Terasa sempit pandangan mata ini hidup sebagai orang Pulau. Serba keterbatasan, hampir tak bisa sekedar untuk mengembangkan pengetahuan kekinian. Sebagaimana mereka yang hidup di kota Metropolitan lebih-lebih Megapolitan. Tak berbanding lurus dengan tujuan pendidikan.

Tetapi bila sudah suratan Takdir Tuhan. Siapapun sebagai hamba yang "mengaku" beriman, tetap tak mempunyai alasan untuk tak mensyukuri dan tak membanggakan. Degup hatiku "pasrah" saat risau dikesendirian.

Ditengah pengapnya hidup diperkotaan, letih lesuhnya melintasi setapak perjalanan. Dengan kondisi persaingan hidup yang materialistik. Banyak sudah aral melintang, kerikil batu menjadi sandungan. Tiba-tiba aku teringat satu ungkapan di sebuah Novel Tenggelamnya Kapal Van der wijk. "Rubahlah haluan hidup maka kamu akan dapat keberuntungan".

Meskipun panggilan kedua orang tua menuntut untuk segera pulang ke kampung halaman. Tuntutan kawin dan sebagainya. Aku bersikukuh menolaknya, tanpa ada maksud membangkang titahnya.

Enggan untuk pulang karena dalam pikiranku masih terasa berat. Dengan minimnya pengalaman. Apalah yang hendak akan aku abdikan pada orang pulau.? Pertanyaan pribadi yang belum jua mendapat jawaban. !

***

Singgah di kota Beriman

Kota beriman merupakan semboyan dari kota Jombang. Sebuah akronim dari "Bersih Indah dan Nyaman". Sebagaimana yang tertera tulisan besar dipinggir jalan raya "Jombang Beriman" di sebuah terminal lama, tepatnya disebelah kanan Universitas Darul Ulum- Jombang. Sekaligus bumi tempat kediaman pendiri ormas Nahdlatul Ulaman-NU. Ormas terbesar di Republik Indonesia ini.

Setelah satu tahun lulus di salah satu Universitas di Yogyakarta. Aku sempat singgah ke kota Beriman tersebut. Sekedar menambah pertemanan sambil menggali inspirasi demi kemajuan orang pulau. Kini satu bulan lebih hidup di Jombang. Berdiskusi dengan beberapa teman sesama orang pulau. Bercangkir-cangkir kopi, berbatang-batang rokok sudah dihabiskan.

Pernah disuatu malam tepat pukul 07.00, aku diajak Mujib ngopi disebuah warung. Mujib teman sekampung saya, orangnya agak culun dan pendiam, kuliah di Universitas Dalum Ulum semester akhir. Tetiba di warung kopi, "Aku pesan kopi hitam agak pahit ucapku ke Mujib", sembari duduk dipojoan.

Sehabis pesan kopi sambil menyulut sebatang rokok. "Jib habis lulus kuliah kamu menetap disini apa pulang kampung"? Tanyaku ke dia. Sudah bosen hidup di kampung jawabnya, kota mati. Lebay.. loe bro sahutku. Loh..! itu kenyataan, kota mati, dan orang-orangnya cuma bisa ngomong doang. Bener juga jawabku dalam hati.

Kalo boleh jujur kata Mujib, "semenjak aku 1 tahun di Jombang, aku sudah gak pengen pulang kampung. Kecuali kalo sudah jadi orang kaya hehehe". Sambil senyum canda slengean.

Dulu aku sempat memutuskan, kalo aku ingin menetap di Jombang. Bahkan dalam pikiranku sekarang bahwa, "disinilah kisah hidup ini akan aku torehkan, akan aku mulai sambil mengilustrasikan bagaimana konsep yang tepat untuk diterapkan demi kemajuan orang pulau".

Emang sejak kapan lo Jib.. kepikiran tentang orang Pulau?, Celotehku ke dia.

