ikhtiar merawat tanah warisan leluhur dan cara yang paling sahih bertahan hidup di tengah-tengah kemiskinan yang membelenggu.

“Ke mana bantuan traktor?” Caption kawan saya pada gambar dan video yang dipostingnya. Saya memahami bahwa pertanyaan pendek ini merupakan bentuk kritik kepada pemerintah kita, kenapa hari ini masih ada kemalaratan semacam ini di tengah-tengah melimpah-ruahnya bantuan alat-alat modern pertanian, seperti halnya traktor. Jangan-jangan aneka ragam bantuan tersebut dikorupsi oleh oknum elite kita yang rakus bagaikan tikus. Kira-kira begitulah yang sedang dipikirkan kawan saya.

Tetapi bukan soal bantuan traktor atau alat-alat pertanian modern lainnya yang kemungkinan besar dikorupsi itu yang menarik perhatian saya, melainkan kedua sosok tua renta yang sedang asyik membajak sawahnya. Biarlah urusan bantuan traktor yang tidak tepat sasaran atau yang kemungkinan besar dikorupsi itu menjadi urusan para aktivis. Karena mereka yang berkompeten dan ahlinya urusan bela-membela rakyat.

Jika kawan saya tadi mengajukan pertanyaan, ke mana bantuan traktor?, di sini saya juga ingin mengajukan pertanyaan, ke mana anak, cucu, atau keponakan mereka? Kenapa yang tua yang membajak sawah? Kenapa yang tua yang bertani?

Nah, di sini saya melihat absennya pemuda dalam dunia pertanian kita. Pemuda kita hari ini takut menjadi petani. Karena dalam kacamata mereka, menjadi petani adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan gemerlap kemewahan dan kenyamanan. 

Menjadi petani sudah tidak lagi menjadi satu kebanggaan bagi para pemuda kita. Justru ia menjadi momok yang menakutkan. Karena bagi mereka, menjadi petani lebih dekat dengan kesengsaraan daripada kesenangan. Menjadi petani adalah pekerjaan rendahan bagi mereka.

Memang, sepintas menjadi petani sungguh tidak mengenakkan. Di saat matahari terik, ia harus berjemur kepanasan mencangkul, membajak sawah dan menanaminya dengan bibit-bibit yang diinginkannya. Dan begitu pun ketika hujan, ia harus rela basah kuyup dan kedinginan di bawah guyuran hujan .

Bertani telanjur dipandang suatu pekerjaan rendahan yang sama sekali tidak menjanjikan kesuksesan. Sungguh defenisi yang sempit tentang kesuksesan. Padahal mayoritas anak muda di Madura mampu melanjutkan pendidikannya dari pendidikan dasar, pesantren hingga perguruan tingga berkat hasil pertanian para orangtuanya.

Jadi tidak bisa kita mungkiri bahwa pertanian menjadi musabab paling dominan dalam mengantarkan anak-anak muda di Madura ke pintu kesuksesan (dalam pengertian yang subjektif).

Sebagaimana jamak kita lihat bahwa pemuda kita hari ini lebih suka menjadi pegawai di kantor atau perusahaan meskipun kemerdekaannya diperkosa daripada bekerja sebagai petani dengan beribu-ribu kemerdekaan di tangannya. Pemuda kita bermental budak, bukan tuan.

Juga pemuda kita lebih suka berebut kekuasaan, posisi, dan jabatan meski harus saling menjatuhkan, gontok-gontokan, dan mangsa-memangsa di antara satu sama lain, nyaris seperti kehidupan di hutan rimba. Karena, bagi mereka, pekerjaan yang demikian lebih elite dan keren daripada menjadi petani meski harus menjual kehormatannya sebagai seorang manusia. 

Jika hari ini pemuda kita takut menjadi petani, maka saya berani bertaruh bahwa pertanian kita, dua puluh tahun ke depan, akan punah. Sawah-sawah yang terbentang luas di Madura tidak akan ada yang mengelola. Perlahan ia akan mati bersama matinya ghirah pemuda kita menjadi petani.

Dan bukan sesuatu yang mustahil, sawah-sawah kita akan dijual, dan perlahan akan dikuasai kaum pemilik modal dan asing. Sedangkan kita akan menjadi budak atau paling tidak, pesuruh di tanah tumpahnya sendiri. Tidak boleh kita lupakan bahwa kedaulatan bangsa dan negara ini ada di tangan para petani kita.

Masihkah Anda malas menjadi petani?