Politik kita terlalu sengkarut untuk orang-orang muda. Tidak menentu bahkan. Padahal di setiap pemilu, pascareformasi 1998, anak-anak muda selalu dirayu datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hak pilihnya.

Tidak terkecuali hari ini, 21 tahun sesudahnya, tahun 2019. Puluhan hingga ratusan elite politik berkampanye agar anak muda jangan sampai golput: "Tidak boleh apolitis, karena masa depan bangsa ini ada di tangan kalian, masa depan politik kita ada di tangan anak muda," rayunya.

Rayuan ini hadir, salah satunya, disebabkan karena gelombang golput tak pernah surut dan anak muda selalu menjadi tersangka utamanya. 23,40% di tahun 2004, lalu 28,30 % di tahun 2009, dan 29,01% tahun 2014.

Rayuan ini makin mencuat, karena anak muda menawarkan kuantitas. Karena jumlah anak-anak muda yang umurnya 17-35 tahun yang akan menjadi pemilih di Pemilu 2019 ini adalah 40% dari jumlah DPT. Jumlahnya lebih kurang 80 juta orang. Angka yang besar, bukan?

Ya, tentu saja. Sebab pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pun menang di Pilpres 2014 lalu, jumlahnya 71.107.184 suara.

Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah jika sebesar itu potensi suara pemilih muda, lalu apa kontribusi anak-anak muda dalam politik? Penggembirakah? Objek pemilihkah? Atau boleh jadi konseptor? Atau hanya dianggap sebagai odong-odong?

Kita hidup di alam politik yang serbaparadoks. Pada satu sisi, oknum politisi berteriak untuk kemajuan milenial. Pada sisi lainnya, ia justru mendiskreditkan kelompok milenial yang sedang membacakan sikap politiknya.

Tak jarang, bahasa yang sifatnya peyoratif, bermakna merendahkan dan menghina, pun keluar dari mulut politisi terhadap sikap anak-anak muda.

Saya bisa pahami situasi ini. Perbedaan latar belakang pendidikan, situasi zaman, hingga teknologi menjadi pembeda yang sangat kuat. Ada garis demarkasi zaman.

Banyak oknum politisi, memang betul, lahir dari organisasi mahasiswa; menaiki anak tangga kepengurusan tingkat komisariat hingga pusat hanya untuk akses kekuasaan; berusaha menghadapi ketatnya meja redaksi untuk menerbitkan tulisan; berjibaku di jalanan meneriakan kepentingan rakyat. 

Setelahnya, pada konteks yang sedikit elitis, segelintir orang di antaranya mengabdi pada senior dan berharap restu dibukakannya jaringan kekuasaan.

Di generasi sesudahnya, tak lama setelah era itu, di era Internet, blog hingga media sosial secara terbuka membentangkan karpet merah untuk anak-anak muda yang ingin membentuk partai politik dan terjun langsung ke politik praktis. PSI adalah produk pertamanya, partai yang didirikan oleh anak-anak muda yang umurnya di bawah 45 tahun. 

Hampir bisa dipastikan pula, PSI adalah anak kandung dari dunia digitalisasi. Karena partai ini lahir bersamaan dengan Twitter, Facebook, Path, hingga Instagram tumbuh subur dan/atau berjaya di 11 November 2014 lalu hingga hari ini tentunya.

Seorang filsuf Prancis, Michel Foucault (1981), pernah menyebutkan istilah yang amat baik, yaitu parrhesia, yang artinya berbicara bebas dengan apa yang ada di pikiran, tanpa edit, tanpa revisi. Parrhesia adalah tentang seseorang yang bicara kebenaran, dan ini sedang dijalankan oleh anak-anak muda PSI.

Saya mengikuti pemberitaan politik hampir setiap hari, dari buku jurnal, hingga berita-berita media cetak dan online. Saya jamak membaca dan mengartikulasikan sikap PSI melalui ketua umumnya Grace Natalie tentang situasi politik di Indonesia akhir-akhir ini, tentang krisis keragaman dan korupsi yang mewabah di Indonesia.

Grace menyampaikan fakta empirik berbasis data dan hasil penelitian. Tetapi yang mungkin menjadi dilema besar adalah seluruh bahasa Grace dibalas dengan bahasa seksis dan ejekan. Partainya Grace masih dianggap anak bawang.

Tidak ada wacana substansi, pun hampir tidak ada argumen berkualitas mengadili argumen Grace kecuali dilawan dengan bahasa peyoratif, ancaman, dan laporan ke polisi.

Grace adalah seorang parrhesia yang baik, orang yang menyatakan sesuatu yang ia pikirkan dan tidak menyembunyikan apa pun, tetapi membuka hati dan pikiran sepenuhnya melalui wacana. Pada bagian ini, Grace adalah seorang parrhesiastes

Lebih lanjut, orang yang menggunakan parrhesia adalah parrhesiastes sebagaimana seorang Grace, yang mungkin tidak lahir dari rahim gerakan mahasiswa tetapi sedang mengupayakan wacana perbaikan kebijakan politik. 

Atau kader PSI lain, sebut saja Tsamara Amany, Dini Purwono, atau Dara Nasution yang sedang sering kita saksikan menghiasi layar kaca berdebat tentang satu isu politik.

Pun mereka kerap pula mencoba masuk ke wilayah yang mudah dimengerti dan jelas. Bahwa apa yang mereka bicarakan lahir dari kesadarannya masing-masing terkait toleransi dan sikap antikorupsi.

Bilamana retorika memberi perangkat teknis bagi PSI untuk membujuk pikiran para calon pemilih, tentang apa yang mereka sudah kerjakan, tentang sikap-sikap publik nyata dan didukung data empirik yang terpapar jelas, tentu akan lebih bernilai dibandingkan retorika kosong kerakyatan yang diucapkan oknum politisi tetapi masih terjebak dalam korupsi.

Pada titik ini, setidaknya, Grace melalui PSI selalu berusaha mencapai koinsindensi yang presisi, antara kepercayaan dan kebenaran.

Mungkin risikonya tidak mudah. Mereka bisa saja dimusuhi banyak oknum politik. Tetapi tanpa itu, kepercayaan pada politik, keyakinan ideologis masih akan berada di level yang sama, bahkan level terendah.

Karena tanpa memiliki hak untuk melancarkan kritik dan melahirkan konsepsi baru, maka politik kita hanya akan diisi oleh sistem otoritas yang tak terbatas. Kekuasaan seperti itu adalah kekuasaan yang tidak membuka ruang dialog wacana, hanya akan membuat politik kita berjalan pada ruang hampa.