Dunia semakin menggila! Ini bukanlah sesuatu yang ada tanpa sebab. Problema dunia semakin terbelit-belit dengan adanya semarak situasi politik di mana-mana. Eksistensi politik memanaskan realitas kehidupan yang tengah dalam kebodohan duniawi. Singkatnya, rakyat zaman now sedang dijajah oleh janji-janji kampanye yang tidak terealisasi.

Adanya kebuntuhan ini menjadi tanda tanya bagi dunia intelektual. Apakah politisi yang berintelektual tinggi hanya memanfaatkan kemampuannya untuk menjajah orang lain? Khususya mereka yang tak berilmu, kecil, terlantar dan miskin.

Entah disadari atau tidak, problema janji-janji juga mencuat dalam kalangan politisi yang tak mengenal siapa dirinya dan di mana dia berada. Tak jarang rakyat  diberi senyum palsu oleh  para politisi. Tentunya politisi semacam ini perlu ditapis habis-habisan agar tidak semakin memburuk, tetapi semakin meningkatkan kualitas kehidupan dalam hal apa pun dan siap bersaing dengan situasi global.

Tahun 2018 merupakan sebuah momen yang sangat penting untuk pembaharuan politik. Di sini, rakyat dapat menentukan siapa yang terbaik untuk menjadi pemimpin. Rakyat tidak butuh pemimpin yang pandai beretorika tetapi dia yang memberikan perhatian. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang diharapkan kepada para calon pemimpin daerah. Oleh karena itu, rakyat sedang digerogoti 1001 pertanyaan tentang who is the best leader? 

Masa pergantian pemimpin adalah sebuah momen berharga bagi rakyat dalam mengekspresikan pilihannya siapa yang terbaik dan layak menjadi leader. Banyak orang mencalonkan dirinya dan berjuang untuk merebut kekuasaan sebagai seorang pemimpin. Dalam masa transisi ini muncul berbagai macam figure dengan lifestyle-nya masing-masing. Ada yang hebat dalam “beretorika” di hadapan publik dan juga ada yang mampu menarik perhatian orang dengan kesederhanaan hidupnya. Kedua hal ini hanya merepresentasi dari sekian banyak gaya  para politis dalam berkampanye.

Ada orang yang muncul tiba-tiba di hadapan media sosial dan berjumpa dengan rakyat biasa. Kemudian, ia bersedekah atau memberi bantuan kepada masyarakat. Tindakan seperti ini perlu ada attitude of doubt dan dikritisi secara mendalam. Bisa saja habit ini menjadi langkah awal dalam meruntuhkan kualitas sistem pemilihan yang jujur dan bahkan secara tidak sadar telah menampakkan sikap kebodohan dunia yang menghancurkan kredibilitas dan elektabilitas partai, bahkan dirinya sendiri sebagai calon pemimpin.

Tantangan dunia politik saat ini adalah bagaimana merealisasikan janji-janji kampanye. Ketika mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin, banyak janji yang disampaikan kepada rakyat. Semuanya bermelodi untuk mensejahterakan kehidupan bersama. Tapi, toh kenyataannya berkata apa? Luar biasa bedanya bagaikan langit dan daratan. Semuanya berbanding terbalik dan hanya menjadi arus yang membawa bencana besar bagi tatanan kehidupan bersama. Tentunya istilah KKN menjadi salah satu topik aktual dalam benak setiap individu serta kalangan masyarakat.

 Korupsi, Kolusi dan Nepotisme telah mewarnai dinamika politik. Hal ini merupakan sesuatu yang masif dan menggurita. Kesejahteraan bersama hanya akan menjadi harapan  belaka dan yang menjadi pemenang dalam persaingan kekuasaan itu akan terus berjaya menindas oposisi politik dan masyarakat kecil.

