Purna sudah masa tahan yang harus dijalani Ahok, Basuki Tjahaja Purnama (BTP). Terhitung 1 tahun 8 bulan 15 hari, ia harus mendekam di penjara Rutan Mako Brimob sebagai konsekuensi kalimatnya dalam mengutip ayat kitab suci dalam sebuah potongan video yang memicu kemarahan banyak orang.

Peristiwa itu, harus diakui, selalu layak dikenang. Karena dampaknya merangsang jutaaan orang berkumpul di Monas lewat aksi 411 dan 212 sebagai wujud protes ucapan Ahok.

Berkali-kali Ahok mengklarifikasi ucapannya itu bahwa tidak punya niat sedikitpun dirinya (Ahok) menyakiti perasaan umat Islam. Tapi karena situasinya saat itu, bersamaan dengan momentum pilkada dan Ahok sebagai calon petahana ikut bertarung di Pilgub DKI Jakarta, membuat permasalahan begitu kompleks dan tak bisa selesai begitu saja.

Lebih lanjut, waktu itu, pada setiap proses persidangan yang dijalani Ahok, ratusan hingga ribuan orang kerap berkumpul untuk menyuarakan agar Ahok segera dipenjarakan. Hingga akhirnya ia diputus bersalah dan dijerat pasal penodaan agama pada 9 Mei 2017, tak lama setelah dirinya dan Djarot Saiful Hidayat kalah melawan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Pilgub DKI putaran ke-2. Lebih lanjut, waktu itu, Ahok divonis 2 tahun penjara.

Baca Juga: Tirakat Ahok

Ahok menerima putusan tersebut. Tidak ada ekspresi berlebihan yang keluar dari wajahnya. Wajahnya tetap tenang, jauh lebih tenang dari gestur wajah masam  para pejabat yang baru divonis penjara karena korupsi.

Tak ada pula pledoi berlebihan dari Ahok kecuali ucapan maaf yang mengulangi bahwa dirinya tak ada niat menistakan agama. Pun hari itu, bagi Ahok, tak masalah dirinya dipenjara asal tidak dianggap menodai agama. 

Di akhir putusan, Ahok membungkukkan punggungnya di depan majelis sidang. Itu sebagai bentuk penghormatan dirinya yang tunduk pada seluruh proses hukum di Indonesia.

Hampir 2 tahun berada di penjara, Ahok berproses untuk menjadi sosok yang lebih baik. Ia terus menguji dirinya sendiri, merefleksikan seluruh perjalanan hidupnya, terkait tindakan, ucapan, tingkah laku, dan pilihan-pilihan yang ia ambil selama ini.

8 (delapan) bulan berada di penjara, Ahok digugat cerai oleh istrinya Veronika Tan karena suatu hal. Spekulasi liar kemudian berkembang bahwa perceraian itu adalah bentuk strategi Ahok untuk menyelamatkan harta karena dugaan kasus korupsi sumber waras menyeruak ke publik dari investigasi BPK.

Analisis liar pun berkembang seperti skenario yang pernah dilakukan oleh mantan PM Thailand, Thaksin Shinawatra yang menceraikan istrinya Ponjaman Shinawatra demi penyelamatan harta, pada 2008 silam. Meski terbukti, nyatanya tak ada skenario penyelamatan harta di perceraian itu, kecuali kehendak Veronika memang yang menggugat cerai Ahok dengan alasan yang lebih pribadi.

Selama di penjara pula, Ahok semakin mematangkan dirinya, merenungi hidupnya seutuhnya, sebagaimana manusia biasa. Rasa takut, galau, cemas, dan gundah gulana tentu muncul. Itu sesuatu yang manusiawi, tapi keseluruhannya tidak lebih besar dari pemahamnya yang semakin mengenali dirinya. 

Ia banyak menghabiskan waktunya untuk berolahraga, bermain musik, membaca dan menulis beberapa buku. Semua proses ia jalani dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya mengikuti sistem hukum Indonesia.

Bahkan berapa hari sebelum hari kebebasannya, Ahok menulis surat yang secara verbatim berisi :

Saya sangat bersyukur kepasa Tuhan bahwa saya diijinkan untuk ditahan di Mako Brimob. Saya bersyukur diijinkan tidak terpilih di Pilkada DKI Jakarta 2017. Jika terpilih mungkin saya akan menjadi seorang laki-laki yang menguasai Balai Kota DKI Jakarta selama lima tahun. 

Namun, ditahan di Rutan Mako Brimob membuat saya bisa belajar menguasai diri saya sendiri. Pun jika waktu bisa diputar dan harus memilih saya lebih memilih ditahan di Rutan Mako Brinob dibandingkan terpilih dalam  Pilkada DKI jakarta. Karena jika terpilih lagi, saya akan semakin arogan dan kasar serta menyakiti hati banyak orang"

Pada jejak Ahok ini kita belajar, ada narasi panjang tentang perjalanan hidup seseorang yang terus menguji dirinya sendiri. Ia tetap tegak berdiri meski seorang diri. Menjadi sosok yang semakin paripurna, pun selalu setia untuk menjadi pembelajar. Belajar untuk terus jadi lebih baik dari diri yang sebelumnya.

Ahok memang bukanlah sosok pejuang layaknya Soekarno, Nelson Mandela, Benazir Bhutto, atau Tan Malaka yang sama-sama dipenjara. Tapi keseluruhan nama di atas makin paripurna setelah keluar dari penjara. Mereka memperbaiki diri melalui proses pembelajaran dalam hidupnya.

Ahok bukanlah Ahok. Kini Ahok adalah BTP. Karena yang dipenjara bukan Tjahaja-nya, kini ia telah kembali.

Sitor Situmorang (1953) pada penggalan puisinya Surat Kertas Hijau bilang:

Mari, dik, tak lama hidup ini. Semusim dan semusim lagi.
Burung pun berpulangan.

Selamat datang kembali, Pak BTP.