Indonesia kembali digemparkan dengan kasus prostitusi yang menjerat para artis. Kali ini menjerat seorang artis kenamaan Indonesia berinisial 'VA'. Beberapa tahun lalu, kasus prostitusi juga berhasil menjerat beberapa artis ternama. Setiap kasus memiliki pola yang hampir serupa, di mana para wanita dibebankan kesalahan moral yang berlebihan. 

Berbagai hujatan dan sindiran juga dukungan terus dilayangkan para netizen, hal ini terbukti dengan hastag #MenjemputRejeki2019 yang menjadi trending topic di berbagai media sosial. Pola pemberatan moral kepada kaum perempuan ini dapat dibuktikan dengan adanya stigma yang berkembang di masyarakat berupa, 

"Ceweknya aja yang nggak bisa jaga diri"

"Jadi cewek kok ganjen"

"Ceweknya mau mau aja digituin, bodoh sih"

"Harusnya itu cewek pakek baju yang tertutup"

"Bodoh banget ceweknya, harusnya dia nggak pulang malem"

"Bajunya terbuka, pasti cewek nggak bener itu"

Lalu, mari asumsikan bahwa stigma ini benar dan mari kita bandingkan dengan tonggak awal kebudayaan Yunani Kuno. Pada zaman Yunani Kuno, Perempuan ditakdirkan menjadi pemuas nafsu yang sering disebut pelacur, hal ini terbukti lewat pernyataan Pseudo-Demosthenes pada abad ke-4 sebelum masehi yang menyatakan di depan majelis warga negara, "kita harus memiliki pelacur untuk kesenangan, selir untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, dan pasangan kita untuk memberi kita anak-anak yang sah dan menjadi penjaga setia rumah kita" 

Maka, sekeras apapun perempuan menolak, kenyataanya tetap sama, mereka akan berakhir sebagai pemuas nafsu. Kemudian perempuan dianggap sebagai mahluk rendahan, tanpa ada pilihan.

Beda lagi dengan perkembangan kebudayaan yang terjadi di Indonesia, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan untuk menyalahkan perempuan dalam berbagai kasus prostitusi dan pemerkosaan. Kini gerakan pemelacuran yang dilakuakan memang tidak sama persis seperti yang terjadi pada zaman Yunani Kuno, mengingat di Indonesia pemerkosaan merupakan sebuah tindak pidana dan prostitusi merupakan gerakan illegal. Kecenderungan masyarakat untuk menyalahkan kaum perempuan semakin mengakar, khalayak mengenal aturan menutup aurat [Lihat al-Mausû’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, 31/44].

Pandangan tentang aturan ini kemudian menimbulkan kengerian fasisme dari lelaki yang gagal memahami keberadaan perempuan. Mereka berpikir perempuan boleh direndahkan, dihina, dan dilecehkan karena bagian tubuhnya menonjol tidak tertutup sperti yang diperintahkan kepadanya. Bahwa perempuan-perempuan ini dapat diinjak harkat dan haknya karena ia sedang belajar menutup tubuhnya, namun tidak sempurna karena ia sedang berproses perihal iman yang sebaik-baiknya. 

Para lelaki (yang muslim) tersebut tentu saja tidak memahami bahwa perintah perempuan untuk menutup aurat dengan hijab sepaket dengan perintah lelaki untuk menundukkan pandangan. Bahwa perintah-perintah perempuan untuk menjaga diri dengan penutup, jauh lebih sedikit daripada riwayat lelaki yang diperintahkan menahan diri. Jika para lelaki yang merendahkan tadi punya otak untuk berpikir, ia akan sadar bahwa dalam Islam lelakilah yang semestinya menghormati dan menjaga, ketimbang perempuan menutup dan mencegah.

Kasus pemerkosaan yang legal pada zaman Yunani Kuno dan pemerkosaan Indonesia masa kini memiliki kesamaan, menjadikan kaum perempuan sebagai objek. Perbedaanya terletak pada, Zaman Yunani Kuno, kaum perempuan tidak dikambinghitamkan karena menjadi pelacur adalah tugas kaum perempuan dan tidak ada alasan untuk menyalahkan kaum perempuan untuk melakukan tindakan prostitusi atau menjadi korban pemerkosaan.

Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, karena tindakan pemerkosaan dan prostitusi merupakan hal yang dilarang, maka kaum perempuan dijadikan kambinghitam dari tindakan ilegal tersebut dengan mendalihkan aturan menutup aurat sebagai dasarnya.

Bukan bermaksud menyuarakan dukungan untuk tidak menyalahkan kaum perempuan pada berbagai kasus prostitusi dan pemerkosaan. Titik dukungan dalam hal ini berada pada, mendirikan lagi pemikiran rasional terhadap kasus prostitusi dan pemerkosaan. 

Apabila terjadi kasus serupa dengan prostitusi dan pemerkosaan, khalayak ramai tidak pantas melayangkan pandangan untuk menyudutkan pihak perempuan, sebelum adanya klarifikasi atau bukti perbuatan bersalah dari pihak perempuan. Sederhananya, tidak ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana terjadinya peristiwa. 

Sehingga, khalayak juga tidak dapat menentukan pihak bersalah dengan akurat, dengan pandangan yang dituduhakan terhadap pihak perempuan pada kasus prostitusi yang sedang menjadi trend saat ini. Gerakan kaum perempuan yang disebut paham feminisme kemudian digaungkan untuk mencegah timbulnya berbagai stigma negatif pada masyarakat Indonesia. Walaupun pandangan mengenai kaum perempuan hanya sebagai pemuas nafsu atau mahluk rendahan bukan hal yang mudah, mengingat gerakan ini bergerak sejak lama dan pandangan buruk ini juga belum mati sempurna.

"Seberapa hebatnya kaum perempuan mereka akan berakhir diranjang" Akhir dari perjalan karir seorang perempuan akan berhenti di titik pernikahan, dimana wprempuan diharuskan untuk mejadi pengurus rumah seperti kejadian yang sudah sudah. Seberapa kerasnya perempuan bergerak untuk menegakkan paham feminisme akan sulit menentang kenyataan perempuan yang akan berakhir diranjang. 

Pernikahan hanyalah usaha Pemerintah untuk melegalkan para pelacur dalam jangka waktu tertentu dan bersifat mengikat. Apabila pekerjaan akhir para perempuan adalah menjadi pelacur, maka tidak ada alasan untuk menyalahkan kaum wanita, apalagi untuk merendahkannya, terkhusus untuk tindakan mengkambinghitamkan kaum prempuan dalam berbagai kasus prostitusi dan pemerkosaan. 

Apabila masyarakat masih akan tetap menganggap semua kaum perempuan sebagai mahluk rendahan, kemudian mahluk rendahan ini masih akan tetap memiliki hak untuk dihargai dan dihormati dinegara yang menjunjung tinggi torelansi dan kemanusiaan.