Tatapan matanya nanar, seakan sedang menatap para pasien yang sedang dioperasi si sebuah Rumah Sakit di Kota Sabang. Ia pun sibuk minta ampun melihat pasien yang gugup dan menangis saat ingin di operasi. Ia mencoba menenangkan para pasien yang umumnya masih tergolong anak-anak berhasil dihimpunnya di Kota Sabang.

Saat itu yayasan Smile Train membawahi penangan operasi bibir sumbing kepada 10 anak-anak yang ada di sekitaran Kota Sabang. Ia pun begitu sibuk saat itu mengurusi pasien yang akan mendapatkan giliran operasi. Menenangkan anak-anak dan menghilangkan kecemasan berlebih dari para orang tua. Wajahnya yang penuh rasa aura keceriaan seakan mampu menghilangkan rasa takut akan pasien dan orang tua saat operasi bibir sumbing.

Beda dengan saya saat itu, saya pun mendapatkan kesempatan datang ke Sabang untuk meliput segala aktivitas yang berlangsung kala itu. Saya begitu awam dengan bibir sumbing dan ini jadi pengalaman pertama saya melihat operasi bibir sumbing secara langsung. Itu jadi pertemuan pertama saya dengan pria paruh baya yang punya niat mulia terhadap pasien bibir sumbing di Aceh.

Malam harinya proses operasi berlangsung, pelaksanaannya mulai berlangsung pada pukul 22:00 WIB. Para pasien sebelumnya sudah harus berpuasa sejak tadi siang supaya proses operasi dan rekonstruksi bisa berlangsung dengan optimal. Ada sebanyak 10 pasien yang akan dioperasi dan mendapatkan giliran.

Butuh waktu 8 jam lamanya hingga proses operasi selesai dan pada pagi harinya, semua pasien telah berhasil dioperasi. Rekahan di bibir mereka telah direkonstruksi dengan rapi oleh para dokter bedah yang begitu terampil. Bingkisan berupa parsel pun diberikan pada anak-anak yang telah dioperasi. Nantinya mereka akan dilihat perkembangan pasca operasi hingga normal seperti anak-anak umumnya

Semuanya akhirnya berakhir melegakan saat anak-anak yang telah dioperasi sudah diperbolehkan pulang. Wajah cemas orang tua seakan berganti dengan rasa ceria. Anak-anak yang tadinya tidak perbolehkan makan selama beberapa waktu sebelum operasi kini bisa makan. Kini tinggal menunggu proses kesembuhan dan melihat senyum dari anak-anak penderita bibir sumbing.

Rahmat pun senangnya minta ampun karena tugasnya di Kota Sabang sudah selesai. Kini ia bergegas melakukan aksi serupa di tempat lainnya di Aceh. Ada banyak pasien serupa yang butuh penangan serupa.

Setelah proses operasi selesai, saya pun mencoba mengenal Rahmat lebih jauh dengan mewawancarainya. Pada perkenalan pertama, saya pun sedikit ragu untuk menyapanya secara langsung. 

Namun rupanya tidaklah asing karena desa tempatnya tinggal di Meulaboh tidak jauh dengan rumah saya. Seakan saya langsung “klik” dan nyambung diajak ngobrol panjang tentang profesi yang ia jalani saat ini. Ia pun begitu ramah dan menjelaskan secara detail mengenai bibir sumbing.

Itulah perkenalan singkat dengan dirinya kala itu, ia sangat antusias terhadap bibir sumbing yang ada di seluruh kecamatan/kota di Aceh. Namanya panjangnya Rahmat Maulizar dan usianya sebaya dengan saya. Namun ia sudah kenyang dengan dunia sosial sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Pengalaman yang ia rasakan dan kini menjadi pekerja sosial yang membantu penderita bibir sumbing di Aceh. Katanya ada banyak anak-anak yang mendapatkan penangan serupa terhadap bibir sumbing. Faktor utama adalah karena tidak adanya biaya untuk proses penangan pasien. Banyak yang takut dan hasilnya mengurungkan niatnya, selain biayanya dianggap mahal serta jauhnya lokasi sejumlah pasien dari rumah sakit terkait.

Saat awal ia menjadi pekerja sosial, ada banyak penderita yang sudah berusia dewasa yang belum mendapatkan penangan. Faktor ekonomi dan persyaratan administasi jadi alasan bahwa penderita tidak mengobati kelainanya tersebut Masyarakat pun sudah pasrah dengan keadaan yang menimpa diri mereka dan sudah dianggap takdir ilahi. Seakan itu mendorongnya membantu anak-anak dan orang dewasa yang mengalami masalah bibir sumbing.

Ia pun mencoba terjun dan memberikan pengarahan proses sebelum dan sesudah operasi. Mendata pasien dan memotret bagian bibir dan celah langit-langit sebagai data nantinya. Semua yang sudah ia himpun akan diberikan pada dokter terkait yang berada di bawah yayasan Smile Train. Nantinya dokter lebih mudah mengetahui proses rekonstruksi pada pasien tersebut.

