Media sosial dalam ranah kekinian merupakan sebuah era baru dalam hal sarana komunikasi yang semakin intensif dalam pemanfaatan kemajuan teknologi. Teknologi berbasis Web 2.0 memungkinkan tumbuhnya masyarakat baru yang semu, atau dalam dunia baru tersebut biasa disebut sebagai dunia maya.  sehingga semua bidang harus mengikuti trend ini bila tidak ingin ketinggalan zaman. 

Bidang kesehatan juga tidak bisa terelakkan, sehingga harus ikut arus perubahan yang terasa sangat cepat ini, terutama bidang kesehatan yang berhubungan dengan masalah komunikasi atau penyampaian informasi pada masyarakat.

Media sosial sebagai sebuah media baru untuk promosi kesehatan mau tidak mau merupakan sebuah keniscayaan. Efektivitasnya yang mampu menjangkau ribuan dan bahkan jutaan sasaran dalam waktu singkat membuat media ini menjadi primadona baru bagi setiap promotor kesehatan yang berorientasi masif. Kelebihan media sosial dalam hal efektivitas sebagai media bisa berlaku sebagai pisau bermata dua. 

Bisa sangat berbahaya merobek musuh, pun sangat tajam melukai diri. Bagaimana tidak, Kecepatannya dalam menjangkau sasaran pun berlaku sama untuk informasi yang disebarkan oleh pihak yang pro ataupun kontra. Informasi “buruk” pun bisa berkembang cepat sebagaimana informasi “baik”. Persebaran informasi dalam media sosial lebih merupakan reaksi berantai yang mirip dengan pola persebaran virus. 

Sekali informasi keluar di media sosial, maka kemasifannya akan sulit dicegah. Hal ini bisa menjadi blunder tersendiri karena bila secara tidak sengaja kita telah melempar isu yang salah, tidak serta merta kita bisa menarik atau meralat pesan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian tentang studi kasus pada grup Facebook “Forum Jejaring Peduli Aids”. Penelitian yang dipublikasi dengan judul “Analisis Potensi Penyebaran Informasi Kesehatan melalui Jejaring Sosial” ini  menyimpulkan bahwa media sosial (Facebook) sangat efektif sebagai media difusi informasi yang melampaui wilayah geografis (negara) dan administratif. 

Hal ini dibuktikan dengan anggota grup Facebookyang berasal dari 20 negara, meski yang terbanyak tetap berasal dari Indonesia Hasil penelitian ini juga mendapatkan fakta bahwa media sosial efektif untuk penyebaran informasi dengan target remaja dan usia produktif (18-44 tahun). Dari 2.821 anggota (per Desember 2010), sebanyak 88,27% merupakan kelompok usia tersebut. (Laksono & Wulandari, 2011).

Dari deskripsi penelitian diatas, maka dapat kita katakan bahwa media sosial sangat efektif  sebagai media penyampaian informasi kesehatan. Selain itu, berlaku media sosial sangat efektif untuk menyampaikan informasi yang kontra. Untuk itu, diperlukan “informasi” khusus tentang  bagaimana memenangkan persaingan ini. 

Memenangkan  pisau agar ketajamannya justru tidak berbalik melukai diri sendiri. Maka dari pada itu, sebagai tenaga promosi kesehatan sangat baik sekali apabila mampu mengeolah media sosial untuk di jadikan sebagai alat promosi kesehatan kepada public dalam memberikan informasi tentang kesehatan.