Michel Foucault (1926 – 1984) adalah salah satu pemikir besar Prancis abad ke – 20. Teori – teorinya mengurai antara kekuasaan dan pengetahuan dan bagaimana mereka di gunakan sebagai kontrol sosial melalui institusi –institusi dan kemasyarakatan. Ia menampik pascamodern dan pascastrukturalis yang di sematkan padanya dan lebih suka menyebut dirinya sebagai pemikir sejarah kritis modernitas.

Karya-karyanya berpengaruh besar dalam bidang kajian budaya, sosiologi, Feminisme dan teori kritis. Foucault juga sering disebut “Intelektual Militan” yang giat berdemonstrasi menentang pelanggaran hak-hak asasi manusia. Foucault bisa dibilang murid terbaiknya Fredrich Nietzsche bagi banyak orang. Karena ia menerjamahkan dan melanjutkan gagasan-gagasan Nietzsche secara luar biasa.

Buku ini dengan judul PARRHESIA: Berani Berkata Benar. Diranskrip dan disunting dari rekaman kaset rangkaian enam kuliah Michel Foucault dalam bahasa inggris di Universitas California, Berkley musim gugur 1983, sebagai bagian dari seminarnya, “Wacana dan Kebenaran”

Kata Parrhesia muncul pertama kali dalam kesusastraan Yunani pada karya – karya Euripides (484 – 407 SM) dan kata ini selanjutnya berkembang luas di dunia kesus kesusastraan Yunani antik sejak abad kelima SM. Namun kata ini masih dapat juga ditemukan dalam naskah patristik yang di tulis pada akhir abad keempat dan sepanjang abad kelima Masehi.

Parrhesia umumnya diterjemahkan sebagai “Berbicara Bebas”. Parrhesiazomai atau Parrhesiazesthai adalah pengguna Parrhesia, dan Parrhesiastes adalah orang yang menggunakan Parrhesia, yaitu: seseorang yang berbicara kebenaran.

Dalam Parrhesia pihak pembicara menekankan fakta bahwa ia sekaligus adalah pihak penutur dan pihak penyampai pernyataan bahwa ia sendirilah pihak penyampai pendapat yang menjadi acuan dirinya. Kekhususan “aktivitas berbicara” dalam ucapan Parrhesiatik dengan demikian menegaskan bentuk; “Akulah pihak yang berpikir”  

Ada dua jenis Parrhesia yang mesti kita bedakan. Pertama, terdapat arti peyoratif hingga kata ini tidak terlalu jauh maknanya dari “Ocehan” yakni mengucapkan sembarangan atau segala sesuatu yang terlintas di benak seseorang tanpa klasifikasi. Arti peyoratif ini muncul dalam Planton, misalnya sebagai penanda atas konstitusi demokratis yang buruk tatkala setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pesan kepada sesama warga dan memberitahu mereka apa saja bahkan hal – hal yang paling dungu dan berbahaya berkenaan dengan mayoritas. Ciri kedua dari Parrhesia adalah bahwa selalu terdapat koinsidensi yang presisi, antara kepercayaan dan kebenaran.

Lalu kapan orang dikatakan menerapkan Parrhesia dan layak dianggap sebagai Parrhesiates? Jika terdapat resiko atau bahaya baginya dalam mengungkapkan kebenaran. Dalam buku ini dicontohkan, tatkala seorang filsuf berbicara dihadapan seorang penguasa, dihadapan tirani, lalu menegaskan kepada penguasa bahwa penguasa tidak sejalan lagi dengan keadilan, maka sang filsuf telah bicara benar. Percaya bahwa ia telah berbicara benar dan berani mengambil resiko karena bisa jadi sang penguasa bisa marah lalu mengukum, mengasingkannya atau bisa jadi membunuhnya.

Parrhesia Dalam Krisis Lembaga Demokrasi

Hubungan Parrhesia dan lembaga – lembaga Demokrasi. Secara garis besar masalahnya adalah Demokrasi didirIkan oleh politea, konstitusi dimana disana ada demos, rakyat, menjalankan kekuasaan dan semua orang setara dihadapan hukum. Tapi konstitusi seperti itu dikutuk untuk memberikan tempat setara kepada semua bentuk Parrhesia karena Parrhesia diberikan kepada warga yang paling buruk, pengaruh berlimpah dari pembicara yang buruk, tidak bermoral dan dungu dan dapat membimbing warga kedalam tirani dan membahayakan mayoritas. Karena itu Parrhesia berbahaya bagi demokrasi itu sendiri.

