Keriuhan kecil selalu terjadi setiap pagi di halaman depan rumah Mbak Ari. Padahal azan subuh baru saja berkumandang. Para karyawan pabrik dengan seragam yang sudah melekat di badan datang dengan keinginan mengisi perut.

Mereka menguarkan pesanan dengan setengah sabar. Untuk mendapatkan sarapan, budaya antre harus tetap dipertahankan. Menu yang diperebutkan itu, meski selalu sama, namun tetap memiliki daya tarik.

Sepiring nasi hangat dengan campuran taoge, kol, daun bayam, tahu goreng, ditambah siraman bumbu kacang dan ditaburi rempeyek pun menjadi primadona. Panggilan singkat untuk makanan tersebut adalah pecel. Memang, pecel merupakan salah satu menu yang pas untuk dijadikan kudapan pagi sebelum beraktivitas.

Pecel merupakan makanan khas Indonesia. Terlebih di daerah Jawa Timur. Madiun merupakan salah satu daerah penghasil bumbu pecel yang terkenal. Namun, daerah-daerah lain di Jawa Timur seperti Magetan, Kediri, Blitar, dan Malang juga memiliki varian pecel masing-masing.

Makanan ini ternyata sudah ada sejak zaman Belanda. Asumsi ini berasal dari fakta bahwa ternyata pecel terdapat pula di Suriname—yang juga merupakan jajahan Belanda dan banyak orang Indonesia yang ‘dibuang’ ke negara tersebut saat penjajahan oleh Belanda berlangsung. Namun tentu saja, bahan menyesuaikan dengan kondisi geografis di Suriname.

Unsur utama yang tidak boleh terlewat adalah bumbu pecel yang berkomposisi; kacang tanah, cabe rawit, asam jawa, gula merah, bawang putih, dan garam, juga yang tidak kalah penting adalah rempeyek. Beragam variasi bahan dari daerah-daerah penghasil pecel tidak pernah melepaskan bumbu dan rempeyek sebagai bahan pokok dari pecel.

Hari semakin terang. Karyawan pabrik digantikan oleh ibu-ibu yang ingin menyiapkan bekal untuk anaknya, bapak-bapak sebelum berangkat ke kantor, bahkan para pengunjung dari luar daerah yang penasaran dengan pecel ini.

Mereka akan terus antre sampai pukul setengah sembilan pagi. Itu karena Mbak Ari dan keluarga sepakat untuk menyelesaikan penjualan pecel setiap hari di jam yang sama. Jika tidak, para pembeli enggan untuk berhenti berkunjung.

Keluarga pemilik rumah sederhana yang terletak di Jl. Supriadi nomor 145, Dusun Duluran, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini memilih menjual makanan yang sudah banyak beredar di Jawa Timur, terlebih Kediri. Bedanya, pecel ini dijual dengan harga yang fantastis, hanya Rp.2000,-. Ya, dua ribu rupiah!

Mbak Ari mengaku untung yang didapat setiap bungkusnya adalah Rp.200,-. Otomatis laba tersebut tidak akan ‘kelihatan’ jika dikalkulasikan secara harian. Sedangkan setiap harinya, 1 kwintal atau 100 kilogram beras habis untuk disajikan kepada para pembeli.

Warung pecel ini memang tidak memiliki nama khusus. Orang-orang lebih akrab dengan menyebutnya sebagai Pecel 2000. Jika pembeli tersebut datang dari luar kota—Surabaya misalnya, pada awalnya mereka tidak akan percaya bahwa harga pecel tersebut Rp.2000,-. Namun hal itu yang membuat mereka kembali datang untuk bertandang ke warung ini.

Saat ini, Pecel 2000 memasuki generasi ketiga. Mbak Ari yang merupakan menantu dari pemilik warung pecel ini senantiasa membantu kesibukan setiap paginya. Pecel 2000 selalu buka setiap hari, kecuali pada hari raya.

Permintaan setiap harinya tidak pernah kurang dari 200 bungkus. Belum lagi jika ada pesanan untuk pengajian yang biasanya sekitar 80 hingga 300 bungkus. Meski begitu, keluarga Mbake—panggilan yang akrab untuk pemilik warung pecel ini, selalu konsisten dalam menjalankan bisnis pecel tersebut.

Keluarga ini juga mengutarakan keengganan mereka dalam menaikkan harga. Prinsip mereka yaitu, meskipun mendapatkan untung yang sedikit namun dapat meraup pelanggan yang banyak. Hal ini terbukti dengan banyaknya pembeli yang datang setiap hari.

Jika datang ke warung pecel ini, paling tidak dibutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk mengantre. Mbake akan memprioritaskan orang-orang yang datang untuk makan di tempat. Setelah itu, baru dia melayani para pembeli yang memilih untuk membawa pulang berupa bungkusan.

Alasan sederhananya adalah bahwa hampir setiap orang yang datang untuk membawa pulang pecel akan memesan dengan jumlah yang banyak. Tapi hal tersebut tidak akan menjadi masalah besar karena semua bisa diselesaikan dengan cekatan.

Ternyata banyak juga dari para pembeli yang menjadi re-seller terselubung. Pecel dengan untung kurang dari Rp.500,- tersebut dapat kembali dijual dengan harga Rp.3000,- di warung-warung pecel lainnya. Tentu jika bicara soal keadilan, kejadian ini memiliki kemirisan tersendiri. Meskipun sisi lain penjualan terbanyak tetap dipegang oleh pemilik Pecel 2000.

Para pembeli mengaku senang karena makan di Pecel 2000 tidak akan membuat kantong jebol. Porsinya pun pas. Jika ingin menambah, biaya tambahan tidak akan menjadi beban untuk dikeluarkan.

Bagi yang memilih untuk makan di warung, teh hangat manis seharga Rp.1000,- sudah disipakan untuk menuntaskan dahaga. Sebelum pulang, lidah dan perut sudah dimanjakan dengan rasa pecel dan kehangatan teh manis yang berkolaborasi dengan sempurna.

Setelah ditelusuri, beberapa pengunjung yang datang dari luar daerah ternyata mengharapkan dibukanya cabang dari Pecel 2000. Namun sayangnya dari pihak Pecel 2000 memberatkan hal tersebut.

Alasannya tidak bisa dibilang remeh. Rempeyek menjadi salah satu aspek terpenting pada pecel, khususnya Pecel 2000. Sedangkan pembuat rempeyek hanya bisa disanggupi oleh Mbake. Ini terkait dengan tingkat kerenyahan dan kematangan sempurna dari rempeyek itu sendiri.

Berkelindan dengan permintaan yang juga membeludak setiap harinya, maka keputusan pun dibuat agar Pecel 2000 hanya beroperasi pada satu tempat saja. Meskipun begitu, pelanggan tidak pernah sepi berdatangan. Semua selalu berharap mendapatkan satu bahkan lebih porsi dari pecel seharga Rp.2000,- sebagai makanan pembuka di pagi hari.

Entah sampai kapan Pecel 2000 bertahan dengan harga yang sama. Biar bagaimanapun, keluarga Mbake tidak mengindahkan prinsip-prinsip kapitalisme yang lebih banyak bicara soal perbedaan kelas. Prioritas utama adalah harga yang sangat murah untuk menjamin kepuasan pelanggan.