Dari zaman ke zaman, topik kepemimpinan selalu menjadi tema yang menarik dan unik untuk dikaji, diperdalam, dan diperbincangkan. Mengapa? Karena sangat berkaitan erat dengan hal-hal mendasar dan fundamental yang langsung bersentuhan dengan perubahan-perubahan ideal ke arah yang lebih baik di masa sekarang dan juga mendatang.

Munculnya kepemimpinan sebagai bentuk konsekuensi logis dari budaya dan perilaku umat manusia sebagai makhluk sosial (atau homo sapiens) dan ketergantungan sosial (zoon politicon), baik dari segi konseptual atau teori maupun dari segi faktual atau praktis.

Kualitas suatu kelompok atau komunitas dalam suatu wilayah atau daerah tertentu, baik di masyarakat maupun dalam satu negara, itu sangat ditentukan oleh integritas dan karakter individu dari penghuni yang ada di dalamnya. 

Akhir-akhir ini tidak sedikit telah terjadi pergeseran orientasi hidup di mana sebagian orang yang memegang kendali kepemimpinan memiliki kedudukan dan status sosial sudah tidak lagi bertujuan untuk keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, maupun kemakmuran negeri, melainkan menjadikan jabatan itu hanya untuk kepentingan pribadi semata.

Jabatan seolah-olah menjadi prioritas utama yang digunakan untuk mengambil keuntungan finansial sebanyak mungkin tanpa sekalipun pernah berpikir untuk mempertimbangkan konsekuensi atau akibat dari apa yang dilakukan. Jabatan juga dianggap sebagai nilai yang harus diganti dan dibayarkan sebanding dengan apa yang telah dikeluarkan sebelum memperoleh jabatan itu, bukan lagi berfungsi untuk pengabdian dan tanggung jawab sosial. 

Apalagi yang lebih parah, yaitu menjadi ajang perhelatan mengumpulkan limpahan harta benda yang diperebutkan tanpa sama sekali mengindahkan etika, norma, dan nilai moralitas.

Oleh karena itu, dapat ditarik beberapa problematika kepemimpinan yang saat ini terjadi: pertama, berkurangnya idealisme kepemimpinan, yakni merebak atau berkembangnya orientasi yang lebih mementingkan aspek material.

Kedua adalah lunturnya jiwa nasionalisme, rasa cinta, dan rasa memiliki terhadap negeri dan bangsa sendiri, karena hal itu merupakan eksistensi atau perwujudan dari nilai luhur hidup berbangsa dan bernegara.

Ketiga ialah tidak adanya prinsip yang terintegrasi dengan sebuah komitmen nilai moral, budaya, dan ajaran agama.

Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi individu dalam suatu negara untuk memilih dan menentukan seorang pemimpin. Oleh karenanya, saat kita memilih pemimpin, kita harus sungguh-sungguh mempergunakan hati nurani kita dibarengi dengan banyak pertimbangan, baik dari aspek kapasitas sang calon maupun dari segi kapabilitasnya. Maksudnya, tidak disandarkan pada pertimbangan yang hanya berkaitan dengan kepentingan-kepentingan sesaat saja.

Dalam ajaran Islam, kepemimpinan merupakan hal yang sangat krusial, maka kriteria yang diatur sudah jelas dan harus memiliki ciri-ciri kepribadian yang berakhlakul karimah, qonaah (tidak serakah), dan istiqamah atau konsisten. Serta meneladani sifat-sifat wajib bagi para nabi, yaitu shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (mampu menyampaikan), fathonah (cerdas dan berintelektual). 

Jika kita ingin mengkaji lebih dalam lagi, ciri-ciri di atas itu sebenarnya tercermin pada makna dan hakikat integritas dan berkarakter.

Pemimpin yang berintegritas dan berkarakter

Integritas (integrity) ialah bertindak secara konsisten sesuai dengan nilai-nilai, kebijakan organisasi, dan kode etik yang ada. Dengan kata lain, ia adalah satuan atau penggabungan dari perbuatan, menyampaikan maksud, gagasan, ide, dan perasaan secara terbuka, jujur dan langsung sekalipun dalam situasi dan kondisi yang sulit dan tidak mudah.

Sedangkan karakter adalah pola perilaku yang bersifat individual. Karakter itu ialah kebiasaan, watak dan perilaku yang dimiliki seseorang. Ia berawal dari pikiran dan berakhir pada nasib, sebab pikiranlah yang melahirkan tindakan, dan tindakan yang dilakukan berulang-kali akan menjadi sebuah kebiasaan. 

Jika seseorang memiliki kebiasaan baik, maka ia akan berkarakter baik, dan begitu pun sebaliknya. Kemudian karakter yang baik akan membawa pada nasib yang baik, juga berlaku sebaliknya.

Pemimpin yang memiliki integritas didukung oleh 6 pilar karakter, yaitu kejujuran, keadilan, kepedulian, kearifan (atau kebijaksanaan), hemat, dan tanggung jawab. Itulah yang menurut hemat saya dinamakan pemimpin yang ideal.

Banyak contoh tauladan dan tokoh-tokoh penting yang memiliki kepemimpinan berintegritas dan berkarakter, seperti para Khulafaur Rasyidin yang empat, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, lalu Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah, Harun Ar-Rasyid pada zaman Dinasti Abbasiyah, dll. Kemudian di kalangan nasional di antaranya Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, Sultan Hemengkubuwono IX, Buya Hamka, dll.

Ide atau gagasan inti yang ingin disampaikan di sini tiada lain adalah bahwa tindakan pemimpin itu seharusnya dapat membawa perubahan yang baik pada lingkungan masyarakat luas serta berorientasi pada kebaikan dan kebenaran. 

Karenanya, seorang pemimpin yang baik itu ialah yang bukan hanya mampu menginspirasi orang-orang yang dipimpinnya, tapi juga menjadi tauladan dan panutan dalam segala aspeknya, serta berani bertanggung jawab bukan hanya pada keberhasilan tapi pada kegagalan-kegagalan juga.