Peringatan HSPN atau Hari Peduli Sampah Nasional sudah berada didepan mata, yakni pada tanggal 21 Februari mendatang. Setiap tahun masyarakat selalu diingatkan dengan hadirnya HSPN guna mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa persoalan sampah harus menjadi perhatian utama, tidak hanya pemerintah tetapi seluruh komponen lapisan masyarakat dalam hal pengelolaannya.

Dikutip dari detik.com senin, (21 Desember 2020). TPST atau Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu di Piyungan Yogyakarta menumpuk dan akhirnya beberapa hari tempat tersebut ditutup. Tidak hanya di Jogja, hal serupa juga pernah terjadi di beberapa wilayah lainnya.

Betapa tidak, produksi sampah dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan mengalami peningkatan yang signifikan, seiirng dengan bertambahnya kebutuhan konsumsi masyarakat, dan lapisan terkecil yakni keluarga. Pengelolaan sampah sejatinya bukan hal yang mudah, oleh karena itu, dibutuhkan pelibatan masyarakat dalam hal pengelolaannya.

Melalui Peraturan Pemerintah nomor 81 Tahun 2012, pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga diatur sedemikian rupa, jenis-jenisnya juga dijelaskan secara terperinci. Tetapi, penumpukan sampah masih saja terjadi, hal ini karena kurangnya kesadaran diri tentang pengelolaan sampah itu sendiri.

Dalam tulisan ini saya tidak akan terlalu detail menjelaskan tentang badan hukum dan aturannya sebagaiana dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah diatas, juga turunan Perdanya. Tetapi, yang akan saya uraikan  lebih pada penangan ter dini, gerakan-gerakan akar rumput, yakni berupa kesadaran dalam diri sendiri.

Sejatinya sampah tidak hanya selalu identik dengan kotor, atau pencemaran lingkungan saja, sampah juga memiliki nilai tambah jika benar-benar dikelola dengan baik, lebih dari itu, sampah bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah yang barangkali cukup untuk beli kopi anak kos di Yogyakarta.

Dalam hal ini, contoh yang saya ambil adalah Mahasiswa, mahasiswa sebagai bagian dari lapisan masyarakat sudah saatnya menjadi yang terdepan dalam pemeliharaan lingkungan. Juga bisa menjadi contoh bagaimana memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pemeliharaan lingkungan dari pencemaran, juga bisa memberikan pemahaman tentang pengelolaan sampah yang baik.

Akan tetapi, hal demikian seringkali bertolak belakang dengan realitas, yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran mahasiswa atas kemampuan dirinya. Sehingga, bukan menjadi yang terdepat, seringkali justru menjadi yang paling belakang dan tidak tahu-menahu tentang hal ini.

Hal demikian setidaknya disebabkan atas beberapa faktor: Pertama, kurangnya ilmu pengetahuan tentang kesadaran bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa, bisa juga disebabkan karena kurangnya literasi bacaan, kurangnya membaca, sangat berpengaruh atas pola pikir mahasiswa, sikap apatis tentu akan muncul didalamnya.

Kedua,Kurangnya relasi, sejatinya sebagai mahasiswa relasi menjadi faktor utama bagaimana membentuk karakter berpikir yang peka terhadap orang lain, dan dengan itu berimplikasi pada kesadaran dan kepekaan pada lingkungan. Mahasiswa yang kurang relasi akan cenderung pragmatis dan tidak bisa berpikir panjang atas suatu hal apapun, akan cenderung teoritis sehingga pemahamannya pun mengawang-ngawang.

Pertama dan kedua diatas-disamping lingkungan yang baik, adalah faktor-faktor yang sudah saatnya mulai dikembangkan oleh mahasiswa, supaya kesadarannya mulai tumbuh. Sadar tentang dirinya, dan sadar pentingnya menjaga lingkungan.

Sejatinya tidak mudah, tetapi nyatanya bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil, hanya saja seringkali dipertanyakan adalah seberapa mau untuk belajar, mencari dimana sebenarnya dirinya, dan seberapa jauh dia bergaul. Hal ini yang terpenting bahkan lebih penting dari yang lain.

Membentuk pola pikir terlebih dahulu, sebelum berpikir. Begitu saya mengatakannya, bahwa jelas yang seringkali terlupakan adalah diri sendiri, kita terlalu bersemangat untuk memperbaiki orang lain, sementara diri sendiri masih butuh diperbaiki. Pola berpikir demikian menjadi masalah baru sejatinya dalam kehidupan.

Sudah saatnya mahasiswa menjadi agen perubahan, setidaknya mampu memelihara dan menumbuh-kembangkan segala sesuatu yang ada. Gerakan-gerakan mendasar yang bisa dilakukan harus disegerakan. Mahasiswa harus mampu menjadi garda terdepan dalam penyelamatan lingkungan, pemeliharaan satwa dan hutan. Juga, mampu mengedukasi bagaimanaa pentingnya memanfaatkan sampah sebagai nilai tambah.

Dengan demikian, mahasiswa akan mampu menjadi kontrol sosial, mampu menjadi bagian tak terpisahkan dari lapisan masyarakat, mampu berbaur dan tidak merasa asing di masyarakat. Tan Malaka mengatakan bahwa jika kaum-kaum terpelajar merasa enggan berbaur dengan mereka yang bekerja dengan cangkul dan memiliki cita-cita yang sederhana, maka sebaiknya pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.

Oleh karena itu, dengan literasi yang kuat, relasi yang banyak dan aktif berbaur dengan masyarakat, maka akan mampu menciptakan kepedulian terhadap sampah sejak dalam pikiran. Kesempatan pendidikan diberikan, sama-sama kita manfaatkan untuk benar-benar menempa diri sebagai insan yang multicultural. Yang mampu menciptakan kedamaian, ketenangan, juga kesehatan serta kesejahteraan bagi lapisan masyarakat.

Mari sama-sama kita belajar, dan sadar akan pentingnya pemeliharaan lingkungan dan pemanfaatannya. Kita jadikan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional ini untuk menumbuhkan kesadaran kita, mengetuk hati kita, untuk tetap menjadi bagian orang-orang yang berguna bagi sesama. Semoga!