Saat sedang santai siang di teras rumah, tiba-tiba saya dikejutkan suara seorang ibu mengayuh sepeda menawarkan panganan khas Cirebon dalam gerobak, berisi antara lain; kerupuk/opak remek, sejenis kerupuk tapioka yang digoreng dengan pasir yang penyajiannya diremuk hingga hancur dan disiram sambal kacang dengan parutan kelapa. 

Opak keplek; bahannya sama seperti kerupuk remek. Hanya penyajiannya dioseng dengan campuran lada yang menyengat, dan pecel daun semanggi.

Sewaktu saya kecil, saya sudah sering makan beberapa jenis makanan tersebut. Namun setelah saya merantau, saya jadi kangen apalagi dulu cara menjajakannya dipikul menggunakan bakul oleh ibu-ibu penjual berkeliling kampung disajikan dalam bungkus daun pisang. 

Selama ini saya baru menyadari bahwa pecel daun semanggi Cirebon berbeda dengan pecel daun semanggi Surabaya atau pecel pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada bahan baku saus sambal pecelnya. 

Jika bumbu pecel pada umumnya menggunakan bahan baku cabai, gula merah, kacang tanah, kencur, bawang merah, bawang putih dan garam, namun pada pecel Cirebon, selain menggunakan racikan bumbu tersebut minus kencur dan sedikit gula merah kemudian ditambah parutan kelapa sehingga cita rasanya gurih akibat perpaduan kacang tanah dan parutan kelapa juga cenderung asin dan saus sambalnya lebih encer dari saus sambal pecel pada umumnya.

Selain berbeda dari komposisi sambalnya, pecel daun semanggi Cirebon juga lebih sedikit menggunakan sayuran. Sayuran utamanya daun semanggi, nah yang lainnya sebagai pelengkap ada daun bayam, kangkung, pare dan timun, namun tidak ada toge atau kol dan kerupuk puli/kerupuk beras. Satu porsi/ bungkus harganya cukup merakyat, cukup Rp3.000. Murah, bukan?

Saya juga baru menyadari setelah membaca artikel. Ternyata daun semanggi mempunyai nilai gizi yang tinggi.

Semanggi adalah termasuk rumpun paku air (Salviniales) dari marga Marsilea crenata, karena bentuknya yang menyerupai payung tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Akibat bentuk daunnya ini, nama "semanggi" dipakai untuk beberapa jenis tumbuhan dikotil yang bersusunan daun serupa, seperti klover. 

Nama semanggi juga diabadikan oleh Presiden Soekarno untuk salah satu jembatan di pusat Ibu kota Jakarta karena bentuknya mirip seperti empat daun semanggi.

Menurut penelitian para ahli, tumbuhan semanggi air memiliki kadar air sebesar 89,02%, kadar abu sebesar 2,1%, kadar lemak sebesar 0,27%, kadar protein sebesar 4,35%, dan kandungan seratnya sebesar 2,28%.

Sedangkan kandungan mineralnya antara lain, fosfor sebesar 142,8 mg/100 g, kalsium 69,05 mg/100 g, kalium 937,56 mg/100 g, natrium 69,6 mg/100 g, zat besi 108,3 mg/100 g, tembaga 5,19 mg/100 g, dan seng 7,58 mg/100 g. Selain itu, daun semanggi juga mengandung vitamin C semanggi air juga mengandung senyawa fitokimia dan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh.

Lebih lanju, khasiat daun semanggi antara lain; pertama, mengatasi infeksi saluran kencing, terutama infeksi. Kedua, mengobati terlambat datang bulan. Daun ini akan menyeimbangkan hormon dan meredakan stress. Ketiga, anti hipertensi yaitu mencegah timbulnya penyakit hipertensi. Keempat, mencegah lelah dan lesu. 

Kelima, meredakan demam. Keenam, mengobati flu. Ketujuh, anti diare. Kedelapan, mengobati hepatitis. Kandungan alami dalam daun ini bisa dijadikan obat herbal untuk menyembuhkan hepatitis tanpa menimbulkan efek samping. Kesembilan, mengatasi radang tenggorokan. Kesepuluh, melancarkan aliran darah.

Manfaat daun semanggi begitu besar tidak dibarengi dengan pengetahuan dan kegemaran masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi aneka sayuran salah satunya daun semanggi. Kalaupun sekarang sudah ada penjualan secara online baik yang masih segar atau sudah dikeringkan jumlahnya tidak signifikan dengan penduduk Indonesia. 

Daun semanggi masih dianggap gulma bagi tanaman padi yang harus dibasmi. Keberadaan daun semanggi masih dianggap tanaman liar yang tumbuh di pematang sawah, di pinggir saluran irigasi, atau di antara sela-sela tanaman padi membuat daun semanggi belum bernilai ekonomis. Tidak ada petani yang khusus berkecimpung membudidayakan tanaman semanggi, sehingga siapa pun yang berminat tinggal memetiknya.

Melihat tanaman semanggi yang belum banyak dibudidayakan dan tumbuh liar diperlukan pengetahuan cara mengolahnya agar layak dikonsumsi misalnya memperhatikan tempat tumbuh di tempat yang bersih, tidak terkontaminasi pestisida mengingat tanaman semanggi tumbuh disekitar area tanaman padi yang membutuhkan pestisida untuk mematikan hama dan terakhir adalah cara mengolahnya secara benar yaitu dengan mengukus atau merebusnya tidak terlalu lama agar kandungan gizinya terjaga.

Tenyata untuk mendapatkan makanan yang sehat bergizi tidak selalu mahal. Banyak kuliner Indonesia tidak kalah dengan produk luar negeri. Menyukai kuliner tradisional berarti ikut melestarikan budaya Indonesia di tengah gempuran kuliner mancanegara. 

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah bantuan Pemerintah dalam bentuk modal dan promosi agar kuliner daerah terutama yang langka dapat bersaing, di samping itu dari pihak penjual juga perlu ada terobosan dalam kemasan, kebersihan, dan penataannya, semoga kuliner Indonesia berjaya di negeri sendiri.