Hutan merupakan suatu bentang alam yang luas yang di dalamnya terdapat berbagai macam jenis hewan dan tumbuhan. Hutan berfungsi sebagai penyuplai oksigen, penampung karbon dioksida, pencegah bencana alam, serta sebagai penjaga kesuburan tanah, dan masih banyak lagi fungsi hutan lainnya. Hutan Indonesia berkurang sangat drastis. Dalam kurun waktu 2009-2013, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar atau seluas Provinsi Sumatera Barat, tujuh kali luas Provinsi DKI Jakarta (Forest Watch Indonesia). 

Bayangkan, setiap menitnya hutan seluas tiga lapangan bola menghilang! Hutan Indonesia yang tersisa kini diperkirakan tinggal 82 juta hektar, dan akan terus menyusut jika kita tidak melakukan upaya pelestarian. Untuk menjaga fungsi dari hutan tersebut terus ada, maka kita sebagai manusia harus menjaga kelestarian hutan tersebut, agar fungsinya terus ada dan dapat kita manfaatkan. Upaya pelestarian hutan membutuhkan partisipasi dari semua lapisan masyarakat, tidak cukup hanya dilakukan oleh masyarakat yang hidup di dekat hutan, pemerintah, atau organisasi yang peduli pada kelestarian hutan seperti PROFAUNA.

Hutan adalah paru-paru dunia. Seperti tubuh kita, paru-paru sangat penting untuk mengatur pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam tubuh. Begitu pula hutan, ia sangat penting bagi kehidupan kita untuk memberikan udara yang segar dan sejuk. Bukan hanya bagi kehidupan kita, tapi juga hewan-hewan yang tinggal di hutan. Jika hutan ditebangi untuk kepentingan manusia sendiri, selain suplai oksigen di bumi menjadi berkurang, hewan-hewan pun akan kehilangan tempat hidupnya. Oleh karena itu, pelestarian hutan sangatlah penting kita lakukan.

Seperti yang kita ketahui, belakangan ini bencana tanah longsor sering terjadi di Indonesia dan memakan banyak korban. Mengapa itu bisa terjadi? Salah satu penyebabnya adalah gundulnya hutan sehingga menyebabkan pengikisan tanah dan memicu terjadinya tanah longsor. Lalu siapa yang harus disalahkan? Itu bukan pertanyaan yang tepat. Yang harus dipertanyakan adalah bagaimana cara menanggulanginya?


Ada berbagai cara untuk menjaga kelestarian hutan:

  • Tidak mencoret-coret pohon dan bebatuan di hutan. Kebiasaan ini sangat sering terjadi. Padahal, mencoret-coret pohon dan bebatuan akan menutupi stomata atau tempat keluar masuknya udara dalam pohon dan bebatuan itu sendiri. Hal tersebut dapat mengganggu pertukaran udara dari sel tumbuhan ke lingkungan sekitar. Selain itu juga membuat keindahan hutan menjadi berkurang.
  • Tidak membuang sampah maupun puntung rokok di hutan. Sampah yang dibuang di hutan akan membuat hutan menjadi kotor. Yang lebih berbahaya adalah jika puntung rokok yang belum mati benar dibuang di hutan, maka dapat memicu terjadinya kebakaran hutan.
  • Kurangi penggunaan kertas berlebih. Apa hubungannya kertas dengan hutan? Tentu saja ada. Kertas dibuat dari getah pepohonan di hutan. Dengan menekan penggunaan kertas, penebangan pohon akan berkurang.
  • Sistem tebang pilih dan tebang tanam. Jika akan menebang pohon untuk dimanfaatkan, lakukan system tebang pilih yaitu dengan memilih tanaman yang akan ditebang. Pohon yang layak ditebang adalah yang sudah tua. Selain itu penebangan juga harus diberi jarak, bukannya satu tempat ditebang semua. Lakukan juga system tebang tanam, yaitu penebangan yang diiringi dengan penanaman pohon baru.
  • Mencegah penebangan liar. Saat ini kasus penebangan liar atau illegal logging semakin banyak terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, pengawasan hutan harus semakin ditingkatkan. Selain itu, diperlukan adanya hukum yang kuat bagi para pelaku karena telah merugikan Negara.
  • Melakukan reboisasi atau penghijauan. Reboisasi adalah penanaman kembali hutan yang telah gundul. Hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan hutan dan untuk mencegah terjadinya erosi, tanah longsor maupun banjir.

Itulah beberapa cara untuk melestarikan hutan. Marilah kita jaga kelestarian hutan kita. Melestarikan hutan sama halnya dengan menyelamatkan bumi kita, karena hutan dapat mengurangi pemanasan global atau global warming.

Setiap hari kita pasti menggunakan atau paling tidak berhubungan dengan kertas. Tanpa sadar kalau perilaku boros kertas itu ternyata turut menyebabkan laju pemanfaatan hutan. Setiap hari ada berapa jutaan lembar kertas yang dipakai oleh orang-orang di seluruh dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya ini artinya ada jutaan pohon hutan yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan segala bentuk kebutuhan bahan baku pembuatan kertas tersebut sebab kertas saat ini telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Dilihat dari lingkungan sekitar kita sekeliling kita banyak barang-barang yang terbuat dari bahan kertas buku, tisu, gardus, koran, majalah dan lain sebagainya.

