Baru saja kita melalui Idulfitri yang berbeda. Sebuah kondisi di mana perbatasan interaksi manusia menjadi menjadi cirinya.

Implikasi dari itu semua adalah banyak orang berusaha membatasi diri untuk bertemu dan berjabat tangan. Tetapi perubahan tersebut tidak akan mengubah substansi dari Idulfitri, yakni momen saling bermaaf-maafan. Momen di mana banyak orang secara terbuka minta maaf dan mungkin juga memaafkan.

Memaafkan tentunya bukan sesuatu hal yang mudah dilakukan. Terkadang kita mudah berpura-pura tersenyum dan mengucapkan kata maaf tetapi hati orang tidak ada yang tahu. Karena sejatinya hal yang terberat dalam memaafkan adalah kemauan untuk menundukkan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri agar ketika mengingat sebuah kesalahan yang menyakitkan ada imunitas diri yang menguatkan untuk mau menerima dan memaklumi.

Sejarah pemaafan besar di dunia ini adalah sejarah tentang Nelson Mandela. Figur besar yang benar-benar berhati besar. Nelson Mandela seorang tokoh politik Afrika Selatan. Setelah pembebasan dirinya dari masa kurungan yang kejam selama 27 tahun akibat politik apartheid, dia mengatakan:

“Ambil pistol, pisau, dan badik kalian, lalu buang ke laut. Akhiri perang sekarang juga!”

Mandela berbicara di lautan rakyat sebasar 100.000 di stadion Kriket di Durban. Meskipun mengalami siksaan yang kejam karena politik apartheid, dia memohon agar perang saudara yang menghabisi nyawa ribuan orang dihentikan. 

Dalam pidatonya dia menegaskan bahwa rasa dendam dan saling membenci sudah sepatutnya tidak punya ruang berkembang kalau mereka mendambakan kehidupan demokrasi dan kesetaraan martabat sebagai manusia. Tanpa kemampuan memaafkan, cita-cita itu mungkin tidak pernah kejadian.

Sejarah pemaafan yang dicontohkan Mandela adalah sejarah untuk dunia dalam konteks kemanusiaan. Apa yang dilakukan Mandela menginspirasi banyak negara yang pernah atau sedang mengalami konflik berkepanjangan.

Indonesia dan Beban Sejarah 

Sejarah Indonesia hari ini adalah sejarah tentang banyaknya konflik yang masih banyak menyisakan persoalan. Tercatat beberapa peristiwa yang dianggap belum tuntas di antara: Peristiwa 1965, Trisakti, Semanggi 1, Semanggi 2, Penembak Misterius (Petrus), kasus Wamena dan Wasilor, penculikan dan penghilangan paksa aktivis, peristiwa Talangsari, peristiwa dukun santet, ninja, dan orang gila di Banyuwangi tahun 1998.

Satu catatan penting dalam konteks Indonesia adalah bagaimana mungkin sebuah bangsa yang besar bisa menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik sementara masih banyak beban sejarah yang belum tuntas. Perjalanan sebagai bangsa besar pasti akan terkendala bagai duri dalam daging. Ibarat orang berlari maka akan selalu ada beban yang mengganggu.

Salah satu persoalan yang kerap kali selalu muncul adalah tentang wacana kebangkitan komunisme atau PKI. Apa pun peristiwa atau momentum besar yang sedang dihelat atau terjadi di negeri ini, hal tersebut kerap muncul menjadi salah satu hal yang dibicarakan. Pandemi Covid-19 kali ini juga tidak lepas dari adanya pihak yang memanfaatkan kondisi dengan menyebarkan informasi tentang adanya gerakan PKI yang memanfaatkan kondisi yang terjadi.

Peristiwa 1965 sudah lewat 55 tahun silam. Sampai hari ini kita kerap kali menghadapi pertarungan wacana dalam merebut pemaknaan dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Kompetisi antar-kelompok untuk menafsirkan dan menguasai tafsir secara monolitik berlangsung terus-menerus dan itu mulai bergulir pada era reformasi dengan intensitas yang sangat tinggi.

Hal di atas yang masih terjadi di Indonesia. Komunisme sebagai sebuah paham kerap kali makna dan posisinya diperdebatkan. Hal tersebut yang menurut saya berbeda dengan apa yang dialami oleh Nelson Mandela. Pengalaman di Afrika Selatan sangat berbeda dengan Indonesia.