Dorongan korupsi secara fundamental berasal dari dan disebabkan oleh lunturnya nilai-nilai budaya kejujuran, terjadinya pembenaran atas perilaku koruptif, serta lemah dan kurang berfungsinya penegak hukum secara tegas. Tindakan kejahatan ini tidak saja dilakukan secara personal seorang pemimpin, tetapi banyak kasus telah menempatkan istilah “gotong royong” didalamnya. Mereka mengaplikasikan makna gotong royong dalam sebuah situasi yang tidak sepantasnya.

Dalam hal ini kita tidak membutuhkan sosok yang bernarasi koruptor, tetapi dia yang jujur. Ingat bahwa rakyat sangat membutuhkan dana yang besar dalam membangun kesejahtaraan rakyat dalam semua lini kehidupan.

Jika seorang figure pemimpin adalah koruptor, bagaimana mungkin sebuah daerah dapat hidup sejahtera, impossible! Sebaliknya, jika rakyat dipimpin oleh dia yang jujur, maka kemungkinan besar kesejahteraan hidup akan dirasakan semua rakyat. Sehingga harapan kita bersama dapat terpenuhi dengan statistika meningkat dalam artian positif, bukan negatif!

Transparansi dan kejujuran merupakan senjata ampuh dalam meretas peluang korupsi. Seorang pemimpin harus mampu membuat breakthrough (terobosan) baru dalam mengatasi masalah dasar dalam ketidakmajuan kesejahteraan bersama.

Pemimpin harus greget dengan keadaan masyarakat dengan memiliki tekad yang kuat, perilaku jujur, optimistik, kemampuan mengonsolidasikan,perhatian yang inklusif, menyinergikan orang serta elemen kebaikan dalam sistem pemerintahan, dan keberhasilan “membangun” partisipasi publik, yang adalah menjadi modal utama  “menaklukkan” korupsi.

Ingat! Kita melihat banyak orang yang tidak jujur (berprilaku koruptif), hidupnya makmur dan sejahtera. Tetapi apakah mereka pernah bertanya pada diri sendiri: apakah dengan cara seperti itu, mereka bisa menjalani hidup dengan bahagia? Mereka tentu saja tidak bisa menjawab pertanyaan ini, sebab mereka tidak bisa hidup dalam kejujuran, apalagi jujur tentang diri sendiri. Sebaliknya, pemimpin yang sungguh jujur, meski mengalami kesulitan dan banyak rintangan, tentu akan mengalami kebahagiaan. Hatinya akan tenteram dan damai. Kalau begitu, kita mau pilih yang mana?

Tentunya, semua orang tidak ingin masalah yang sama terjadi di daerah kita. Setiap kandidat harus berani keluar dari kenyamanan dirinya untuk memberikan yang terbaik bagi kesejahteraan bersama. Sosok pemimpin sejati adalah pribadi yang mampu merangkul perbedaan menjadi sebuah identitas kita bersama yang membanggakan.

Pribadi pemimpin seperti ini yang sangat dibutuhkan oleh rakyat. Entah disadari atau tidak seringkali para peminpin lupa bahwa mereka adalah “hamba rakyat” yang siap untuk melayani. Alasannya sangat sederhana, karena tidak mungkin dia menjadi pemimpin tanpa dipilih atau persetujuan rakyat. Dia siap bersaing secara  bersih sesuai keputusan rakyat tanpa adanya diskriminasi terhadap pihak lain.

Max Weber mengatakan bahwa “politik merupakan upaya secara perlahan dan gigih mengatasi kesulitan-kesulitan besar yang dilakukan dengan semangat maupun kearifan.” Hal ini yang menjadi spiritulitas dasar politik bukan untuk memecahbelahkan persatuan bangsa hanya demi mencapai keinginan pribadi. Sehingga dalam kaca mata pilkada 2018, semua calon gubernur dan wakilnya harus berspritualitaskan pada gaya Weber.

Pemimpin bukan untuk menghadirkan persoalan tapi ada untuk meretasnya persoalan klasik (korupsi, pendidikan, kemiskinan). Jika pemimpin memiliki semangat ini dalam dirinya, maka kita memiliki potensi yang besar akan bonum commune. Ini adalah harapan dan impian kita semua.