Disini dicontohkan melalui naskah yang ditulis oleh Isokrates pada pertengahan abad ke Empat, dan Isokrates merujuk beberapakali pada gagasan parrhesia dan masalah kebebasan berbicara dalam demokrasi. Pada awal orasinya perihal “perdamaian” ditulis pada 335 SM, Isokrates membandingkan kontras sikap rakyat Athena terhadap nasehat yang mereka terima tentang urusan privat, tatkala mereka berkonsultasi dengan alar yang terdidik dan cara mereka menyikapi nasehat saat berurusan dengan perkara umum dan aktivitas politik:

“…Setiap kali kau meminta nasihat tentang urusan rumah tanggamu, kau mencari penasehat – penasehat yang unggul dalam kecerdasan, tetapi setiap kali engkau berhadapan dengan urusan polis, kau tidak percaya dan tidak suka kalangan yang berwatak dan terpelajar, tetapi sebaliknya memilih oratur yang paling dungu ketimbang kebijaksanaan, dan mereka yang menhamburkan uang rakyat keimbang yang mencurahkan pengabdiaanya pada umum dengan uang mereka sendiri. Dengan demikian kita bisa bertanya baaimana orang dapat mengharapkan polis yang melibatkan penasihat seperti itu bisa mendorong kemajuan segala sesuatu menjadi lebih baik” (Hlm. 89)

Berangkat dari pernyataan di atas bahwa parrhesia dalam demokrasi saat itu perbedaanyaa terletak pada: pembicara yang buruk diterima oleh rakyat, sebatas apa yang ingin didengar oleh rakyat. Oleh karena itu orang – orang seperti itu menurut Isokrates sebagai “penjilat”. Sebaliknya pembicara yang jujur memiliki keberanian dan keberanian untuk menentang demos (rakyat). Ia memiliki peran kritis yang harus dilakukan agar dapat mengubah keinginan warga sehingga mereka akan mengabdikan kepentingan terbaik mereka untuk polis. Pertentangan inilah yang menjadi krtik Isokrates terhada lembaga demokrasi saat itu.

Parrhesia Dalam Perawatan Diri

Parrhesia dalam kehidupan umum ini mengambil contoh terhadap kehidupan para filsuf aliran sinisme. Yaitu Diogenes. Kita tahu Diogenes yang sangat mahsyur dalam sejarah Yunani kuno ini mempunyai gaya hidup yang alami. Mengkritik kehidupan secara implisit yang semakin metrealistik dan keluar dari hakikatnya sebagai manusia. Gagasan kaum sinis adalah bahwa kebenaran seseorang tidak lain kecuali ditentutakan hubungannya dengan kebenaran itu sendiri. Hubungan kebenaran mengambil bentuk atau memberi bentuk dalam hidupnya sendiri.

Paham ini membawa pada parrhesia sinis. Ada tiga macam jenis praktik parrhesiastik yang dimanfaatkan oleh kaum sinis. Pertama, khotbah kritis atau kecaman. Kedua, prilaku skandal, dan yang ketiga, dialog provokatif.

Khotbah kritis kaum sinis biasanya dilakukan di kerumunanan manusia, mereka suka bicara dalam acara – acara teater, keagamaan dan mereka akan berdiri dikrumunan sambil berpidato. Khotbah menjadi bentuk utama dalam penyampaian kebenaran dalam praktik masyarakat dan bahwa kebenaran harus dikabarkan dan dipikirkan tidak hanya untuk para kaum elit tetapi untuk semua orang. 

Parrhesia sinis juga memanfaatkan skandal menerapkan penyatuan dua aturan yang berjauhan satu sama lain. Dalam hal ini dicontohkan aktivitas makan ditempat umum, makan memberikan kepuasan begitu juga dengan manstubasi tetapi kenapa ia tidak mantrubasi mastrubasi ditempat umum padahal kedua aktivitas ini mendapat kepuasan atas tubunya.

Dan yang terakhir kaum sinis menggunakan teknik parrhesiastik “dialog provokatif” dalam hal ini dicontohkan pertemuan yang sangat terkenal antara Alexander The Great dan Diogenes yang mana dalam kisahnya Alexander menawarkan sesuatu, apapun yang kau minta akan ku beri saat ini juga kata Alexander namun apa jawaban dari Diogenes “Stand a little less between me and the sun” (Minggir sedikit, aku hanya butuh sinar matahari) inilah ciri kaum sinis yang alamiah, menyatu dengan alam. Inilah bentuk dialog provokatif antara Diogenes dan Alexander the Great.