Dikisahkan di pedalaman hutan yang tertutup oleh rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi, hidup seorang pemburu tua yang hidup menyendiri di hutan itu, pemburu tua itu sudah sangat berpengalaman dalam hal berburu hampir seluruh jenis binatang di hutan itu pernah dia buru mulai dari ikan, burung, bahkan sampai sang raja rimba pernah dia taklukan.

Hutan itu sudah seperti taman bermain bagi pemburu tua itu karena sudah sedari kecil pemburu tua itu berada di hutan itu, sang pemburu tua hidup menyendiri di pedalaman hutan meskipun beberapa kali dia kembali ke desa untuk menjual hasil buruan kepada pengumpul.

Meskipun terkadang warga desa memandang Pemburu tua dengan sebelah mata karena pekerjaannya telah dicap sebagai perusak lingkungan, sesungguhnya Pemburu tua itu orang yang sangat taat peraturan ditambah metode dia dalam berburu tidak menggunakan alat yang dapat mencemari atau merusak lingkungan, dia tidak pernah menggunakan racun, alat peledak, jebakan, atau hal lain yang berpotensi merusak hutan. Ditambah mantan istrinya yang sangat menyukai lingkungan membuat sang Pemburu tua berjanji tidak akan merusak lingkungan dan akan berburu di hutan seperlunya saja.

Mantan istrinya sangat menyukai hutan dan lingkungan membuat Pemburu tua jatuh cinta padanya, meskipun keadaan tubuh mantan istrinya membuat dia tidak dapat menemani lebih lama perjalanan sang Pemburu tua, namun Pemburu tua itu sudah merasa puas karena pernah ditemani oleh istri yang ia sayangi.

Sepeninggal istrinya Pemburu tua mengurung diri di pedalaman hutan dari dunia luar dia menjadi sangat jarang berkunjung ke desa, dan hanya pergi ke desa jika mendapat hasil buruan yang berlebih atau membutuhkan sesuatu untuk dibelinya.

Pada suatu hari setelah Pemburu tua itu berhasil memburu rusa jantan yang gemuk dia berpapasan dengan penebang kayu yang membawa 2 kayu tebangan mereka dengan mobil los bak, Pemburu tua itu memerhatikan para Penebang tersebut dan wajah mereka asing bagi Pemburu tua itu.

Keesokan harinya Pemburu tua berhasil menangkap ikan salmon besar dan bermaksud akan menyantap nya di rumah ia berpapasan lagi dengan beberapa Penebang, kali ini sang Penebang tidak sendiri dan kayu yang ia bawa lebih dari 2 batang kayu, sang Pemburu masih heran dengan para penebang itu apa mungkin mereka penduduk desa namun selama Pemburu ke desa mereka tidak pernah berpapasan.

Keesokan harinya Pemburu menemukan burung kecil mati tergeletak di bawah pohon bukan karena luka tembak yang disebabkan sang Pemburu namun karena ia terjatuh dari sarangnya, sang Pemburu melihat ke atas pepohonan namun tidak terdapat sarang di pepohonan itu lalu burung ini terjatuh dari mana? pikir sang pemburu, beberapa saat para Penebang berpapasan lagi dengan pemburu mereka berempat dan batang pohon yang mereka bawa berjumlah 8 mereka membawa dengan truk besar.

Selama tiga hari berturut-turut Pemburu tua selalu berpapasan dengan para Penebang dan selama tiga hari itu juga jumlah batang pohon yang mereka bawa selalu meningkat membuat rasa penasaran dari pemburu tua itu bergejolak, ia memutuskan untuk pergi ke desa besok pagi.

Keesokan harinya dengan membawa daging rusa yang ia buru beberapa hari sebelumnya Pemburu tua itu menuju ke desa untuk menjual sisa buruannya itu namun bukan hanya itu tujuan sang pemburu, sesampainya di desa Pemburu tua itu bergegas menuju tempat pengumpul dimana dia biasa menukarkan hasil buruannya dengan uang, sesampainya di sana tanpa basa basi Pemburu tua itu bertanya “Apakah di desa ini ada yang bekerja sebagai penebang wahai kawanku?”