Hal di atas yang membuat kondisinya begitu berbeda dengan apa yang dialami oleh Afrika Selatan. Di sana penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. 

Tetapi yang terjadi dalam konteks komunisme di Indonesia tidaklah sesederhana itu. Dan hal tersebut terbukti hingga saat ini. Perdebatan tentang hal tersebut masih sering berlangsung sengit.

Jadi sebelum menemukan siapa yang bersalah dan mau mengakui kesalahannya, rasanya akan terasa susah menentukan siapa yang harus meminta maaf. Apa yang dicontohkan Mandela menjadi tidak relevan. Mengingat persoalannya tidak hanya sekadar meminta maaf atau memaafkan. Tetapi butuh jalan panjang untuk meniti itu semua. Jadi untuk sementara ini lupakan Mandela dalam konteks Indonesia. Pemaafan ternyata menjadi sesuatu hal yang tidak sederhana. 

Pertanyaannya kemudian, sampai kapan bangsa ini bisa berdamai dengan masa lalu? Energi yang dikeluarkan untuk berkonflik yang begitu besar akan lebih bermanfaat jika dicurahkan pada kerja-kerja produktif membangun bangsa yang dapat memberikan warisan tatanan yang beradab bagi generasi masa depan. 

Karena itu, di tengah warisan pertarungan yang tidak ada habisnya tersebut, jalan membiarkan setiap anak bangsa mewacanakan dan mencari narasi atas sejarah menjadi relevan.

Generasi Muda di tengah Pertarungan Wacana  

Saya adalah generasi yang lahir di era 1980-an akhir. Semasa SD sempat mendapat pelajaran tentang bahaya laten komunisme, baik melalui media buku maupun televisi. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama karena kita memasuki era reformasi.

Diskursus tentang komunisme di era reformasi mengalami sedikit perubahan. Angin reformasi membuka jalan baru untuk lebih terbuka pada banyak hal. Memasuki masa di perguruan tinggi, meskipun tidak diajarkan secara langsung di kampus. Kajian-kajian tentang hal tersebut menjadi salah satu bahan kajian dalam pergulatan dunia gerakan mahasiswa.

Apa yang dikata Ariel Heryanto dalam sebuah opini tahun 2004 menjadi relevan dengan yang saya alami ketika mahasiswa. Bahwa marxisme sendiri telah mengalami krisis serius dan dikritik banyak pihak, termasuk para bekas tokohnya. 

Tetapi, dari krisis dan kritik ini telah bertumbuh aneka pergulatan intelektual cerdas dan trendy. Ironisnya, pergulatan ini terjadi bukan di negara-negara komunis yang represif, tetapi di negeri liberal kapitalistik, seperti Amerika Utara, Eropa Barat, Australia, Jepang, India, dan mungkin juga seperti di Indonesia yang pernah rasakan.

Generasi muda Indonesia berhak mendapat kesempatan mempelajari dinamika intelektual itu. Apalagi setelah mereka dibebani biaya pendidikan maha-berat. Tetapi, hak dan kesempatan belajar itu telah dihambat, bukan oleh orang-orang jahat yang anti-Marxisme. 

Larangan itu sering kali datang dari mereka yang tidak paham apa itu Marxisme karena tidak pernah dididik tentangnya ketika bersekolah. Berbeda dari para pendiri bangsa ini yang bersekolah pada zaman kolonial Belanda. Maka, jangan heran sejarah nasional juga sering bengkok atau gelap pada bagian kisah tentang para tokoh gerakan nasionalis ini.

Saya percaya bahwa generasi baru hari ini dengan akses yang begitu terbuka akan mampu menemukan jalan atas beban sejarah diatas. Bahwa hegemoni atau dominasi yang sebelumnya begitu kuat untuk mengawetkan ingatan atas sebuah paham akan terkikis dengan sendirinya. 

Pertarungan generasi lama (untuk tidak mengatakan generasi tua) yang penuh dengan kebencian dan insinuasi buruk akan digantikan dengan pertarungan gagasan dengan menjadikan ilmu sebagai tumpuan. Biarlah waktu yang menjawab dengan harapan Indonesia segera terbebas dari beban sejarah yang begitu berat.