Pemikiran ekonomi terbagi atas beberapa bagian. Salah satunya pemikiran ekonomi masa pra-klasik yang  memiliki 4 sub bagian, yaitu pemikiran ekonomi zaman Yunani kuno, pemikiran kaum skolastik, era merkantilisme, dan mazhab fisiokratis. 

Keempat sub bab tersebut merupakan pemikiran awal tentang ekonomi, sebelum ekonomi itu berdiri sebagai cabang ilmu tersendiri.

Yunani Kuno

Pada masa Yunani kuno, Plato dan Aristoteles melakukan pembahasan tentang ekonomi sebagai bagian dari ilmu filsafat, yaitu filsafat moral. Sampai pada akhirnya Xenophon, yang juga filsuf Yunani menyebutkan istilah ‘ekonomi’ yang merupakan gabungan dari dua kata, yaitu ‘oikos dan nomos’ yang berarti ‘pengaturan dan pengelolaan rumah tangga’.

Sebenarnya Xenophon bukanlah ahli ekonomi, melainkan ahli pariwisata. Dalam karyanya On the Means of Improving the Revenue of the State of Athens, ia menjelaskan tentang keindahan negara Athena yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan negara. 

Dengan berbagai kelebihan, Xenophon melihat bahwa Athena dapat menarik perhatian banyak pedagang dan pengunjung dari daerah-daerah lain. Pengunjung yang datang (tamu) tersebut harus dilayani dengan baik, karena semakin baik pelayanan di Athena maka akan semakin banyak orang yang datang. 

Begitu juga dengan jumlah pajak yang akan terus meningkat seiring meningkatnya jumlah pengunjung.

Mari beralih kepada Plato dan Aristoteles. Keduanya mungkin tidak berfokus pada negara Athena, seperti yang dilakukan Xenophon, namun filsuf yang terkenal ini lebih membicarakan keadilan dalam sebuah negara yang ideal.

Menurut Plato, negara yang ideal adalah negara yang sudah mengetahui tentang pembagian kerja (division of labor). Adam smith, dalam karyanya Wealth of Nation, juga membahas tentang divion of labor dengan konsep pandangan dan tujuan yang berbeda dengan Plato. 

Dalam hal ini, Plato membagi tiga klasifikasi manusia berdasarkan pekerjaannya, yaitu penguasa, tentara dan pedagang. Menurut Plato, kaum penguasa adalah kaum yang seharusnya tidak bekerja demi harta. Dan seharusnya para penguasa memang mengabdikan dirinya untuk negara demi kemakmuran dan keadilan rakyat. 

Sedangkan kaum tentara tugasnya ialah menjaga keamanan negara serta masyarakatnya. Dan kaum pedagang inilah yang boleh bekerja untuk mengejar keuntungan dan mengumpulkan harta. 

Ketiga klasifikasi ini sebenarnya adalah pembatas untuk membatasi nafsu manusia yang tidak terbatas. Karena pada saat itu pun, masyarakat Yunani sudah mengenal Hedonisme yang digagas oleh Artippus.

Artippus menganggap bahwa kenikmatan ialah tujuan akhir kehidupan manusia yang paling mulia. 

Plato sangat tidak setuju dengan paham tersebut. Karena paham tersebut dapat menimbulkan kesenjangan sosial yang mana orang yang memiliki harta akan hidup dalam kemewahan yang selalu bertambah dan yang tidak memiliki harta akan menjadi semakin sengsara.

Aristoteles juga berpikir sama dengan Plato, di mana sebenarnya kebutuhan manusia itu tidak banyak, namun keinginan (nafsu)-nya tidak terbatas. 

Dalam pemikiran Aristoteles, ia membedakannya menjadi dua cabang, yaitu kegunaan dan keuntungan, dalam istilah spesifik ialah Oeconomia dan Chrematistike. Konsep oeconomia dapat diartikan sebagai pengelolaan rumah tangga dan harta warisan seseorang juga dapat diartikan dengan penggunaan sumber daya yang cermat. 

Chrematistike yang dimaksud Aristoteles merujuk pada kegiatan berdagang, di mana dalam perdagangan, konsep kegunaan tidak digunakan dan hanya berfokus pada keuntungan saja. Berbeda dengan konsep pemikiran Adam Smith, di mana ia berkata motif bergerak paling utama ialah keuntungan bukan kegunaan.

Kaum Skolastik

Masih sama dengan zaman Yunani kuno. Kaum skolastik masih memfokuskan perhatiannya pada konsep keadilan. Hal ini dipengaruhi oleh ajaran gereja dan kitab Injil pada Abad Pertengahan. 

Asumsi ekonomi pada masa itu menyangkut tentang moralitas. Masyarakat menganggap bahwa kekayaan materi perlu, karena tanpa materi orang-orang tidak mampu menghidupi dirinya sendiri apalagi menolong orang lain. 