Data yang ia himpun di daerah Aceh, kebanyakan anak-anak yang berada di ekonomi menengah ke bawah cukup banyak menderita kelainan pada bibir dan langit-langit. Awalnya ia hanya fokus di daerah tempatnya tinggal yaitu Aceh Barat terhadap penangan pasien. Lama-kelamaan, di daerahnya sudah terdata keseluruhan dan sudah mendapatkan pelayanan. Barulah kemudian melebar ke pantai barat Aceh dan kini ia sudah menangani penderita bibir sumbing di seluruh Aceh.

Semua itu coba dilakukan oleh Rahmat dengan dedikasinya pada pasien bibir sumbing tanpa pamrih. Ia rela blusukan dari desa ke desa dengan motornya. Saat saya bertemu dengannya, esok harinya ia harus menempuh perjalanan jauh membelah laut ke Kabupaten Gayo Lues di bawah kaki Gunung Leuser. Semua dilakukan hanya itu menemani proses bedah bibir sumbing seorang pasien di sana. Lokasinya berada 400 Km dari tempatnya. Bermodal dengan motor trail miliknya, ia menuju lokasi untuk melakukan kunjungan ke salah seorang anak penderita di sana.

Membelah hutan hujan Leuser yang sempit dan berliku, hingga akhirnya ia tiba  ke lokasi dan bertemu dengan pasien. Rahmat berkoordinasi dengan pihak yayasan Smile Train, para dokter, dan rumah sakit di sana untuk melakukan aksi operasi. Ia pun mendatangkan sejumlah dokter yang ada di Banda Aceh untuk melakukan operasi bagi sejumlah pasien.

Mengubah Bully-an menjadi orang yang berdedikasi

Dulu ia hanyalah anak kecil yang menderita bibir sumbing, saat kecil teman-teman sejawatnya sering membullynya. Ia terlahir berbeda dengan teman-teman lainnya. Menjadi berbeda di kalangan anak-anak jelas sesuatu yang tidak mengenakkan.

Masa kecilnya sering mengalami tindakan bully hingga masa remaja. Permasalahannya karena ia sulit berbicara. Menjadi seorang yang menderita bibir sumbing jelas sesuatu yang tidak mengenakkan. Ia lebih banyak menyendiri dibandingkan harus bergabung dengan teman-temannya dan mengurung diri adalah sebuah pilihan. Bahkan asal ia bicara di sekolah, teman-temannya selalu saja mengolok-oloknya karena nada suaranya.

Rasa pelik itu seakan membuat ia jadi pribadi yang gampang minder, ia lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Hingga akhirnya orang tuanya pun memberanikan diri mengantarkan anaknya yang sudah remaja untuk mengoperasi cacat bawaan di bibirnya. Saat itu sangat sulit dan bahkan orang tuanya sempat mengurungkan niat mengoperasi karena masalah biaya dan proses penangan.

Hingga akhirnya orang tuanya mendapatkan informasi mengenai keberadaan sebuah yayasan yang bergerak di bidang penaganan bibir sumbing di Banda Aceh. Namanya Smile Train, yayasan yang peduli lebih terhadap penderita bibir sumbing di seluruh dunia.

Dokter yang terlibat menangani Rahmat pun bedah bibir dan merekonstruksikan langit-langit di bibirnya, membantu mengubah bentuk bibirnya seperti orang normal. Perlahan bibir sumbingnya hilang setelah menjalani serangkaian operasi. Memang ada penyesalan karena pita suaranya tetap tidak sesempurna layaknya orang dewasa umumnya. Karena ia dioperasi saat sudah beranjak dewasa, lebih baik saat masih balita. Selain bekasnya hilang, serta si anak tidak kesulitan dalam berbicara.

Memang tidak bisa berubah secara optimal, akan tetapi ia menjadi normal dan mengembalikan senyumannya yang dahulu sempat hilang di masa remaja. Pengalaman pelik yang dialami saat masih remaja dahulu tidak ingin terulang kembali kepada anak-anak Aceh. Tekadnya bulat, jangan sampai perbedaan dan cacat lahir dari bibir sumbing seakan membuat anak-anak kecil tersebut kehilangan masa bermainnya.

Ajakan tersebut datang dari dokter bedah yang mengoperasinya kala remaja lalu. Hatinya makin kuat terketuk karena banyak anak-anak yang dibiarkan sumbing hingga dewasa. Perkenalannya berawal dari yayasan Smile train yang membawahi berbagai aksi bibir sumbing di seluruh dunia.

Ia sadar bahwa para pasien bibir sumbing sebaiknya harus ditangani sebelum proses belajar berbicara dimulai. Berkisar di usia 8 – 9 bulan. Bila tidak, berakibat pada kemampuan berbicara saat sang anak tumbuh dewasa.