Jangan salah.! "Akan aku bangun kepulauan dari kejauhan. Bersama teman-teman yang senasib dan seperjuangan. Karena dalam benak pikiranku, demi prinsip sebagai orang rantau. "Pantang pulang sebelum menang, tanpa harus melupakan zona kampung halaman yang sudah sekian tahun ditinggalkan".

Luar biasa anak ini. Ternyata punyak pikiran progres juga culun-culun gitu. Syukurlah berarti ada kemajuan dalam mindset berpikirnya. "Ucapku dalam hati kedia".

Selang sehari kemudian, setelah aku tanya ke temannya, ternyata Mujib itu Gubernur Mahasiswa di fakultas Pertanian. Jadi memang wajar kalo ada kemajuan dan punyak empati sosial.

***

Pergi Ziarah

Sore hari di kota Jombang yang muram dimusim penghujan. Ditengah perjalanan rintik gerimis yang curam, temanku menghentikan sepeda motor. "Kita rehat sebentar , kata temanku (Araful namanya teman orang pulau juga) agar tak diguyur hujan". Nanti kita lanjut, sebentar lagi juga sampai ke tujuan.

"Ok..timpalku" sambil memesan satu cangkir kopi dan segelas teh hangat. Kita sama-sama duduk dibangku kayu, disebuah warung tepi jalan saat pergi ziarah ke makam Pahlawan Nasional K H. Wahab Chasbullah.

Apa yang akan kamu berikah untuk kepulauan,? tanya temanku Araful tiba-tiba ke aku, dengan wajah lesuh dan tatapan menyimpan banyak keresahan. Aku terdiam sejenak, mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan. Karena aku tau obrolan tentang kepulauan tak akan selesai di sebuah warung peristirahatan.

Menunduk sambil memencet Hanpond pura-pura tak mendengar apa yang Araful tanyakan.? Seketika hujan reda. Ayo berangkat Pung, ("_aku biasa memanggilnya Apung_")  biar tidak keburu malam dan hujan lagi...! ajakku ke dia. "Okke, nanti kita shalat berjamaah disana", kata Araful.

***

Sesampainya di makam sang Pahlawan Nasional, 15 menit perjalanan sepeda motor dari tempat peristirahatan. Kita bergegas langsung menuju masjid. Setelah usai sholat berjamaah, aku pandangi sekeliling masjid, terlihat santri bersarung memakai peci khas budaya NU ('Nahdlatul Ulama') - pesantren salaf.

Terdengar ramai merdu, suara-suara nuansa relijius. Mengingatkan pada memorial masa MA 'Madrasah Aliyah' dipesantren. Ada yang berdikir, ada yang baca al-quran, ada pula yang sholawatan.

Terasa sejuk, tenang nan harmoni suasana hati. Saat raga dekat dengan para pewaris "blue print" pejuang kebangsaan serta kemanusiaan. Seakan ego hitam yang menggumpal di dada ini hancur seketika. Runduk akan keagungan "sang adikodrati".

Pengalaman ini menjadi "legitamasi" bagi pribadiku bahwa ziarah kubur menghaluskan jiwa angkuh yang mempet di comberan hati.

***

Sehabis ziarah, kita berdua keluar dari pekarangan makam mbah Wahab. Lalu temanku Araful bilang " kita gak perlu takut dianggap bid'ah, syirik dan kufur, karena hanya Pelintas jalan kebenaran, dan pengikut rombongan "para Ulama" yang bisa menjalani hal ini. Ucapnya.

"Iya bener Pung, jawabku pelan". Kita sambil menuju sepeda motor mau pulang. Hehehe. Terimakasih semoga kita semua masuk rombongannya para pewaris Risalah kebenaran.

Ditengah perjalanan, diatas sepeda motor tiba-tiba aku teringat satu Ayat dalam Al-Quran:

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". (Q.S. Az-Zumar. Ayat 73).