Pramoedya Ananta Toer sosok penulis hebat yang pernah dilahirkan republik ini. Memiliki kekhasan dalam setiap tulisannya dan sikap keberpihakannya yang jelas. Sosok yang pernah menjadi bagian dari Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Lewat Lekra nama Pramoedya Ananta Toer melambung tinggi, tetapi disana pulalah namanya seolah hendak dibenamkan bersama kualitas tulisannya yang penuh dengan keberpihakan. Akibatnya Pram sempat menjadi penghuni penjara dan tidak tanggung-tanggung hingga ke Pulau Buru.

Seolah pergantian penguasa dari rezim Kolonial Belanda hingga rezim anak negeri tak pernah bersahabat dengan penulis yang pernah masuk nominasi Nobel untuk bidang Sastra. Belanda pernah menyita buah tulisannya, hingga Belanda pulang kampung tulisan Pram tak kunjung dikembalikan.

Dalam buku yang berjudul “Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer” Pram menunjukkan banyak remaja-remaja Indonesia menjadi korban kebejatan nafsu Penjajah Jepang. Yang mengumpulkan remaja-remaja dengan iming-iming dipekerjakan.

Cerita pilu remaja-remaja itu, dituliskan oleh Pram sebagai bentuk keberpihakan kepada remaja yang telah menjadi korban kebejatan nafsu. Yang hingga kini, Jepang belum pernah meminta maaf atas kejadian masa lalu dan mengakui berapa jumlah yang menjadi korban.

Perjuangan yang ditempuh oleh Pram, bukan hanya lewat tulisan lebih daripada itu. Pram bahkan sempat ikut memanggul senjata pada revolusi fisik dengan bergabung di dunia militer. Pengalaman Pram ikut memanggul senjata kala revolusi fisik diabadikannya lewat tulisan “Keluarga Gerilyawan”

Pram pernah diwawancarai mengenai tulisan-tulisannya yang pernah disita baik oleh Belanda maupun dilarang beredar oleh rezim di Indonesia. Dengan begitu tenang dan lugas Pram menjawab bahwa “Tulisan-tulisannya itu, ibarat anak ruhanianya. Seorang anak memiliki hidup sendiri-sendiri. Termasuk yang disita atau yang dilarang beredar itulah kehidupan yang mesti dijalani oleh anak ruhanianya”

Mungkin ada baiknya seorang penulis mengambil pelajaran dari Pram terkait anak ruhania kita yakni tulisan. Apapun yang dialami oleh tulisan kita, entah menarik banyak pembaca atau tidak. Yang mesti dipahami setelah tulisan itu, tersebar dia memiliki kehidupan tersendiri.

Terkadang suatu tulisan dapat menarik pembaca hingga pembaca tidak merasa bosan untuk kembali membacanya. Namun, kadang kala ada tulisan yang malah membuat pembaca tidak ingin berlama-lama mengeja huruf demi huruf.

Bila tulisan yang kita hasilkan berada pada tataran ke-enggangan pembaca untuk berlama-lama membacanya. Sebagai penulis tidak usah gusar dan kecewa mungkin jalan hidup yang mesti dijalani oleh anak ruhania kita demikian adanya.

Ada banyak tulisan yang dihasilkan oleh penulis yang dikemudian hari menjadi penulis ternama. Tetapi, sering kali ditolak oleh para penerbit termasuk buku Harry Potter. Sejarah pun mencatat walau pernah ditolak dan kemudian hari siapa yang menyangkal popularitas yang didapatkan buku Harry Potter ?

Pram pun pernah menuturkan bahwa dirinya tidak pernah mengedit tulisannya. Hal tersebut, dimaksudkan untuk mengabadikan jalan pikirannya. Sikap Pram yang tidak mengedit tulisannya mungkin berasal dari pendirian eksistensial dan humanisnya.

Walau terkesan keras kepala, namun pendirian itu menjadikan dirinya sebagai penulis yang memiliki sikap dan pendirian yang tegas. Pram bersikap demikian humanis pada anak ruhanianya. Mungkin pendirian Pram agak berbeda dengan ungkapan penulis adalah editor pertama bagi tulisannya.

Sikap Pram seolah tergambar dari pendiriannya bahwa seorang yang terdidik telah adil semenjak dipikiran. Bertindak adil yang dia tunjukkan kepada anak ruhania yang telah dihasilkannya sendiri. Kekhasan dari pendirian Pram telah mengalir dalam setiap karya-karya tulisnya, sehingga tidak heran penghargaan Ramon Magsaysay pernah diraihnya.

Para penulis baik profesional maupun pemula mungkin perlu bercermin pada Pram. Mengingat budaya pop yang terkadang ikut mengikis idealisme seorang penulis, yang terpaksa ikut larut dalam selera pasar pembaca.

Orisinilitas seorang penulis diuji dengan berbagai kaidah yang telah baku dan aturan tertentu menyebabkan tulisannya mesti diminta berdandan sesuai selera pasar. Ujian menjadi penulis demikian beratnya, pikiran yang menjadi buah dari olahan rasa, realita dan rumusan terhadap sesuatu. Terkadang harus buyar dan bubar sebelum sampai di tangan reader.

Tulisan yang sejatinya buah pikiran, mesti melewati ruang-ruang penjinakan dan tak jarang mesti mengalami amputasi. Kadang tulisan yang bersuara nyaring mesti mengikuti gema suaranya hingga jeruji-jeruji besi.

Seorang penulis seperti Pram, tidak bisa menurunkan volume suara nyarinya. Apalagi kalau itu, menyangkut manusia-manusia yang telah dilanggar kemerdekaannya. Pram tidak bisa diam dan menutup mata, hingga resahnya terangkut dalam satu alur yakni lawan. Sebab, diam berarti mengiyakan penindasan.

Mampukah penulis-penulis kekinian menancapkan ketajaman penanya, walau mesti menanggung nestapa berpisah dengan anak ruhanianya untuk selama-lamanya. Bahkan ketika tubuh Sang Penulis telah rata dengan tanah, anak ruhanianya tak kunjung bebas menziarahinya di peristirahatan terakhirnya.

Pram juga demikian, meski telah terbebas dari tugas-tugas sosialnya. Namun, karya-karya yang ditinggalkannya belum begitu bebas menikmati pelayanan-pelayanan sosial yang mesti diberikan kepada masyarakat. Sebab, masih ada stigma begitu karya-karya Pram hendak bersahabat dengan Bumi Pertiwi.

Kepada para penulis Pram, hendak menunjukkan bahwa semakin buah tulisan mendapatkan penentangan dari penguasa. Maka idealisme sebagai penulis jangan pernah kendor walau mesti berhadapan dengan bedil sekalipun. Percayalah bedil hanya mampu menembus satu tubuh, tetapi  tulisan mampu menembus jutaan pikiran.