Jumat, 16 November 2018, ICRC dan Qureta menyelenggarakan Pengumuman Pemenang Lomba Esai “Panggilan dan Tantangan Kerja-Kerja Kemanusiaan”. Lomba yang berlangsung sejak 1 September hingga 15 Oktober 2018 tersebut telah melahirkan tulisan-tulisan inspiratif. Semuanya mewacanakan semangat volunterisme dalam isu dan kerja-kerja kemanusiaan.

Pada kesempatan tersebut, ICRC yang diwakili oleh Dany Merhy, Deputi Kepala Regional ICRC untuk Indonesia dan Timor Leste, menjelaskan tujuan penyelenggaraan lomba esai. Lomba ini diharapkan bisa memantik semua kalangan untuk peduli dan menaruh perhatian terhadap isu-isu kemanusiaan yang selama ini terjadi.

"Ini merupakan lomba ketiga yang diselenggarakan ICRC dan Qureta. Misi utamanya adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia agar lebih mengenal isu-isu terkait konflik dan kerja-kerja kemanusiaan," ujarnya.

Kesempatan itu juga dijadikan Dany sebagai wadah memperkenalkan misi dan peran ICRC kepada masyarakat luas. Ia menjelaskan bahwa ICRC, sebagai organisasi internasional yang netral dan independen, senantiasa hadir untuk membantu dan melindungi masyarakat, terutama korban konflik.

"Juga sebagai pembawa amanat untuk menyebarkan dan meningkatkan penghormatan terhadap Konvensi Jenewa atau Hukum Humaniter Internasional."

Terlepas dari pentingnya isu kemanusiaan ini didengungkan, panitia berusaha menyajikan tema dan sudut pandang yang berbeda-beda di setiap lomba. Dan tema kali ini, sebagaimana dipaparkan CEO Qureta Luthfi Assyaukanie dalam sambutannya, lebih menekankan pada kerja-kerja kemanusiaan dan para relawannya.

"Qureta selalu memberikan ruang kepada penulis pemula untuk mengampanyekan ide-ide positif, termasuk ide positif di bidang kemanusiaan. Dari tema itu, kami suguhkan 7 topik yang dapat dipotret. Kisah-kisah inspiratif pekerja kemanusiaan adalah salah satu yang paling utama."

Sebagai rangkaian, acara diisi dengan Ceramah Umum oleh Drg. Peter Sahelangi. Ia merupakan seorang forensik odontologis yang telah malang melintang dan punya pengalaman panjang dalam menangani urusan forensik. Kontribusinya sangat mengesankan dalam mengukuhkan pentingnya ilmu forensik dalam menangani urusan kemanusiaan, terutama dalam bentuk disaster victim identification (DVI) dan identifikasi korban kasus terorisme.

Drg. Peter Sahelangi saat memberikan ceramah umum (Dok. Qureta)

Tak lupa ia membagikan pengalaman-pengalamannya selama menangani berbagai kasus konflik. Ia ceritakan bagaimana kasus bom Bali dan bom Mc Donald di Makassar sebagai kejahatan luar biasa yang butuh penanganan serius dan harus dicegah sedini mungkin agar tidak mewabah.

Usai Ceramah Umum, puncak acara malam itu adalah pengumuman pemenang lomba. Hadir Fitri Adi Anugrah dari ICRC yang mewakili para juri dalam menjelaskan mekanisme penjurian sekaligus mengumumkan para pemenang.

Berikut ini adalah susunan pemenang Lomba Esai "Panggilan dan Tantangan Kerja-Kerja Kemanusiaan" ICRC-Qureta 2018:

Selamat kepada para pemenang dan finalis. Semoga hasil ini menginspirasi Anda untuk terus berkarya.