Bahan baku kertas dari sebatang pohon dan untuk satu rim kertas saja paling sedikit memerlukan setidaknya satu batang pohon ditebang. Coba kita pikirkan berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk memenuhi semua kebutuhan kertas pada manusia di muka bumi ini. Pemanfaatan hasil hutan kayu dalam proses pembuatan kertas adalah hal yang lumrah karena hal itu merupakan satu bentuk upaya pemanfaatan hasil hutan, namun kenyataan yang terjadi sekarang adalah laju pemanfaatan hutan untuk bahan baku kertas semakin meningkat dan berbanding terbalik dengan pemeliharaan hutan itu sendiri. Begitu banyak barang-barang yang terbuat dari kertas dan tidak sedikit pula kertas yang pada akhirnya dibuang atau berakhir tempat sampah. Oleh karena itu kita harus sungguh sungguh memperhatikan tingkat pemanfaatan kertas secara optimal dengan cara penghematan terhadap segala bentuk pemanfaatan kertas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dibawah ini adalah beberapa tips hemat kertas yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari :

  • Gunakan kertas dua sisi
  • Untuk dikalangan pemerintahan atau swasta apabila dokumen atau surat-surat yang masih dalam bentuk konsep maka sebaiknya menggunakan kertas dua sisi sebab kalau masih dalam bentuk konsep biasanya konsep tersebut masih akan terjadi perubahan-perubahan atau koreksi dari atasan atau pimpinan, tindakan menghemat kertas dua sisi sangat baik diterpakan dalam hal seperti ini. Begitu juga di kalangan sekolah atau perguruan tinggi diharapkan dari pihak guru dan dosen agar bisa menerapkan tips ini kepada siswa dan mahasiswa agar dalam membuat tugas sekolah maupun tugas kampus dapat menggunakan kertas-kertas bekas yang ada atau kertas dengan dua sisi.

  • 2.   Mendaur ulang kertas bekas
  • Kertas-kertas bekas bisa didaur ulang untuk pemnafaatan lain selain menulis dan mencetak. Kertas bekas dapat digunakan kembali dalam bentuk aneka kerajianan tangan seperti, bingkai goto, kotak tisu , tempat alat tulis menulis, pembungkus barang dan lain-lain sesuai dengan kreatifitas kita.

  • 3.   Memanfaatkan Teknologi
  • Seiring dengan perkembangan teknologi seperti internet juga dapat membantu dalam proses penghematan kertas. Dokumen-dokumen yang dapat dikirim melalui via email dan hanya akan dicetak pada waktu tertentu sehingga mengurangi penggunakan kertas untuk mencetak dokumen tersebut di saat yang belum tepat waktunya.
  • Dengan memperhatikan tips sederhana diatas semoga kita dapat melakukan penghematan kertas dan tetap konsisten sebagai kebiasaan berperilaku menjaga dan melestarikan hutan kita

Ternyata, menjaga kelestarian hutan itu butuh usaha yang cukup rumit juga ya? Tetapi setidaknya hasil hutan adalah sumber daya yang dapat diperbaharui, sehingga selama manusia mampu menggunakan hasil hutan dengan bijak dan memikirkan kelestariannya, maka hutan akan berfungsi sebagai jantung bumi dan paru-paru dunia yang dibutuhkan seluruh manusia di muka bumi ini.

Mengurangi penggunaan produk hutan tentu saja tidak cukup untuk mempertahankan kelestarian hutan. Perlu ada upaya menjaga kelestarian hutan agar tidak gundul dan tetap menjadi tempat tinggal bagi keanekaragam hayati di muka bumi.

Pertama saya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan WWF INDONESIA dalam upaya menyelamatkan lingkungan termasuk hutan, hewan dan berbagai macam biota serta tujuannya yang mulia yaitu untuk menghentikan dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi serta membangun masa depan, dimana manusia hidup selaras dengan alam. Kita semua menyadari bahwa upaya penyelamatan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua lembaga saja, tetapi dibutuhkan pastisipasi dari semua kalangan, baik masyarakat, pemerintah bahkan perusahaan-perusahaan yang mendiami suatu negara. Sehingga nantinya akan didapat sebuah hasil maksimal dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Upaya penyelamatan lingkungan bisa dilakukan oleh siapa saja. Sebagai warga negara yang baik sudah seharusnya kita turut serta menjaga dan melestarikan lingkungan yanga ada di negara tercinta Indonesia ini pada khususnya dan lingkungan dunia pada umumnya.Jangan sampai keindahan alam Indonesia, hutannya yang luas dan hewan-hewannya yang beraneka ragam hanya tinggal cerita untuk anak cucu kita kelak.Untuk mencegah itu semua terjadi, mari kita melakukan hal yang kita bisa, mulai dari lingkungan kecil diri sendiri memulai langkah upaya penyelamatan lingkungan.