“Penebang? Di desa ini hampir semua penduduk bekerja sebagai petani kawanku,” jawab sang Pengumpul

“Hampir?” balas Pemburu tua itu dengan penasaran

“Iya hampir, karena ada satu warga yang bekerja sebagai pemburu yaitu kau kawanku hahaha,” balas sang Pengumpul dengan tawanya

“Kau bisa saja kawanku, tetapi beberapa hari ini aku selalu berpapasan dengan Penebang dan jumlah mereka tiap hari selalu bertambah, aku pikir mereka berasal dari desa ini,” balas Pemburu tua

“Kurasa tidak, desa ini desa kecil aku pasti tau kalau penduduk desa ini bertambah,” balas sang Pengumpul

Jika bukan dari desa ini maka dari mana para Penebang itu pikir Penebang tua, dia berniat untuk menanyakan langsung kepada para penebang itu. Keesokan harinya saat Penebang tua sedang berjalan-jalan seorang diri entah kenapa napas Pemburu tua itu terasa berat tidak seperti biasanya, apa mungkin dia sudah menua pikir Pemburu tua itu.

Beberapa waktu kemudian ia melihat para penebang datang dengan truk besar melewati jalan yang sama membawa beberapa kayu Pemburu tua itu berniat untuk menghentikan jalan mereka, saat mereka saling berdekatan Pemburu tua dengan berani menghentikan jalan truk besar yang dikendarai para Penebang itu.

“Hentikan laju truk kalian wahai Penebang,” sang Pemburu tua berkata dengan lantang

Truk tua pun menghentikan lajunya dan keluarlah seorang pemuda sambil berkata, “Apa mau mu pak tua.”

“Aku hanya ingin bertanya anak muda, dari mana asal kalian? dan ingin di bawa kemana batang kayu itu, setiap hari aku lihat kalian selalu membawa banyak sekali batang pohon?” balas Penebang tua itu

“Kami berasal dari kota, dan kami ingin membawa batang pohon ini ke kota,” jawab Penebang itu

“Kota? Apakah di kota tidak ada pepohonan? mengapa setiap hari kalian membawa banyak sekali pepohonan dari desa ini? untuk apa sebenarnya batang pohon sebanyak ini di kota?” jawab Penebang tua itu dengan amarahnya dia merasa kalau tempat dia bertahan hidup telah dirusak perlahan

“Kurasa itu bukan urusanmu orang tua, kami sudah membayar untuk setiap pohon yang kami tebang dan pepohonan ini juga akan digunakan untuk keperluan orang banyak,” jawab Penebang dengan tidak sopan berkata dengan keras didepan orang yang lebih tua

“Bayar? Kalian bayar ke siapa orang desa bahkan tidak tau menau soal kalian dan keperluan siapa hingga harus menebang pepohonan sebanyak ini?” pertanyaan yang dilontarkan kembali oleh Pemburu tua itu

“Kami bayar kepada pemilik kekuasaan kami tidak peduli dengan para penduduk desa itu, sudah pergi kau dari jalan orang tua,” dengan mendorong Pemburu tua itu dengan keras sampai Pemburu tua itu jatuh di kubangan lumpur

Keesokan harinya pemburu tua memikirkan nasib hutan ini dia berjalan hingga sampai ke danau tempat dia dan warga desa biasa memancing sesampainya di sana pemburu tua itu terdiam tidak percaya akan yang ia lihat, warna air dana yang biasanya jernih berubah menjadi kehitaman ditambah ikan salmon yang biasa ia santap mati mengambang, ikan-ikan itu semua mati karena keracunan tetapi siapa yang melakukan ini dia tidak berpikir akan ada pemburu lain selain pemburu tua itu.

Keesokan harinya Pemburu tua secara tidak sengaja melintasi sarang dari kawanan beruang madu hewan yang ditakuti Pemburu tua itu namun dia merasa ada yang ganjil karena tidak menemukan satu ekor pun beruang madu di sarangnya, Pemburu tua itu berjalan masuk lebih dalam dan dia menemukan beberapa ekor beruang madu yang tergeletak mati dan di samping beruang madu itu terdapat beberapa ekor salmon yang mati kemarin.

Dalam perjalanan pulang Pemburu berpapasan dengan seekor macan tutul yang berjalan sempoyongan tanpa menghiraukan kehadiran Pemburu tua itu, terlihat darah segar mengucur keluar dari macan tutul itu luka pada macan tutul itu bukan seperti luka tembak atau luka hasil hewan lain luka itu seperti luka hantaman benda besar.

Pemburu tua itu tau tidak ada penduduk desa yang berani berhadapan dengan hewan buas itu kecuali dia, kecuali dia dan para penebang pohon yang tidak punya perasaan akan lingkungan itu, pemburu tua itu melewati jalan berputar untuk pulang kerumahnya sampai dia melihat sesuatu yang menjadi mimpi buruknya dia melihat neraka dalam hutannya pepohonan yang rindang telah rata dengan tanah, danau yang bersih telah hitam pekat akibat pembuangan limbah, dan tak terhitung binatang yang sering dia buru terkurung atau hanya tersisa bagian dari tubuhnya saja.

