Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. ~ Andrea Hirata

Kata-kata yang membangun cerita dalam karya sastra semata anugerah kegilaan (madness) dalam mengaduk emosi, dan kegalauan. Lebih dari itu, kata-kata dalam karya sastra adalah dokumen sosial, tentang refleksi masyarakatnya. Dan, kala kata-kata dalam sastra divisualisasikan ke layar lebar suatu wilayah seketika menjadi destinasi buruan pembunuh waktu luang. Begitulah film-induced tourism.

Saya memaku diri di depan quote yang ditulis pada tembok warna-warni, kutipan indah bermakna jauh ke lubuk. Bukannya seperti kata Oscar Wilde, sebagian besar dari kita adalah orang lain. Pikiran kita adalah opini orang lain, kehidupan kita mimikri, bahkan gairah kita pun tak lebih dari kutipan dan kutipan. Tak masalah, kutipan adalah pembebasan bersyarat.

Untuk menikmati ini, saya dan semua pengunjung membayar tiket yang ditukar sebuah buku tipis. Adalah Andrea Hirata yang membangun Museum Kata persis di depan rumahnya yang tak mengkilap di desa penghasil timah; Gantong, Belitung Timur.

Inspirasi pembangunan museum ini didapat saat Andrea Hirata mengunjungi rumah dan museum Mark Twain Boyhood di Hannibal, Missouri, Amerika Serikat. Museum Mark Twain Boyhood adalah tempat penyimpanan barang pribadi dan sejumlah besar memorabilia milik Twain.

Dan, Museum Kata adalah rumah sederhana yang ruang-ruangnya, yang tak mengkilap itu, diberi nama satu-satu, sesuai tokoh-tokoh novel Laskar Pelangi. Tokoh-tokoh yang jelas menggambarkan ironi akan sempitnya akses pendidikan bagi anak-anak di pulau terkaya di dunia kala itu.

Pada bagian paling depan Museum Kata, terdapat Ruang Ikal yang pada dindingnya dipajang foto-foto. Satu foto di antaranya, adegan Ikal yang berpisah dengan sahabatnya, Lintang. 

Bersisian dengan Ruang Ikal, terdapat Ruang Lintang. Lintang tokoh siswa yang memiliki kecerdasaan di atas rata-rata dengan senyum khas bocah dengan tanggung jawab orang dewasa.

Dari Ruang Lintang menyambung ke ruang sosok murid nyentrik, siapa lagi kalau bukan Mahar. Tak beda dengan ruangan lainnya, di sini foto-foto besar dan potongan-potongan cerita ditempel. Seperti yang ada di cerita novelny, di ruang ini terpampang foto idola Mahar; Rhoma Irama. Tentu saja di era itu si Raja Dangdut itu layak favoritkan.

Usai melewati ruang tokoh-tokoh Laskar Pelangi, di buritan museum terdapat tempat makan yang menyatu dengan dapur. Beberapa meja dan kursi kayu yang kusam tersedia. Di sudutnya terdapat tungku tanah liat yang menggunakan kayu bakar. Pada sebuah papan tertulis Warkop Kupi Kuli.

Minum kopi adalah bagian tradisi masyarakat Belitung Timur yang mata pencahariannya adalah penambang. Kopi; ketika otak perlu inspirasi. Begitu kalau sekarang lebih kurang.

Meski dapur museum sesederhana ini, dinding papan yang terbuka lebar membuat ruang dapur tetap nyaman. Sesaat sambil menyesap kopi hangat berteman pisang goreng panas, pikiran saya terhasut mengawangkan tentang literary tourism di negeri ini. 

Di Amerika dan Eropa, ketertarikan untuk bepergian ke destinasi yang berhubungan dengan literasi telah ada sejak paruh abad 19. Di Inggris, wisata sastra dengan atraksi setting karya klasik Shakespeare berkembang dan menarik minat pemburu waktu luang. Belum lagi paket perjalanan yang mengangkat karakter fiksi Sherlock Holmes, sang tokoh detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle.

Hal serupa juga di Irlandia, di mana terdapat tur berjalan jalan kaki menyusuri jejak para penulis asal negara itu. Misalnya saja James Joyce, Oscar Wilde, George Bernard Shaw, dan W.B. Yeats. Irlandia memang negeri para pujangga. Tak heran pada 2010 lalu Unesco menobatkan Dublin, ibu kota Irlandia, sebagai City of Literature. 

Sementara di Jepang, paket wisata mengunjungi Kuil Ikuta, Arima Onsen, dan Jembatan Akashi-Kaikyo adalah rangkaian tur wisata literasi demi mendalami karya-karya Haruki Murakami yang dianggap dekat dengan tema kesendirian dan pengasingan.

Yang lebih kontemporer, bagi para Potterhead tur operator di Edinburgh, Skotlandia menawarkan paket wisata Harry Potter, lengkap dengan menikmati kudapan di kafe-kafe tempat J.K Rowling menghabiskan waktu.

Di negeri kita, potensinya sastra menginduksi sektor pariwisata masih pada upaya penggalian mitos atau cerita rakyat sebagai penciptaan branding. Kecuali barangkali ajang festival Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) yang ada sejak 2004, meski tentu saja itu lebih karena faktor Bali-nya yang sudah mendunia.

Rasanya tak sedikit hasil karya sastra klasik atau modern yang berpotensi mengangkat industri pariwisata dan turunannya. Sebutlah di Sumatra Barat yang memiliki tradisi sastra sejak lama.

Siapa yang tak kenal Siti Nurbaya karangan Marah Rusli? Buah karya klasik sastrawan angkatan Balai Pustaka ini bahkan disandingkan setara dengan Romeo dan Julia karya William Shakespeare dan legenda Tiongkok Sampek Engtay.

Berwisata tak melulu tentang menikmati panorama atau mencari indahnya alam, atau yang biasa dikenal dengan 3S: Sea, Sun, Sand. Ada kalanya berwisata juga perlu dilakukan untuk memperkaya khasanah literatur dan kultur kita. Karena kata-kata membangun jembatan ke daerah yang belum dijelajah. Demikian Fuhrer Adolf Hitler.

Referensi