Melakukan hal kecil tetapi bernilai besar. Banyak sekali hal yang kita bisa lakukan demi menyelamatkan lingkungan, salah satunya adalah dengan mengurangi pemakaian kertas dan tisu dalam kehidupan sehari hari.Aktivitas manusia sekarang ini memang hampir tidak bisa dipisahkan dengan kertas, apalagi ketika di sekolah, kampus, kantor tempat percetakan dan di tempat-tempat lain yang mengandalkan pemakaian kertas dalam kegiatannya. Padahal kita tahu bahwa kertas dan tisu itu diproduksi dari kayu, dan kayu itu berasal dari hutan kita. Tidak terbayangkan bukan berapa luas hutan kita yang ditebang setiap hari demi memenuhi kebutuhan produksi kertas dan tisu tersebut. Dengan rusaknya hutan akibat penebangan, hewan-hewan akan kehilangan tempat tinggal dan kesulitan mencari makan, produksi oksigen akan berkurang di tengah produksi karbondioksida yang makin meningkat, menyebabkan kualitas udara untuk pernapasan memburuk, gangguan kesehatanpun akan menyerang manusia. Berarti kita sendiri yang akan menanggung dampak buruknya. Untuk itu mari kita berusaha mengurangi pemakaian kertas, tisu, diaper, dan pembalut
dalam kegiatan sehari-hari.Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

Berhemat dalam memakai kertas. Jangan boros dalam memakai kertas,prioritaskan untuk menuliskan hal-hal yang lebih penting sehingga kertas tidak akan terbuang sia-sia.Pakailah kertas secara bijak

Meneliti tulisan dengan seksama. Kadang sewaktu kita mengetik lalu kita akan mencetaknya, kita kurang teliti dalam memeriksa kesalahan sebelum dicetak,sehingga kesalahan baru diketahui setelah tulisan tercetak,sehingga kertas cetakan akan dibuang sia-sia.

Pakailah kertas daur ulang. Untuk menulis sehari-hari yang bukan untuk kepentingan formal,disarankan agar memakai kertas daur ulang. Memang kertas daur ulang tidak terlihat putih bersih, tetapi masih bagus jika untuk menulis sehari-hari. Dengan memakai kertas daur ulang, maka kita akan mengurangi pemakaian kertas baru.

Beralih ke teknologi baru. Beralih ke teknilogi baru ini maksudnya adalah dengan menggunakan komputer, laptop, tablet dan gadget lainyya untuk menulis. Jika kita hanya ingin menulis catatan atau apa maka sebaiknya menggunakan gadget yang anda miliki, selain lebih praktis juga akan mengurangi pemakaian kertas.

Bacalah berita Online. Pemakaian koran sebagai sumber informasi memang masih menjadi kegemaran sebagian besar masyarakat kita, tetapi seiring perkembangan teknologi, sudah saatnya kita mengurangi konsumsi koran yang notabene memakai kertas untuk menuliskan beritanya. Pencarian berita melalui media online akan mengurangi pemakaian kertas koran. Saat ini sudah banyak media berita online yang bahkan informasi yang diberikan lebih lengkap dibandingkan koran dan media cetak lainnya, misalnya detik.com

Pakailah sapu tangan atau kain khusus. Ketika sehabis makan,membersihlan bibir dengan tisu merupakan hal yang lazim dilakukan seseorang. Dapat kita bayangkan jika setiap hari masyarakat Indonesia melakukan hal itu minimal sebanyak tiga kali, berapa juta ton tisu yang terbuang dan berapa ribu hektar hutan yang harus di tebang setiap harinya untuk memproduksi tisu tersebut. Maka dari itu,beralih menggunakan sapu tangan atau kain khusus untuk mengelap bibir setelah makan akan mengurangi pemakaian tisu. Selain dapat dicuci dan dipakai kembali, tentunya hasilnya lebih bersih dan hutan kita akan tetep lestari.

Mengurangi pemakaian pembalut dalam kegiatan sehari-hari. Kita bisa memakai alternatif lain seperti memakai kain bekas untuk menggantikan fungsi pembalut. Terlalu sering menggunakan pembalut juga kurang baik untuk kesehatan.

Itulah beberapa langkah kecil dari lingkungan diri pribadi yang dapat dilakukan untuk ikut serta melakukan penyelamatan lingkungan. Negara kita yang dahulu dikenal sebagai paru-paru dunia sekarang itu hanya tinggal cerita, ratusan ribu hutan telah di tebang untuk kepentingan industri saja. Ribuan jenis spesies tanaman punah, ribuan hewan punah, kehilangan tempat tinggal dan hidup menderita karena habitat mereka telah tiada. Sudah selayaknya kita sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal pikiran dan kasih sayang bergerak dan berusaha dalam menyelamatkan bumi, karena bumi ini bukan hanya milik kita saja, hewan, tumbuhan berhak untuk hidup di dalamnya, akankah kita merampas hak mereka?

Salah satu sistem yang dikembangkan untuk mengatasi deforestri (penggundulan hutan) adalah berupa HCS Approach (High Carbon Stock Approach). HCS Approach (High Cabon Stock Approach) adalah metodologi global untuk menerapkan praktek non-deforestasi.