Pemburu tua itu merasa tidak kuasa lagi tempat dia bermain, peninggalan istrinya yang ia cintai, rumah kawanan binatang yang dilindungi, dan tempat dia hidup selama ini telah hancur. Keesokan harinya pemburu tua pergi ke desa ia ingin menyampaikan apa yang ia lihat, sesampainya di sana dia menuju ke balai desa berdiri di tengah sekerumun orang yang tampak sibuk tidak memerhatikan orang tua tersebut, dia kesulitan bicara selama ini hidup seorang diri membuat dia tidak bisa membuka mulutnya, air mata keluar dari matanya, dia merasa jijik akan dirinya sendiri, orang-orang memerhatikan orang tua itu, orang tua yang sedang melawan rasa takutnya namun dia kalah.

Pemburu tua itu berlari dia menuju rumahnya merenungkan kegagalannya ia tidak bisa melindungi peninggalan istrinya, malam hari pun tiba pemburu tua itu masih bersedih namun kesedihan itu di hilangkan oleh suara dentuman yang sangat keras Pemburu tua kaget setengah mati akibat suara itu, Pemburu tua itu berlari menuju asal itu dia melihat sesuatu yang mengerikan burung-burung terbang, hewan-hewan berlarian tak tau arah, pepohonan berjatuhan. Sudah cukup sabar Pemburu tua itu, dia berlari kerumahnya dia mengambil senapannya dia kembali berlari menuju asal suara itu namun dia larinya me -lambat dia tau kalau hal yang akan dia lakukan tidak akan menghentikan kekejian ini.

Pemburu tua berjalan perlahan penuh kekesalan dan kekecewaan menuju rumahnya hingga dia teringat akan istrinya yang sangat menyukai hutan tempat dia tinggal, dia meninggalkan senapan yang ia bawa dia mengangkat sebuah alat tulis dari laci kerjanya dia mengambil setumpuk kertas dia menuliskan sesuatu di kertas itu kalimat ajakan yang tak sama di setiap lembar, pada malam itu Pemburu tua itu untuk pertama kali tidak bekerja dengan senapannya tak terhitung berapa lembar kertas yang ia tuliskan.

Pagi harinya pemburu tua menyebar lembaran kertas yang ia buat, siang harinya ia menutup jalan keluar para penebang dengan batu dan kayu namun usahanya sia-sia, malam harinya dia kembali menulis kalimat ajakan pada kertas itu. Setiap hari dia melakukan hal yang sama tanpa ingat makan dan tidur dia berjuang untuk hutan orang yang dicap sebagai perusak lingkungan didesanya menjadi orang yang bersih keras melindungi hutannya namun usahanya belum menghasilkan hasil apa pun.

Sampai pada suatu hari pemburu tua itu telah kehabisan ide dia telah kehilangan banyak sekali tenaga tubuhnya yang dulu segar bugar sekarang hanya tersisa tulang belulang. Pemburu tua itu datang ke tempat para penebang dia mencoba menghentikan para iblis itu dari lebih merusak hutannya namun rasa lelah dan kecewa membuat Pemburu tua itu tampak seperti orang tidak waras tidak ada yang mempedulikan, tidak kalau dia sendiri namun Pemburu tua itu tidak sendiri.

Hasil kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil seluruh penduduk desa terbuka matanya oleh tulisan Pemburu tua itu, mereka berduyun-duyun datang untuk menghentikan kekejian ini, untuk melindungi hutan yang mereka sayangi. Para penduduk desa tidak percaya apa yang mereka lihat memunculkan perasaan sedih dan kemarahan yang tidak tertahankan namun bukan hanya warga desa yang marah sekawanan burung, hewan buas dan seluruh penghuni hutan lainnya juga merasakan kemarahan yang sama mereka mengaung, menyeruduk, melempar dengan batu kepada para perusak hutan mereka membuat para Penebang berlari terbirit-birit ketakutan.

Pemburu tua itu berhasil dia berhasil menghentikan kekejian di hutannya dia berhasil menyelamatkan satu-satunya peninggalan istrinya, namun kali ini dia bekerja bukan dengan senapan melainkan dengan pemberian alam pada manusia, pemberian terbesar yang pernah manusia dapatkan. Pemburu tua itu menyelamatkan hewan-hewan, ikan-ikan, pepohonan, dan hutan dengan tulisan dengan Kertas.