Sang anak harus mengikuti terapi berbicara lagi dan bisa menghambat komunikasinya dengan teman-temannya. Proses untuk penyembuhan pada celah bibir dan langit-langit juga berlangsung cepat. Sehingga saat sang anak tumbuh dewasa, ia tidak mengetahui saat masih kecil pernah menderita kelainan bibir sumbing.

Rahmat pun rela membagi waktunya di masa kuliah dengan terjun di dunia sosial. Objek yang ia giatkan adalah menolong anak-anak yang mengalami masalah serupa seperti dirinya. Seakan ia mencoba mencari anak-anak yang menderita bibir sumbing hingga ke pelosok. Mendatangi satu persatu ke lokasinya, ia tidak percaya hanya kabar burung atau foto saja. Namun ia melakukan mediasi ke kediaman pasien yang akan dilakukan tindakan penganan.

Banyak orang tua pasien yang anaknya punya masalah bibir sumbing yang takut berobat ke rumah sakit. Selain karena anggapan biaya yang mahal, proses administrasi yang berbelit-belit hingga menganggap bibir sumbing ialah takdir yang tidak dapat diubah. Nyata bibir sumbing bisa diubah dan bahkan mengembalikan senyum yang tertunda dari para penderitanya.

Mengabdi melalui tindakan tanpa pamrih

Perjuangan beratnya seakan berbuah hasil, ia berhasil menginspirasi banyak orang lain. Ia berhasil dikenal oleh orang lain dan bahkan di Meulaboh tempat tinggalnya tidak ada pekerja sosial. Pekerjaan yang tidak seksi itu seakan mampu menolong dan menginspirasi banyak orang.

Semua itu makin berharga saat ia berhasil diundang ke sebuah acara fenomenal di Kick Andy sebagai tokoh inspirasi. Perjuangan selama 8 tahun seakan membuat ia mendapatkan penghargaan di mana-mana hingga akhirnya sebuah undangan datang dari sebuah acara talk show terkenal di tanah air, Kick Andy  Ia berhasil diundang di acara kick Andy sebagai tokoh yang menginspirasi. Ia seakan mengubah kekurangan pada dirinya sebagai motivasi untuk mereka yang menderita penyakit serupa.

Saat ini ada lebih 3.000 anak Aceh yang sudah dilakukan penagan bibir sumbing sejak ia bergabung di yayasan terkait. Operasi pun berlangsung setiap minggunya dengan melihat rata-rata 7-15 orang penderita. Mulai dari pasien yang menjalani operasi pertama hingga yang sudah proses pembedahan lanjutan. Semuanya gratis tanpa dipungut biaya termasuk mendanai ke lokasi operasi.

Kini Rahmat sudah berkeluarga dan bukti pengabdiannya berbuah manis. Seorang gadis berparas cantik asal Meulaboh berhasil jatuh hati atas kebaikan hatinya. Ia bukan pria tampan yang penuh rayuan manis untuk menaklukkan wanita, namun penuh dengan dedikasi di mana pun.

Seakan itu mampu meluluhkan hati gadis berparas cantik yang kini menjadi istrinya Saat acara pernikahannya, berjejar papan ucapan selamat yang datang dari berbagai kalangan. Ia bukanlah anak orang kaya atau terpandang di Meulaboh. Namun semua pejabat dan orang penting di Bumi Teuku Umar seakan menghargai dedikasinya.

Ia pun tak jarang menerima bingkisan dan ucapan selamat pada sejumlah keluarga yang membantu. Seakan menghadirkan senyuman mereka dan mengembalikan kepercayaan diri anak-anak yang dahulunya minder dengan kekurangan fisik atas apa yang mereka miliki.

Brosur fotonya pun tersebar luar di pantai barat selatan, ia siap dihubungi oleh siapapun dalam menangani masalah pasien bibir sumbing. Ia pun tak segan siapa saja khususnya masalah sosial. Hatinya pun terketuk saat bencana yang terjadi di Palu, Donggala, dan Sigi. Saat tulisan ini ditulis, ia pun baru saja bertolak ke sana dan saya termasuk orang yang mengantarkannya ke bandara dan mengucapkan selamat di jalan.

Ia pun sadar di sana ada banyak anak-anak yang butuh bantuan. Membantu meringankan derita yang mereka hadapi di sana. Ada pekerjaan kemanusian yang begitu besar di sana dan mereka membutuhkan bantuan. Khususnya anak-anak yang membutuhkan pemulihan psikologis dan fisik. Ia pun selaku duta bibir sumbing pun tidak segan mencari anak-anak yang ada di sana yang bisa dioperasi secara gratis. Karena baginya senyuman kebahagian milik siapa saja tanpa terkecuali.

Bekerja pada panggilan kemanusian adalah pekerjaan mulia yang penuh tantangan dan dedikasi kuat. Rahmat Maulizar sudah membuktikannya dari pengalaman pilu masa kecilnya mampu diubah dengan mampu banyak orang lainnya.

Semoga saja kisah pekerja kemanusiaan seperti Rahmat mampu melahirkan banyak pekerja serupa dengan dedikasi tinggi.