Namun pandangan gereja tentang ekonomi dapat digambarkan dengan the merchant can scarcely or never be pleased by God.

Tokoh aliran skolastik yang terkenal ialah Albertus Magnus dan Thomas Aquinas. Magnus dengan konsep pemikirannya tentang harga yang adil dan pantas. Maksudnya ialah dalam aktivitas tukar menukar barang harus dilakukan dengan logis tanpa unsur melebih-lebihkan biaya yang sebenarnya tidak perlu diperhitungkan. 

Dan Aquinas dengan konsep pemikirannya tentang bunga yang divonis sebagai riba. Memungut bunga dari uang yang dipinjamkan menurutnya sangat tidak adil, karena sama dengan menjual sesuatu yang tidak ada. 

Dengan adanya bunga, seseorang memperoleh keuntungan tanpa usaha dan biaya. Namun pandangan ini sudah tidak lagi digunakan. 

Sekarang, tanpa bunga, orang-orang tidak bisa mendapatkan keuntungan dari sesuatu yang dipinjamkannya. Oleh karena itu, tanpa bunga, mungkin orang-orang akan lebih suka berinvestasi daripada meminjamkan uangnya tanpa manfaat yang jelas.

Era Merkantilisme

Merkantilisme berasal dari kata merchant yang artinya pedagang. Pada era merkantilisme ini terjadi kemajuan yang pesat dalam perekonomian dan litelatur.  

Pada era ini, perdagangan internasional dianggap sebagai sumber utama kekayaan negara yang berupa surplus. Uang dari hasil surplus merupakan sumber kekuasaan.

Dalam masa ini, terdapat banyak sekali tokoh-tokoh merkantilisme dan banyak juga aktor-aktor yang menulis tentang perekonomian. Karena setiap orang punya pendapatnya masing-masing. 

Namun karena tidak semua dari mereka berlatar belakang universitas, sehingga sulit untuk di generalisasi. Namun tulisan-tulisan itu yang nanti banyak menjadi sumber untuk buku The Wealth of Nations-nya Adam Smith.

Dalam praktik ekonominya, Jean Baptis Colbert, seorang pejabat negara Prancis menyatakan bahwa banyak terjadi aliansi antara penguasa dan pedagang. Penguasa memberi perlindungan kepada pedagang untuk hak monopoli dan keistimewaan lainnya. 

Sebagai gantinya, pedagang memberi uang kepada penguasa untuk memakmurkan hidupnya. Pada era ini juga disebut sebagai kapitalisme komersial atau kapitalisme saudagar. Dan hal ini juga yang menjadi awal dari imperialisme dan kolonialisme di dunia.

Mazhab Fisiokratis

Fisiokratis berasal dari dua kata yaitu physic dan cratos/cratain yang berarti alam dan kekuasaan. Kaum fisiokrat menganggap sumber kekayaan terdapat pada sumber daya alam, bukan perdagangan internasional. 

Kaum fisiokrat percaya bahwa Tuhan telah menciptakan alam dengan sebaik-baiknya. Sehingga diperlukan keselarasan dan keharmonisan antara alam dan perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus ada campur tangan dari pemerintah. 

Sebagaimana pasar berjalan begitu saja dalam istilah Laissez faire-laissez passer (let do, let pass). Yang kemudian konsep dari Quesnay ini lebih dikembangkan dan dikenal sebagai konsep Invisible Hand oleh Adam Smith.

Francis Quesnay yang merupakan dokter ahli bedah ini diangkat menjadi bagian dari sebuah lembaga ilmiah karena perhatiannya pada masalah ekonomi yang ditulis dalam buku Tableau Economique. Ia membagi masyarakat ke dalam empat golongan. 

Dalam pemikirannya, Quesnay dianggap sudah jauh lebih baik. Karena pola pikirnya sudah mulai tersusun dan sudah menggunakan istilah ‘mazhab’ . Dengan pola yang sudah tertata, maka akan lebih mudah untuk dipahami orang lain. 

Namun, pemikiran Quesnay ini kemudian disempurnakan lagi oleh Adam Smith pada era selanjutnya.

Demikian penjelasan tentang pemikiran ekonomi zaman Yunani kuno yang saya kutip, saya ringkas, dan sebagian diubah agar menjadi kalimat yang lebih mudah dipahami. 

Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekonomi itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan sama tuanya dengan peradaban manusia. Setiap manusia mempunyai pemikiran dan caranya sendiri dalam ekonomi. 

Dan agar lebih bermanfaat, hendaklah selalu mengingat uang disertai dengan mengingat berkah dari Tuhan. Dengan begitu, mudah-mudahan kita tidak menjadi egois dan merugikan orang lain serta mendapat kasih sayang dari Sang Pencipta.