Sukses raih emas pada kelas C Putra 55-60 kg, atlet pencak silat Hanifan Yudani Kusumah menciptakan satu momen langka dengan pelukannya yang menyejukkan. Momen langka ini berawal dari Hanifan yang baru saja dikalungi mendali emas merasa senang tidak karuan, kemudian dirinya berlari ke tribun VIP tempat Presiden Jokowi dan Parabowo duduk menonton dengan senyum dan tepuk tangan untuknya.

Hanifan lantas mencium tangan Jokowi dan Prabowo. Setelah itu, Hanifan menyatukan tangan Jokowi dan Prabowo dan merangkul kedua tokoh itu hingga berpelukan erat. Pelukan erat itu berlansung beberapa detik dengan diiringi oleh teriakan dan tepuk tangan gemuruh penonton di venue cabang pencak silat karena menyaksikan momen langka Jokowi dan Prabowo berpelukan.

Sungguh momen yang sangat menyejukkan ketika melihat Hanifan memeluk Jokowi dan Prabowo yang sontak membuat seolah kedua tokoh tersebut disatukan oleh pelukan Hanifan. Apalagi ketika Jokowi dan Prabowo menempelkan kepalanya ke kepala Hanifan dan tangan kedua tokoh itu memegang punggung Hanifan seolah memeluk Hanifan dengan erat.

Merinding rasanya! Netizen yang hanya menyaksikan dari layar kaca saja dapat terkena besarnya atmosfer yang diciptakan dari pelukan itu. Benar-benar tak terbayangkan bagaimana rasanya jadi mereka yang berada di venue itu dan melihat langsung momen persatuan itu. 

Sudah sejak lama dikatakan, olahragalah yang dapat menyatukan. Ketika kompetisi tingkat nasional terkadang ricuh, namun ketika kompetisi tingkat Internasional Indonesia menjadi satu dan tak terkalahkan. Bayangkan saja satu pelukan dapat membuat seluruh Indonesia merinding tersenyum lebar, setidaknya membuktikan bahwa serpihan rasa cinta akan negara masih dimiliki oleh bangsa. 

Sejuk rasanya menyaksikan dua tokoh yang akan memperebutkan kursi presiden terlihat berdamai dan begitu dekat. Tidak ada pencitraan dan kesan kompetisi saat momen itu terjadi, yang ada hanyalah perasaan bangga layaknya bapak yang memeluk anaknya yang berhasil mendapatkan emas di cabang pencak silat.

Sebetulnya memang seperti itulah perpolitikan kita di dalamnya, yang berkompetisi damai-damai saja, tapi pendukungnya yang mudah terpancing emosi dan mudah diadu domba. 

Tak berbeda dengan para pemain klub sepak bola yang kita saksikan. Di musim lalu dia ada di tim A dan di musim berikutnya bisa saja pemain itu ada di tim musuh bebuyutannya tim A. Tak jarang mereka yang menjadi lawan di lapangan hijau malah saling temu kangen dengan rekan-rekan satu klubnya terdahulu. Saling bercanda dan saling tertawa. 

Begitu pula perpolitikan kita, dinamis! Tak ada lawan yang abadi dan tak ada kawan yang abadi. Maka untuk mereka yang ada di dalam dunia politik, tahu betul perpindahan koalisi itu biasa saja, maka seharusnya pendukung calon yang diusung oleh koalisi politik juga begitu, tetap damai dan menyadari bahwa sifat dinamis akan membawa kita suatu saat menjadi lawan dan suatu saat bisa juga menjadi kawan. 

Pendukung koalisi Jokowi dan koalisi Prabowo pun harus seperti itu. Harus mendukung dengan memahami sifat dinamis secara rasional agar tidak mudah terbawa emosi dan diadu domba.

Perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang harusnya menjadi momen kebangkitan persatuan bangsa kita. Memang seharusnya sepeti itu, tak ada yang mempermasalahkan Jonatan Christie melakukan tanda salib ketika menang dan mendapat mendali emas. Tak ada yang mempermasalahkan Lindswell Kwok peraih medali emas cabang wushu adalah seorang keturunan Chinese. Dan tak ada juga yang mempermasalahkan Lalu Muhammad Zohri atlet lari 100 m termuda di Asian Games 2018 yang tidak mau diwawancara usai kemenangannya masuk final karena ingin salat Isya. 

Sungguh Indah melihat kemajemukan Indonesia dengan sudut padang yang diselimuti oleh rasa haru kebanggaan dan semangat nasionalisme yang menyatu seperti ini. 

Mungkin yang Maha Kuasa telah meramalkan momen yang tepat untuk semakin menyatukan bangsa Indonesia, yaitu di tahun 2018 ini. Tahun yang berbarengan dengan panasnya atmosfer perpolitikan yang mungkin berpeluang memecah belah bangsa, namun momen ini diobati dengan dihadirkannya Asian Games 2018 dan diizinkanlah Indonesia menjadi tuan rumahnya, dengan segala kelancaran, hikmat, dan rasa kebanggaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga Indonesia selalu seperti ini, sesejuk pelukan emas pemersatu bangsa dari Hanifan Yudani Kusumah yang membuat seluruh bangsa Indonesia tersenyum ramah. Semoga momen pelukan yang menyejukkan itu tetap terjaga dan tidak menjadi langka. Pelukan yang tidak hanya hangat saat Asian Games 2018, tetapi juga pada Pemilu dan Pilpres 2019 dan seterusnya. 

Semoga hangatnya pelukan ini dapat menjadi pemicu pelukan perdamaian yang lainnya, pelukan yang tidak hanya berlaku untuk jagoan antarkoalisi, tetapi juga untuk para pendukungnya. Terima kasih banyak kepada seluruh atlet Indonesia. Kalian menyatukan kami, Bangsa Indonesia!